NARASIINDONESIA.ID — Astri Wulandari, seorang ibu di Yogyakarta, mengaku merogoh kocek dalam untuk pendidikan anaknya yang kini duduk di kelas I sekolah dasar swasta favorit. Nominal pendaftarannya mencapai Rp 17 juta.
Menurut Astri, angka tersebut masih wajar dibandingkan biaya sekolah swasta lain di Yogyakarta yang justru lebih mahal. Ia sempat melakukan survei ke sejumlah sekolah sebelum menentukan pilihan.
2. Rela Antre Subuh demi Kursus Anak
Fenomena orang tua berebut kursi bimbel Exist di Jalan Gayam bukan tanpa alasan. Banyak orang tua menargetkan anaknya masuk SMA negeri favorit lewat jalur prestasi, sehingga bimbingan belajar dianggap sebagai investasi jangka panjang.
Astri menyebut fenomena ini sebagai pertanda baik. Baginya, orang tua di Yogya memiliki sudut pandang luas tentang tanggung jawab pendidikan anak, mulai dari memilih sekolah hingga les pendukung minat.
3. Biaya Masuk PAUD Rp 6 Juta dan SD Rp 9 Juta
Kumoro, orang tua lain, bercerita soal pengalamannya menyekolahkan anak di yayasan swasta sejak PAUD. Biaya masuk PAUD saat itu Rp 6 juta, lanjut ke TK Rp 7 juta, dan untuk memastikan kuota SD anaknya, ia harus membayar Rp 9 juta.
“Kalau telat bisa nggak dapat,” katanya. Demi memenuhi kebutuhan pendidikan ini, Kumoro mengaku selektif dalam pengeluaran. Belanja pakaian hanya saat perlu, dan kendaraan atau gawai tak diganti selama masih layak pakai.
4. Les Coding Sampai Drum demi Cita-cita Anak
Wicaksono Pribadi memilih pendekatan berbeda. Anaknya yang duduk di kelas 9 SMP telah mengikuti berbagai les sejak kecil, mulai dari coding, grafis, animasi, drum, hingga Bahasa Inggris.
Biaya yang dikeluarkan tak sedikit. Untuk coding, ia menghabiskan sekitar Rp 3 juta per semester, animasi Rp 2,5 juta per tiga bulan, dan drum Rp 1,5 juta per dua bulan.
Semua usaha itu diarahkan pada cita-cita sang anak untuk masuk jurusan animasi di ISI Yogyakarta. “Ya semoga. Namanya untuk anak berusaha yang terbaik,” ujarnya.