JAKARTA — Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa penentuan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, senantiasa merujuk pada pergerakan harga pasar minyak global.
Skema ini berbeda dari penetapan harga BBM subsidi maupun penugasan yang regulasinya berada di bawah kendali penuh pemerintah.
"Kalau untuk Pertamax itu kan prinsipnya sesuai dengan harga pasar," ujarnya saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Menurut Yuliot, PT Pertamina (Persero) selaku BUMN di bidang energi memegang sederet variabel kalkulasi dasar dalam merumuskan harga BBM nonsubsidi.
Di antaranya mencakup pertimbangan harga rata-rata, Biaya Pokok Penjualan (BPP), serta perolehan margin.
"Dari Pertamina itu kan kami lihat harga rata-rata, dari harga rata-rata ya kira-kira berapa BPP dari Pertamina sendiri, ya kemudian ada margin," ucap Yuliot.
Penjelasan tersebut dipaparkan Yuliot tatkala dimintai tanggapan mengenai tarif Pertamax yang belum mengalami penyesuaian, di tengah tren lonjakan harga sejumlah jenis BBM nonsubsidi lainnya dalam dua hari terakhir.
Terhitung mulai 1 September 2026, harga Pertamax Turbo terangkat menjadi Rp 19.600 per liter dari nilai awal Rp 18.300 per liter.
Selanjutnya, Pertamina Dex melonjak ke level Rp 25.200 per liter dari harga sebelumnya Rp 21.150 per liter. Adapun Dexlite bergeser menjadi Rp 23.700 per liter dari semula Rp 19.700 per liter.
Pertamax Green 95 pun menyusul naik per 2 September 2026 menjadi sebesar Rp 19.150 per liter dari posisi terdahulu Rp 16.600 per liter.
Sementara itu, banderol Pertamax saat ini terpantau masih tertahan di angka Rp 15.950 per liter.
Pihak Pertamina sebelumnya menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi menimbang bermacam indikator, salah satunya yaitu pergerakan harga minyak mentah dunia.
Pergerakan harga minyak internasional memang mencatatkan tren kenaikan menyusul belum redanya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Menukil data Bloomberg, harga minyak mentah jenis Brent pada hari ini, Rabu (2/9/2026), berada pada posisi 95,63 dollar AS per barel, menguat dibanding angka penutupan sesi sebelumnya di tingkat 94,65 dollar AS per barel.