PLTA Koto Panjang Tanam Aren Jaga Biodiversitas & Tekan Sedimentasi

PLTA Koto Panjang Tanam Aren Jaga Biodiversitas & Tekan Sedimentasi
Perjalanan menuju tempat penanaman pohon aren oleh oleh Rimba Satwa Foundation (RSF) [FOTO: NET].

JAKARTA— Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang tak sebatas berfungsi sebagai penyuplai energi listrik. Area ini pun menjadi ruang hidup bagi aneka spesies ikan, satwa, hingga ragam vegetasi yang tumbuh di lingkungan ekosistem bendungan.

Di tengah persoalan sedimentasi serta tekanan terhadap lingkungan, aksi penanaman aren mulai digulirkan sebagai langkah awal restorasi vegetasi. 

Agenda ini menjadi batu pijakan awal dari eksekusi Biodiversity Safeguard, sebuah formula pendekatan demi mengintegrasikan nilai keanekaragaman hayati ke dalam tata kelola infrastruktur ketenagalistrikan.

Penanaman dilaksanakan merujuk pada hasil riset biodiversitas darat (terestrial) dan perairan (akuatik) di bentang alam Koto Panjang. Salah satu titik yang diprioritaskan terletak di zonasi yang relatif dekat dengan fisik bendungan dan dianggap membutuhkan pemulihan tutupan hijau.

Project Leader Program Biodiversity Safeguard PLTA Koto Panjang, Git Fernando, mengutarakan bahwa penentuan lokasi penanaman berpatokan pada temuan kajian teoretis mengenai kondisi ekosistem di sekeliling waduk.

“Penanaman sekarang ini adalah hasil kajian bagian terestrial dan akuatik. Salah satu yang menjadi prioritas adalah titik ini karena merupakan salah satu titik yang terdekat dengan bendungan,” kata Git, Sabtu (29/8/2026).

Menurut penjelasannya, laju sedimentasi merupakan salah satu aspek yang mesti diantisipasi secara cermat dalam pengelolaan Waduk PLTA Koto Panjang. Penghijauan vegetasi diharapkan mampu menjadi ikhtiar dalam mengukuhkan fungsi ekologis kawasan sekaligus memicu keterlibatan pemangku kepentingan.

“Kita tahu sedimentasi termasuk tinggi di PLTA Koto Panjang. Kami berharap dengan permulaan penanaman ini, stakeholder lainnya ikut andil juga karena PLTA Koto Panjang berperan penting untuk masa depan kita,” ujarnya.

Agenda penanaman ini merupakan perwujudan rekomendasi Biodiversity Safeguard dan diproyeksikan berlangsung dalam tiga tahap. Fase mula dieksekusi pada zonasi yang dapat segera ditangani, sebelum perlahan diperluas ke titik lain menyesuaikan kebutuhan serta hasil riset.

Spesies vegetasi yang ditanam turut diselaraskan dengan fungsi ekologi dan daya dukung lingkungan. Pada zonasi daratan, rekomendasi kajian mencakup tanaman aren, meranti rawa, serta deretan pohon asli yang tumbuh di bentang alam Koto Panjang. 

Sementara pada zonasi perairan, tanaman yang disarankan antara lain cambang dan melati air demi menyediakan ruang perlindungan dan sumber pakan bagi habitat ikan.

Aren dipilih sebagai salah satu tanaman prioritas lantaran memiliki nilai ekologis sekaligus potensi ekonomi. Perakarannya diproyeksikan sanggup menahan laju sedimentasi, sedangkan keberadaannya di tepi perairan sanggup menjadi tempat berteduh bagi ikan.

“Kalau aren ini untuk terestrial berfungsi untuk menahan laju sedimentasi. Kemudian untuk akuatik bisa memberikan perlindungan dan naungan ikan, sementara bagi masyarakat juga bisa memberikan manfaat ekonomi,” kata Git.

Ia menggarisbawahi, pencapaian awal program tak sekadar diukur dari banyaknya jumlah bibit yang ditanam. Rimba Satwa Foundation (RSF) turut menginisiasi hadirnya kolaborasi multipihak untuk menjaga kawasan Waduk PLTA Koto Panjang.

Bentang alam Koto Panjang menyimpan kekayaan nilai biodiversitas. Kawasan ini menjadi ruang hidup berbagai satwa, termasuk lutung kokah yang merupakan primata endemik Sumatra berstatus dilindungi. 

Satwa lain beserta burung migran juga kerap dijumpai, bahkan tim peneliti sempat menemukan jejak harimau di lanskap tersebut.

“Kalau satwanya masih banyak dan tumbuhan yang dilindungi masih ada, artinya biodiversitas di kawasan tersebut masih bagus. Karena itu, kawasan ini harus dijaga,” ujar Git.

Memetakan Kondisi Ekosistem

Riset biodiversitas membagi lanskap Koto Panjang ke dalam 18 grid pengamatan. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak seluruh zona berada dalam kondisi kritis, sehingga tindakan restorasi dapat diprioritaskan pada lokasi tertentu.

Program Biodiversity Safeguard ini merupakan proyek percontohan yang digagas Rimba Satwa Foundation bersama WWF Indonesia dengan dukungan Uni Eropa serta kolaborasi PT PLN (Persero).

 Rangkaiannya diawali dari pemetaan baseline biodiversitas guna mengidentifikasi nilai konservasi dan memetakan risiko tekanan lingkungan.

Dari segi perairan, survei mencatat keragaman tinggi dengan sedikitnya 47 spesies ikan, di mana 92% di antaranya merupakan spesies asli Indonesia. Ikan kapiat (Barbonymus schwanenfeldii) menjadi salah satu jenis paling dominan. 

Tim survei juga menemukan ikan belida (Notopterus notopterus) yang dilindungi, serta spesies berstatus rentan (Vulnerable) seperti baung, lelan kopu, dan klari.

PLN Mulai dari Area yang Terjangkau

Perwakilan PLN Nusantara Power Unit Layanan PLTA Koto Panjang, Yauma A., menuturkan penanaman aren merupakan aksi nyata yang dapat segera dieksekusi.

“Kami pilih grid yang cukup kritis. Mudah-mudahan ini bisa menjadi percontohan untuk kegiatan selanjutnya,” katanya.

Ia menilai aren sangat bermanfaat bagi ekosistem waduk. PLN mengawali langkah restorasi dari grid yang lebih mudah dijangkau di sekitar bendungan, sementara kawasan yang lebih jauh dan kritis bakal ditangani secara bertahap.

Pengawasan tanaman pun memerlukan keterlibatan warga. “Kami juga akan berkoordinasi dengan instansi terkait yang mempunyai program beririsan. Harapannya program ini bisa dijalankan bersama dan pengawasannya lebih kuat,” ujarnya.

Hutan Adat dan Peran Masyarakat

Perlindungan ekosistem juga melibatkan pemerintah desa dan pemangku adat. Kepala Desa Pulau Gadang, Syofian (Dt. Majosati), mengutarakan komitmennya dalam menjaga hutan ulayat seluas sekitar 23.000 hektare di Kenagarian Pulau Gadang melalui pembentukan peraturan desa dan satuan tugas.

“Kami punya dua fungsi besar. Pertama menjaga kehidupan flora dan fauna di hutan ulayat, kemudian menjaga ekosistem Danau PLTA Koto Panjang,” kata Syofian.

Pergeseran pola hidup masyarakat yang mulai meninggalkan perladangan berpindah turut menekan potensi kerusakan hutan. Aturan ketat terkait larangan penebangan liar dan perburuan satwa terus diterapkan.

Guna menunjang ekonomi tanpa merusak alam, warga didorong menerapkan sistem tumpang sari, salah satunya dengan membudidayakan aren di bantaran danau.

“Kami sudah mulai menanam di pinggir danau. Selain menjaga ekosistem, juga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Syofian menegaskan bahwa pemeliharaan kawasan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antarsektor agar terhindar dari ego sektoral, termasuk rencana pembentukan posko lingkungan serta pelaporan terhadap aktivitas ilegal seperti tambang emas liar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index