Rupiah Melemah ke Rp17.744 per Dolar AS Tertekan Demonstrasi

Rupiah Melemah ke Rp17.744 per Dolar AS Tertekan Demonstrasi
uang pecahan dolar AS dan rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah berakhir terpuruk berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (27/8/2026). Melonjaknya indeks dolar AS serta mencuatnya gelombang aksi demonstrasi berskala besar menjadi faktor pendorong utama yang memberatkan gerak rupiah pada hari ini.

Merujuk pada data analisis Doo Financial Futures, nilai mata uang Garuda ini mengakhiri sesi di level Rp17.744 per dolar AS, terkoreksi 19 poin atau setara 0,11% bila dibandingkan penutupan sebelumnya.

Kondisi tertekan pada mata uang rupiah ini juga selaras dengan nasib sejumlah mata uang di kawasan Asia. Peso Filipina mengalami penurunan paling tajam mencapai 0,34%, disusul rupee India yang terkikis 0,13%, serta rupiah di angka 0,11%. 

Sementara itu, pelemahan yang cenderung tipis terhadap mata uang AS dialami oleh yen Jepang dengan depresiasi 0,03%.

Sebaliknya, dolar Taiwan memimpin jajaran mata uang Asia yang sukses menguat di hadapan dolar AS dengan kenaikan 0,40%, yang kemudian diikuti oleh won Korea Selatan sebesar 0,36%. 

Tren penguatan disulut pula oleh dolar Singapura sebesar 0,10%, yuan China sebesar 0,03%, baht Thailand 0,02%, hingga dolar Hong Kong sebesar 0,01% terhadap greenback.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai bahwa mata uang Indonesia bakal bergerak di bawah bayang-bayang tekanan sepanjang sesi transaksi hari ini lantaran dipicu penguatan dolar AS. 

Tren tersebut didorong oleh serangkaian indikator ekonomi AS yang menunjukkan tingkat ketahanan jauh melebihi estimasi awal pasar.

Laporan teranyar memperlihatkan angka pesanan barang tahan lama AS periode Juli 2026 tumbuh hingga 1,1%, melampaui perkiraan sebesar 0,5%. 

Pada saat bersamaan, tingkat inflasi PCE berada pada level tinggi di angka 3,7% secara tahunan (yoy), sedangkan inflasi inti PCE bertahan stabil di angka 3,3%.

Melihat faktor internal, ia menerangkan bahwa sentimen pemulihan rupiah masih cenderung rapuh. 

Gejolak aksi demonstrasi besar yang terjadi di Jakarta pada Kamis (27/8/2026) menyedot perhatian investor lantaran dinilai sanggup memicu ketidakpastian serta mendorong para pelaku pasar mengambil posisi yang lebih defensif.

"Perhatian investor selanjutnya akan beralih ke pidato perdana Ketua The Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Pernyataan Warsh menjadi penting karena pasar mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed menjelang pertemuan September. Dengan kombinasi penguatan dolar AS, sentimen domestik yang masih rapuh, serta penantian pidato Warsh, rupiah diperkirakan bergerak volatil. Rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp17.700–Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan berikutnya Jumat (28/8/2026)."

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index