Erupsi Anak Krakatau: 3,3 Juta Lansia Berisiko Terdampak Abu Vulkanik

Erupsi Anak Krakatau: 3,3 Juta Lansia Berisiko Terdampak Abu Vulkanik
Kepala Perum LKBN Antara Provinsi Banten Bayu Kuncahyo membagikan masker [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan total populasi lansia yang berisiko menghadapi ancaman kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mencapai sekitar 3,3 juta jiwa, yang memperlihatkan tingginya beban kesehatan yang perlu diantisipasi.

"Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit. Bila bercampur dengan air, abu dapat mengeras seperti semen sehingga salah cara membersihkan justru menambah risiko," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Untuk kalangan lansia, terangnya, paparan abu vulkanik mampu memicu beragam gangguan kesehatan. Masalah pernapasan berupa ISPA, sesak napas, hingga eksaserbasi asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) kerap dialami. Risiko kardiovaskular pun melonjak seiring kenaikan tekanan darah serta potensi serangan jantung atau stroke.

Partikel halusnya sanggup masuk jauh ke dalam saluran pernapasan, memicu peradangan, dan memperparah penyakit kronis. Hal tersebut berbeda dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih didominasi kandungan karbon, gas beracun, serta partikel organik.

Abu vulkanik mengakibatkan iritasi fisik dalam waktu singkat, sedangkan asap karhutla memberikan dampak jangka panjang dan kronis bagi kesehatan organ pernapasan serta kardiovaskular.

"Mata menjadi perih, berair, dan mudah teriritasi, sementara kulit mengalami gatal dan peradangan. Tidak jarang lansia juga mengalami kebingungan atau penurunan konsentrasi akibat paparan berkepanjangan. Trauma evakuasi mendadak dan isolasi sosial menambah beban psikologis berupa stres dan depresi," katanya.

Erupsi Anak Gunung Krakatau senantiasa menjadi ancaman kesehatan yang nyata, utamanya bagi kelompok usia lanjut.

Catatan sejarah menunjukkan gunung ini beberapa kali meletus dalam rentang dua dekade terakhir, termasuk peristiwa besar tahun 2018 yang memicu tsunami Selat Sunda, hingga letusan September 2026 yang menyebarkan abu sampai Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat.

Tiap kali terjadi letusan, dampak kesehatan warga tak dapat dihindari, dan kelompok lansia menjadi pihak yang paling rentan.

Imran menegaskan tindakan mitigasi wajib dijalankan secara menyeluruh. Warga perlu mengenakan masker N95 atau KN95 beserta kacamata pelindung, menutup celah hunian supaya abu tak masuk, dan membersihkan abu dengan membasahinya terlebih dahulu.

Pihak keluarga dan pendamping (caregiver) harus menjamin ketersediaan obat rutin lansia, memantau kemunculan tanda bahaya, serta memberikan dukungan psikososial. Fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak wajib menyiagakan oksigen konsentrator, persediaan obat ISPA, salep kulit, obat tetes mata, hingga menyiagakan tenaga medis untuk evakuasi darurat.

Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa pembersihan abu vulkanik di area rumah harus dikerjakan secara cermat dan hati-hati supaya tidak menimbulkan gangguan kesehatan.

Abu vulkanik mengandung materi silika tajam serta bersifat asam, sehingga kekeliruan dalam penanganan dapat merusak lantai, kaca, kendaraan, sekaligus mengancam organ paru-paru.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index