Rupiah Melemah ke Level Rp 17.722 Per Dollar AS, Ini Biang Keroknya

Rupiah Melemah ke Level Rp 17.722 Per Dollar AS, Ini Biang Keroknya
Ilustrasi nilai tukar rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah pada transaksi pasar spot ditutup melandai pada perdagangan Senin (24/8/2026). Nilai mata uang garuda mengalami depresiasi sebanyak 28 basis poin atau tergerus 0,16 persen ke posisi Rp 17.722 per dollar Amerika Serikat (AS).

Pergerakan kurs rupiah sejatinya sempat dibuka mengalami penguatan tipis pada Senin pagi ini dengan apresiasi sebesar 0,02 persen menuju level Rp 17.690 per dollar AS. 

Di sisi lain, indeks dollar AS (DXY) yang mengukur keperkasaan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia, hingga pukul 15.00 WIB terpantau merangkak naik 0,17 persen menuju zona 98,969. 

Penguatan DXY tersebut tampak membesar jika dibandingkan dengan pergerakan pagi hari yang hanya terkerek 0,03 persen.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menuturkan bahwa para pelaku pasar memberikan respons negatif menyusul defisit transaksi berjalan Indonesia yang membengkak pada triwulan II/2026 menjadi 12,5 miliar dollar AS atau setara 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Nominal tersebut melonjak tinggi bila dibandingkan dengan defisit triwulan terdahulu yang membukukan 3,6 miliar dollar AS atau 1 persen dari PDB. 

Pembengkakan defisit transaksi berjalan ini dipicu oleh sederet variabel yang diperkirakan hanya berlangsung sementara. Salah satu pemicunya yakni lonjakan impor komoditas minyak yang sejalan dengan tingginya harga minyak mentah internasional.

“Walaupun transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit, kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan tetap terjaga,” ujar Ibrahim, Senin sore ini.

Pada triwulan II/2026, NPI membukukan defisit sebesar 900 juta dollar AS, jauh melandai ketimbang defisit sebesar 9,1 miliar dollar AS pada triwulan I/2026. 

Pemulihan ini disokong oleh transaksi modal dan finansial yang membalikkan posisi menjadi surplus 12 miliar dollar AS, setelah pada triwulan sebelumnya sempat menderita defisit 4,8 miliar dollar AS.

Tak hanya itu, posisi cadangan devisa nasional tergolong masih aman. Pada pengujung Juni 2026, cadangan devisa tercatat menyentuh 145,6 miliar dollar AS. 

Posisi tersebut setara dengan kebutuhan pembiayaan 5,6 bulan impor, atau 5,4 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini berada di atas kriteria kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

Ke depan, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan prospek NPI bakal bertahan baik guna memperkuat ketahanan eksternal nasional. 

Kendati demikian, sejumlah pengamat memperingatkan bahwa pembengkakan defisit transaksi berjalan Indonesia berpotensi berlanjut seiring tingginya harga minyak mentah, kuatnya volume impor minyak, serta melemahnya kinerja ekspor akibat perlambatan ekonomi global.

Eskalasi tekanan tersebut turut dipicu oleh meningkatnya suhu ketegangan politik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta konflik Rusia dan Ukraina di Eropa Timur.

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bakal memublikasikan rangkaian sanksi paling berat yang pernah dibuat terhadap Iran pada Senin. 

Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam artikel opininya di Financial Times, mengungkapkan bahwa “D-Day ekonomi” akan segera menerpa Iran.

Pernyataan Bessent mengemuka setelah jajaran pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, memberikan peringatan akan dilancarkannya perang ekonomi terhadap negara tersebut, di tengah situasi kebuntuan di Selat Hormuz dan area sekitarnya yang belum menunjukkan sinyal peredaan.

Bessent diperkirakan bakal menjabarkan rincian sanksi baru atas Iran pada sesi konferensi pers Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT.

Pihak Iran mengecam keras manuver AS yang hendak mengumumkan sanksi baru tersebut, meski Presiden Masoud Pezeshkian terus mendorong dicapainya solusi diplomatik. 

Mohsen Rezaee, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, mengancam bahwa “tidak akan ada satu tetes minyak pun yang diekspor” melewati Selat Hormuz atau “di mana pun di Teluk Persia” apabila perang ekonomi tersebut terus berlanjut.

Merujuk sumber-sumber perdagangan, penawaran minyak mentah asal Iran kepada para pembeli di Tiongkok dilaporkan kian menyusut dan harganya melonjak akibat blokade AS yang memangkas pengiriman dari Teheran. 

Namun, Iran telah memberikan izin pas lintas bagi sejumlah kapal tanker minyak asal Irak untuk membelah selat tersebut menyusul permohonan berulang dari Baghdad. Hal tersebut dilaporkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Sabtu.

Di lain sisi, aktivitas bisnis pada sektor jasa Amerika Serikat tercatat bergerak solid. Indeks PMI Jasa S&P Global AS pada Agustus berhasil melampaui estimasi 54 dengan menembus level 56,8. 

Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sejak Desember 2024 dan melampaui posisi 54,6 pada bulan sebelumnya.

Namun sebaliknya, PMI Manufaktur melambat dari posisi 53,9 menjadi 53,2, yang menjadi titik terendah dalam kurun lima bulan. 

Di samping itu, kekhawatiran atas lonjakan inflasi akibat naiknya harga energi di tengah panasnya situasi Timur Tengah dinilai dapat memicu potensi kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve (Fed) dalam beberapa bulan mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index