JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memaparkan sederet program prioritas Satuan Tugas (Satgas) Protein Kadin guna memperkokoh ekosistem pasokan protein nasional dalam menyokong penerapan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pertama adalah hilirisasi untuk produk-produk hasil pertanian dan peternakan yang berkaitan dengan protein. Kedua, desentralisasi ayam petelur. Ketiga, pengembangan kawasan sapi perah di Indonesia. Keempat, digitalisasi sistem dari hulu sampai dengan hilir,” ujar Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Peternakan Kadin Indonesia sekaligus Ketua Satgas Protein Cecep Muhammad Wahyudin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Menurut Cecep, deretan program tersebut diproyeksikan mampu meletakkan fondasi ekosistem protein yang semakin terpadu sekaligus menyerap partisipasi masyarakat serta dunia usaha di pelosok daerah.
Diberitahukan pula, pihaknya bersama WKU Bidang Pertanian Kadin Indonesia yang juga menjabat Wakil Ketua Hubungan Kerja Sama Internal Satgas Protein Devi Erna Rachmawati menguraikan rancangan program tersebut kala beraudiensi dengan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Kantor Kementerian Pertanian RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Forum tatap muka itu mendiskusikan berbagai agenda krusial seputar penguatan ekosistem pasokan protein nasional, utamanya demi mencukupi suplai program MBG.
Dalam pertemuan tersebut, Kadin Indonesia turut menyodorkan sejumlah opsi kemitraan konkret yang bisa langsung dieksekusi bersama Kementerian Pertanian RI.
Salah satunya menyasar optimalisasi alokasi 3 persen Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk alat dan mesin pertanian (Alsintan) bagi kelompok atau ekosistem usaha pendukung rantai pasok protein.
“Kami mengajukan 3 persen KUR Alsintan itu untuk klasternya dimasukkan. Karena ini akan melibatkan masyarakat, itu menjadi bagian daripada satu ekosistem supply chain,” jelas Cecep.
Di samping itu, Kadin Indonesia memacu percepatan ekspansi wilayah sapi perah di Tanah Air.
Demi menyukseskan program ini, Kadin berharap pihak regulator dapat menyalurkan kemudahan izin impor serta keterjangkauan akses pendanaan lewat skema kredit yang fleksibel dan bertenor panjang.
Kadin Indonesia juga memandang kehadiran penjamin pembeli (off-taker) yang pasti menjadi faktor krusial dalam menciptakan ekosistem protein yang berkesinambungan.
Kadin berharap Kementerian Pertanian dapat menjalin sinergi bersama Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai salah satu pembeli siaga terbesar pada ekosistem MBG.
“Kami ingin ada off-taker yang terjamin. Harapannya Kementan bisa membuka wacana untuk kolaborasi dengan BGN sebagai off-taker yang hari ini paling besar,” ujarnya.