Renstra TNI AL 2025-2045 Fokus pada Kekuatan Perang Bawah Air

Renstra TNI AL 2025-2045 Fokus pada Kekuatan Perang Bawah Air
Renstra TNI AL 2025-2045 Fokus pada Kekuatan Perang Bawah Air [FOTO: NET].

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menerangkan sejumlah skema rencana strategis TNI Angkatan Laut (AL) periode 2025-2045 yang menitikberatkan pada kesiapan peperangan bawah air.

"TNI Angkatan Laut telah menyusun kebijakan perencanaan strategis dengan substansi pembinaan kemampuan peperangan dan pembangunan kekuatan bawah air dalam dokumen Perencanaan TNI Angkatan Laut Tahun 2025 sampai dengan 2045," kata Ali di Auditorium Jos Soedarso Seskoal, Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam agenda seminar bertajuk "Integrated Maritime Surveillance System For Indonesia: Penguatan Pengendalian Ruang Maritim Atas dan Bawah Air Dalam Mendukung Politik Pertahahan Negara Menghadapi Dinamika Geopolitik Global", yang diselenggarakan berkolaborasi dengan Paguyuban Hiu Kencana.

Agenda strategis TNI AL tersebut diselaraskan dengan panduan kebijakan umum pertahanan negara, yang memprioritaskan peningkatan kapabilitas tempur bawah air, sistem pengamatan terpadu C6ISR, pengoperasian armada tanpa awak, pemetaan kedalaman laut, evakuasi kapal selam, hingga efisiensi interoperability.

C6ISR sendiri merupakan kerangka sistem pertahanan serta keamanan terintegrasi yang mencakup komando, kendali, komunikasi, komputer, pertahanan siber, sistem tempur, intelijen, pengamatan, dan pengintaian.

Ali menjelaskan, wujud nyata dari strategi ini diimplementasikan melalui penambahan unit kapal selam modern, helikopter anti-kapal selam (AKS), serta percepatan armada kapal selam otonom tanpa awak (KSOT) guna memperkuat daya tempur (force multiplier).

Di samping itu, TNI AL merancang jaringan pengawasan terpadu memakai fixed seabed sonar dan hydrophone array yang terintegrasi secara langsung dengan radar pesisir, satelit, hingga Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

Ali menambahkan, TNI AL turut berkomitmen memperkuat kemandirian sektor industri pertahanan dalam negeri dengan mendorong PT PAL agar mampu memproduksi dan melakukan alih teknologi secara menyeluruh.

"Termasuk melalui skema kerja sama dengan mitra strategis seperti Scorpene, dan potensi kemitraan dengan Thales serta mitra global lainnya," ungkapnya.

Selanjutnya, Ali memastikan proses modernisasi pada kapal selam berawak akan terus berjalan beriringan dengan efisiensi biaya operasional.

Penguasaan teknologi bawah laut juga menjadi fokus utama dalam upaya mendongkrak kapabilitas pertahanan. 

Hal ini mencakup penerapan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi serta mengklasifikasi target, pemanfaatan baterai lithium demi memperpanjang jarak tempuh dan ketahanan mode senyap (stealth endurance), penggunaan sensor mutakhir, hingga pengembangan sistem otonom bawah air yang dikolaborasikan lewat riset bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, serta lembaga penelitian lainnya.

KSAL menggarisbawahi bahwa seluruh alur modernisasi dan penguatan alutsista maritim tersebut bakal tetap mengedepankan pendekatan diplomasi demi menjaga stabilitas kawasan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index