Strategi Transformasi Dorong Kinerja Positif BRI

Strategi Transformasi Dorong Kinerja Positif BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). (Foto: NET)

JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berhasil mencatatkan rapor kinerja yang positif hingga penutupan Triwulan II 2026. Keberhasilan tersebut ditopang oleh ekspansi pembiayaan, penguatan lini usaha berbasis ekosistem, serta perbaikan kualitas aset di tengah dinamika sektor perbankan.

Secara konsolidasian, BRI mengantongi laba bersih senilai Rp31,2 triliun sampai akhir Triwulan II 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 17,5% secara tahunan (year on year/yoy) apabila dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya.

Pencapaian laba tersebut didorong oleh ekspansi bisnis yang solid. Hingga penghujung Juni 2026, total aset BRI menyentuh Rp2.352 triliun atau mengalami pertumbuhan 11,7% yoy. 

Lonjakan aset ini utamanya bersumber dari penyaluran kredit dan pembiayaan yang terkerek naik 16,2% yoy hingga mencapai Rp1.646 triliun. Ekspansi pembiayaan itu turut diiringi perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7% yoy.

Seiring meningkatnya penyaluran pembiayaan, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BRI turut mendaki 9,9% yoy ke level Rp80,5 triliun dari sebelumnya Rp33,3 triliun. Sementara itu, Pre-Provision Operating Profit (PPOP) ikut menanjak 12,8% yoy menjadi Rp65,7 triliun.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengutarakan bahwa perseroan tidak sekadar mengejar target pertumbuhan bisnis semata, melainkan turut memastikan ekspansi tersebut ditopang oleh fundamental yang kian sehat.

“Yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” ujar Hery dalam konferensi pers, Senin (31/8/2026).

Kredit UMKM Tetap Jadi Mesin Utama

Di tengah langkah diversifikasi usaha yang terus berjalan, sektor UMKM konsisten menjadi fondasi utama portofolio kredit BRI. Hingga akhir Triwulan II 2026, pembiayaan pada segmen UMKM menembus angka Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6% yoy, yang merepresentasikan 75,1% dari total keseluruhan portofolio pembiayaan BRI Group.

Hery memaparkan bahwa diversifikasi bisnis sama sekali tidak menggeser komitmen utama BRI sebagai bank yang berpihak pada ekonomi kerakyatan. Selain UMKM, perseroan juga memperkuat segmen konsumer, small-medium-commercial, korporasi, serta merintis sumber-sumber pertumbuhan baru.

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Hery.

Transformasi Jadi Strategi Pertumbuhan

Guna mempertahankan momentum positif, BRI menerapkan strategi transformasi bertajuk BRIVolution Reignite. Langkah strategis ini mencakup penguatan lini bisnis inti sekaligus membangun sumber pendapatan baru. 

Pada aspek pendanaan, BRI mengoptimalkan basis dana murah lewat pendekatan berbasis ekosistem, memanfaatkan kanal digital seperti BRImo, QRIS, hingga Agen BRILink, serta memperkuat klaster bisnis, integrasi rantai pasok, dan Solusi Satu BRI.

Di segmen mikro, BRI melakukan penyempurnaan alur kerja, penguatan kompetensi tenaga pemasar atau mantri, serta penerapan manajemen risiko yang lebih mendalam demi menjaga pertumbuhan kredit tetap seimbang dengan kualitas aset. 

Di samping itu, perseroan juga mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui akuisisi rantai nilai, perbaikan mutu produk, penargetan nasabah berkualitas, serta perluasan layanan bank emas (bullion bank).

Kualitas Kredit Semakin Sehat

Ekspansi pembiayaan yang agresif ini berjalan selaras dengan perbaikan kualitas aset perseroan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berhasil ditekan turun dari 3,0% pada Triwulan II 2025 menjadi 2,9% di Triwulan II 2026. Di sisi lain, Cost of Credit (CoC) ikut membaik dari 3,4% menjadi 3,1%.

Penguatan fundamental tersebut turut mendongkrak tingkat profitabilitas. Tercatat rasio Return on Asset (ROA) BRI berada di kisaran 2,7%, sementara Return on Equity (ROE) mengalami lonjakan dari 16,6% ke level 18,8% dalam periode yang sebanding.

Salurkan KUR Rp103,8 Triliun

Di luar ekspansi pembiayaan reguler, BRI aktif memperluas akses modal bagi masyarakat lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR). 

Sepanjang Januari sampai Juni 2026, penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp103,8 triliun yang menjangkau lebih dari 2 juta debitur. Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, total penyaluran KUR BRI bahkan telah menyentuh Rp1.539 triliun bagi 48,4 juta nasabah.

Tidak hanya menyalurkan pembiayaan, BRI juga menggalakkan program pemberdayaan UMKM secara komprehensif. 

Hingga Juni 2026, inisiatif Desa BRILiaN telah merangkul lebih dari 5.700 desa binaan, program Klasterku Hidupku mendampingi lebih dari 44 ribu klaster usaha, serta platform digital LinkUMKM telah memfasilitasi sekitar 17,3 juta pelaku usaha.

Hery menegaskan bahwa aspek pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan strategi utuh untuk menghadirkan pertumbuhan yang berkesinambungan.

“Pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas,” pungkas Hery.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index