Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.744 per Dolar AS pada 1 September

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.744 per Dolar AS pada 1 September
mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Selasa (1/9/2026) dengan penurunan sebesar 22 poin menuju posisi Rp17.744 per dolar AS. Pergerakan mata uang garuda ini tertekan oleh paduan sentimen dari ranah global maupun dalam negeri.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menguraikan bahwa dari aspek sentimen mancanegara, para pelaku pasar keuangan saat ini tengah memantau dinamika eksalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

"Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran menyusul terjadinya saling serang secara langsung untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir pada hari Minggu. Hal ini meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat beralih menjadi kebuntuan ekonomi," kata Ibrahim, Selasa (1/9/2026).

Di luar isu geopolitik, pasar turut mencermati arah kebijakan suku bunga acuan The Fed. Ibrahim menyebutkan bahwa pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam Simposium Jackson Hole mengindikasikan sikap tegas (hawkish), yang kembali menyulut proyeksi bahwa bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga paling cepat pada September. 

Kebijakan ini dinilainya berpeluang memicu penguatan drastis pada kurs dolar AS serta imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka pendek.

"Pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, naik dari sekitar 38% sebelum pidato Warsh," kata dia.

Adapun dari ranah domestik, para pelaku pasar keuangan tengah memperhitungkan rilis sejumlah indikator ekonomi. 

Indonesia membukukan tingkat inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month to month) pada Agustus 2026, berbalik dari kondisi deflasi 0,14 persen pada Juli 2026. Laju inflasi tahunan (year on year) pada Agustus 2026 berada pada angka 3,19 persen.

Di samping itu, kinerja neraca perdagangan nasional kembali mencatatkan surplus senilai US$120 juta pada Juli 2026, setelah sebelumnya sempat mengalami defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026. 

Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 tercatat mencapai US$26,22 miliar atau tumbuh 6,05 persen bila dibandingkan dengan periode Juli 2025 (YoY).

Mempertimbangkan jajaran sentimen yang membayangi pasar tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih berisiko melemah pada sesi perdagangan esok hari, Rabu (2/9).

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.740 sampai Rp17.790 per dolar AS," tandasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index