JAKARTA — Perempuan sering kali menjalani berbagai peran dalam keseharian, baik sebagai ibu, pasangan, pekerja maupun elemen dari lingkungan sosial. Di tengah kesibukan tersebut, terdapat satu aspek yang tak kalah esensial untuk terus dimiliki, yakni ruang bagi diri pribadi guna berkembang serta membangun rasa percaya diri.
Poin tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia Veronica Tan saat menghadiri ajang Ionation ke-7 di Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, pada Sabtu (29/8/2026).
Menurut Veronica, kaum perempuan mempunyai hak untuk menentukan diri mereka sendiri, termasuk memiliki ruang dalam berekspresi serta menumbuhkan rasa percaya diri.
“Saya selalu katakan perempuan itu sebenarnya yang paling penting buat dia adalah dia berhak atas diri dia sendiri. Dia juga berhak untuk percaya diri, jadi dia juga berhak untuk berekspresi dan ini ada ruangnya. Marilah kami berkolaborasi karena saat ini bukan lagi bekerja sendiri,” jelasnya.
Ajang Ionation 2026 sendiri merupakan festival workout serta wellness yang menghadirkan 23 macam kelas workout, meliputi yoga, cycling, Pilates, sampai kelas khusus ibu hamil, serta Fitness Race yang menggabungkan lari dan functional workout.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Amanda Manopo, Jennifer Bachdim, serta Marketing Director PT Amerta Indah Otsuka Puspita Winawati.
Ruang untuk Menemukan Kepercayaan Diri
Bagi Veronica, ruang yang mempertemukan para perempuan bukan sekadar menjadi tempat untuk menjalankan aktivitas bersama. Apabila kaum perempuan mempunyai kesempatan untuk berkumpul serta saling menguatkan, kemampuan yang melekat pada diri mereka pun dapat tampak lebih nyata.
“Bukan bicara soal kesetaraan gender, tapi yang sebenarnya kami bicarakan adalah keadilan. Jadi, ruang ini sebenarnya memberikan kepada para perempuan juga, dan juga atas persamaan,” ungkapnya.
Artinya apa? Kami bicara soal kompetensi. Jadi, selama ini mungkin banyak hal yang mungkin perempuan itu ketika mereka berkumpul, bersama punya ruang, dan mereka bisa saling menguatkan, kompetensi mereka (akan) keluar, rasa percaya diri mereka keluar,” imbuh Veronica.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa rasa percaya diri tidak hanya bersinggungan dengan cara seseorang memandang dirinya pribadi. Lingkungan yang menyediakan kesempatan berinteraksi, mencoba hal-hal baru, serta menunjukkan kapabilitas turut menjadi bagian dari proses tersebut.
Veronica menuturkan bahwa kaum perempuan secara mendasar hanya perlu memperoleh ruang serta eksistensi agar mampu mengekspresikan diri secara positif.
“Hanya perlu diberikan ruang kepada perempuan eksistensi kepada mereka, untuk mereka bisa mengekspresikan diri,” tuturnya.
Peran Suami dan Istri Perlu Saling Menguatkan
Ruang bagi kaum perempuan pun tidak terpisahkan dari lingkungan terdekat, khususnya keluarga. Veronica menyinggung signifikansinya pembagian tugas serta partisipasi seorang ayah dalam lingkup keluarga ketika membahas bentuk dukungan terhadap perempuan pasca melahirkan.
“Nah, baru kami bicara soal bagaimana pembagian pada keluarga, partisipasi ayah, tadi saya juga nanya Amanda, apakah ketika melahirkan, partisipasi bapaknya dimana? Nah, ini bukan bicara kami bukan bicara siapa dan siapa,” terangnya.
Berdasarkan pandangannya, sokongan keluarga sangat diperlukan supaya perempuan tetap mempunyai peluang mengembangkan diri serta menampilkan kompetensinya. Hal itu bukan berarti menomorduakan tanggung jawab di dalam keluarga, melainkan merancang pembagian peran agar berjalan beriringan.
“Tapi bagaimana kami bertanggung jawab dan kemudian mengekspos dan memberikan ruang itu pada perempuan, sehingga kompetensi mereka kelihatan. Rasa percaya diri, mereka punya ruang untuk mereka berkarya juga,” kata Veronica.
Ia lantas menggarisbawahi pentingnya sikap saling menghormati batasan peran di dalam relasi suami dan istri. Melalui cara tersebut, keluarga sanggup menjelma menjadi wadah penyedia sistem dukungan manakala perempuan berniat meluangkan waktu, kesempatan, maupun ruang untuk bertumbuh.
“Dan tentu dibarengi, jika punya keluarga antara suami dan istri ini yang saling menghargai border nya masing-masing. Ruang inilah yang bisa memberikan rasa support system itu untuk kami bersama-sama. Bahwa kami mempunyai hak yang sama,” pungkas Veronica.
Pada akhirnya, kepemilikan ruang bagi diri sendiri tidak bermakna memisahkan diri dari peran yang sedang dijalani. Bagi perempuan yang mengemban banyak tanggung jawab, ruang tersebut justru dapat menjadi momentum untuk mengenali kembali potensi diri, mengasah kemampuan, serta memupuk kepercayaan diri dengan sokongan dari lingkungan sekitarnya.