JAKARTA — Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada dalam tekanan menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada transaksi Jumat (28/8/2026), dengan perkiraan bergerak pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memaparkan bahwa pergerakan mata uang rupiah hari ini berpeluang dipengaruhi oleh penguatan dolar AS menyusul deretan indikator ekonomi Amerika Serikat yang mencatatkan performa lebih tangguh dari perkiraan awal.
Dukungan sentimen dari pasar global itu mengemuka seusai data ekonomi AS menunjukkan pemesanan barang tahan lama pada Juli 2026 tumbuh 1,1%.
Angka realisasi tersebut melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya berada di level 0,5%.
Pada waktu yang sama, tekanan inflasi AS masih menyita perhatian.
Inflasi personal consumption expenditures (PCE) tercatat berada di level 3,7% secara tahunan, sedangkan inflasi inti PCE bertahan pada posisi 3,3%.
Di kawasan Asia, laju mata uang pada sesi perdagangan Kamis (27/8/2026) bergerak variatif.
Peso Filipina menjadi mata uang yang mengalami pangkasan terbesar terhadap dolar AS, yakni mencapai 0,34%.
Rupee India selanjutnya tergerus 0,13%, disusul rupiah yang terkikis 0,11% dan yen Jepang sebesar 0,03%.
Sebaliknya, dolar Taiwan mencatatkan lonjakan paling tinggi mencapai 0,40%, mengekor won Korea Selatan yang terangkat 0,36%.
Dolar Singapura naik 0,10%, sedangkan yuan China, baht Thailand, serta dolar Hong Kong masing-masing bertambah 0,03%, 0,02%, dan 0,01%.
Secara spesifik, mengacu pada data Doo Financial Futures, rupiah pada transaksi Kamis (27/8/2026) ditutup melemah 19 poin atau 0,11% ke posisi Rp17.744 per dolar AS.
Lukman mengidentifikasi bahwa dinamika sentimen dari dalam negeri turut menjadi elemen penting yang patut diantisipasi oleh para investor.
Gelombang aksi demonstrasi berskala besar yang terjadi di Jakarta pada Kamis (27/8/2026) berpeluang memperbesar ketidakpastian sehingga pelaku pasar cenderung mengambil sikap lebih berhati-hati.
"Perhatian investor selanjutnya akan beralih ke pidato perdana Ketua The Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Pernyataan Warsh menjadi penting karena pasar mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed menjelang pertemuan September. Dengan kombinasi penguatan dolar AS, sentimen domestik yang masih rapuh, serta penantian pidato Warsh, rupiah diperkirakan bergerak volatil. Rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp17.700–Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Jumat (28/8/2026)."
09:07 WIB Rupiah dibuka menguat
Rupiah mengawali perdagangan dengan menguat 0,08% atau 15 poin menuju posisi Rp17.729 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Pada momen bersamaan, indeks dolar AS terlihat melemah tipis 0,01% ke level 99,15.
12:21 WIB Rupiah menguat 32 poin
Laju rupiah melonjak 0,18% atau 32 poin ke kisaran Rp17.712 per dolar AS pada pukul 12.22 WIB. Di saat yang sama, indeks dolar AS terpantau menguat 0,04% menuju level 99,20.
15:12 WIB Rupiah ditutup menguat ke Rp17.693
Mata uang rupiah mengakhiri perdagangan dengan terkerek 0,29% atau 51 poin ke angka Rp17.693 per dolar AS pada pukul 15.10 WIB. Pada saat bersamaan, indeks dolar AS tercatat naik tipis 0,01% menuju posisi 99,16.