Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.721 per Dolar AS Hari Ini

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.721 per Dolar AS Hari Ini
mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup terdepresiasi pada sesi perdagangan hari ini, Senin (24/8/2026). Kinerja rupiah yang lesu berjalan searah dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga ditutup melemah.

Adapun rupiah mengakhiri perdagangan dengan pelemahan 0,15% ke posisi Rp17.721 per dolar AS.

Bukan cuma rupiah, tekanan mata uang turut melanda baht Thailand yang menyusut 0,01%, ringgit Malaysia terkikis 0,10%, yuan China tergerus 0,03%, serta rupee India yang melorot 0,02%. 

Selain itu, tren penurunan juga dialami dolar Taiwan sebesar 0,04%, dolar Singapura 0,08%, dan yen Jepang 0,16%. Secara berlawanan, pergerakan positif ditorehkan dolar Hong Kong yang terangkat 0,04% dan won Korea yang menguat 0,10%.

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menerangkan bahwa penguatan indeks dolar AS pada sesi perdagangan hari ini didorong oleh beberapa faktor pendukung. Salah satunya terkait manuver AS yang dilaporkan bakal menjatuhkan sanksi bagi Iran. 

Pernyataan dari pejabat AS itu mengemuka seusai Donald Trump melontarkan peringatan mengenai potensi perang ekonomi terhadap Iran, terutama di tengah situasi kebuntuan Selat Hormuz dan area sekitarnya yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di samping itu, dinamika aktivitas bisnis sektor jasa di AS terbilang kokoh. Indeks PMI Jasa S&P Global AS untuk periode Agustus mampu melampaui proyeksi di angka 54 dengan mencatatkan 56,8, yang menjadi posisi tertinggi sejak Desember 2024 serta melampaui capaian bulan sebelumnya sebesar 54,6.

Di sisi lain, kekhawatiran melesatnya inflasi imbas harga energi di tengah eskalasi yang terjadi di Iran dinilai bisa memicu peluang kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (Fed) dalam beberapa bulan mendatang.

Dari ranah domestik, pergerakan pasar memberi respons negatif usai defisit transaksi berjalan Indonesia membengkak cukup dalam pada triwulan II 2026 menjadi US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% dari produk domestik bruto (PDB). 

Pembengkakan defisit transaksi berjalan tersebut diperkirakan dipicu oleh beberapa dinamika yang bersifat sementara. Salah satunya adalah melonjaknya Impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia.

Ibrahim turut menyoroti perolehan data triwulan II 2026, yang mana NPI mencatatkan defisit US$ 900 juta, jauh membaik ketimbang defisit US$ 9,1 miliar pada triwulan I 2026. 

Perbaikan tersebut disokong oleh transaksi modal dan finansial yang berbalik membukukan surplus US$ 12 miliar, setelah pada triwulan sebelumnya sempat tertekan defisit US$ 4,8 miliar.

“Para analis memperingatkan bahwa kesenjangan transaksi berjalan indonesia ini, mungkin akan terus berlanjut seiring dengan tetap tingginya harga minyak mentah, volume impor minyak yang tetap kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan terus meningkatnya ketegangan Politik di timur tengah antara AS,Israel dan Iran serta Rusia dan Ukraina di eropa timur,” ungkapnya dalam rilis resminya, Senin (24/8/2026).

Adapun pada sesi perdagangan esok hari, mata uang rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif namun berpotensi tetap ditutup melemah pada kisaran Rp17.720—Rp17.770 per dolar AS.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index