JAKARTA - Mengenai adanya selisih data miliknya dengan data perkembangan kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipaparkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan seluruh pihak berpedoman pada sistem pengawasan Sipongi milik Kemenhut.
"Data yang kita pakai, antara BNPB, BMKG, dan Kementerian Kehutanan pasti ini (menunjuk layar), Sipongi tadi yang saya lihat," kata Raja Juli di kantornya, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Raja Juli memastikan setiap kementerian/lembaga lain pun berpatokan pada data Sipongi.
Ia lantas memperlihatkan data Sipongi per 31 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB. Ia menegaskan data di dalam Sipongi bersifat real time serta dapat diakses oleh masyarakat luas.
"Ini bisa diakses teman-teman media juga ya, ini bisa akses ini. Ini bukan ditutup-tutupi, ya. Real time," tegasnya.
Apabila memang terdapat perbedaan data dengan kementerian/lembaga lain, menurutnya, kemungkinan dipicu faktor teknis waktu penarikan data.
"Mungkin perbedaannya adalah data yang disampaikan itu kapan, ya," ujar dia.
Dicermati dari data Sipongi per 31 Agustus pukul 23.59 WIB yang ditunjukkan Raja Juli, sebaran titik hotspot karhutla tampak naik turun.
Pada 25-29 Agustus, hotspot karhutla di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sempat merangkak naik. Namun, hotspot karhutla pada kedua provinsi tersebut mencatatkan penurunan pada 30-31 Agustus.
Per 31 Agustus terpantau masih tersisa 272 hotspot karhutla di Kalimantan Barat dan 253 hotspot di Kalimantan Tengah. Di Sumatera Selatan, hotspot pada 25-27 Agustus sempat melandai lalu melonjak kembali. Angka hotspot mulai bergerak turun sejak 27-31 Agustus.
"Ini pengalaman sekaligus saya reviu semacam kemarin di Sumatera Selatan, saya baru ke Sumatera Selatan, hotspot-nya ada 37 tapi ketika dicek firespot-nya ternyata hanya 11," ucapnya.
Selanjutnya, hotspot di Kalimantan Selatan juga bergerak fluktuatif. Pada 25-28 Agustus mengalami penyusutan hingga menempati angka 16. Akan tetapi, jumlah hotspot pada 29 Agustus melonjak jadi 108 titik. Namun pada 30-31 Agustus kembali mencatatkan penurunan menjadi 22 titik.
"Dua provinsi yang paling bawah yaitu Riau dan Jambi itu hotspot-nya sudah nol. Alhamdulillah dan bahkan Riau sudah dua hari terakhir, Riau ya warna biru, Riau (tanggal) 30-31 sudah nol dua hari hotspot-nya," ujar dia.
Apa itu Sipongi?
Sipongi merupakan penamaan bagi Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, julukannya diserap dari nama latin orangutan yaitu Pongo sp.
Sipongi adalah platform resmi milik Kementerian Kehutanan yang menyajikan peta persebaran hotspot di seluruh wilayah Indonesia secara berkala. Data hotspot di Sipongi diperbarui saban hari.
Soal hotspot: Menhut sebut turun, BNPB naik
Sebelumnya diwartakan, Menhut Raja Juli menyebutkan kecenderungan titik panas atau hotspot karhutla secara nasional mulai melandai. Meski demikian, ia menegaskan bahwasanya kondisi karhutla belum dapat dikategorikan aman dan upaya penanganan mesti terus dijalankan.
“Secara nasional saya ingin laporkan kepada masyarakat Indonesia, sekali lagi kondisi kita belum aman dari karhutla, namun tren secara nasional juga menurun membaik,” kata Raja Juli Antoni usai rapat di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (31/8/2026), dikutip dari keterangannya.
Sementara itu, pada hari yang sama, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan membeberkan, titik api akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bertambah terus.
"Di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, maupun Kalimantan Selatan, jumlah titik panas itu relatif bertambah. Di Kalimantan Barat signifikan bertambahnya, di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah relatif menurun," kata Berton, dalam konferensi pers secara daring, Senin (31/8/2026).
Berton menerangkan, melonjaknya titik api di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan mengakibatkan jarak pandang terbatas menjadi 1-2 kilometer saja.
"Kalau kita perhatikan data dari titik api, di ketiga provinsi ini, kita temukan adanya kenaikan titik api dan jarak pandang pun kurang lebih 1 sampai 2 kilometer," ujar dia.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT