JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai membidik teknologi pembasahan gambut sebagai salah satu pilihan guna memperkokoh mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), utamanya dalam menghadapi potensi El Nino pada 2027 mendatang.
Ketua Harian Unsur Pengarah BNPB Brigjen Pol (Purn) Ary Laksmana Widjaja menuturkan bahwa teknologi Sambonesia—peranti pemadaman kebakaran gambut buatan tim penanggulangan karhutla APP Group—memiliki peluang untuk diadaptasi serta diterapkan di daerah lain.
Menurut Ary, sistem ini tak sekadar memadamkan jilatan api di permukaan, melainkan sanggup menyuntikkan air hingga ke lapisan dalam tanah gambut yang berisiko masih menyimpan bara.
“Penanganan menggunakan Sambonesia sudah sangat bagus. Kami coba adopsi untuk diterapkan di tempat lain. Sambonesia bagus untuk lahan terbakar karena selain menyemprotkan air ke permukaan, terdapat injeksi yang masuk ke gambut sehingga lapisan bawahnya ikut dibasahi,” ujar Ary di Palembang, dikutip Jumat (11/9/2026).
Ary menerangkan, teknologi pembasahan gambut ini pun dapat diposisikan sebagai langkah antisipasi sebelum kebakaran makin meluas. Di wilayah yang tergolong rawan, memelihara tingkat kelembapan gambut dipandang amat krusial guna menekan risiko merambatnya api di bawah permukaan.
Ary menilai rekam jejak penanganan karhutla sepanjang 2026 wajib dijadikan bahan evaluasi demi mematangkan kesiapsiagaan menghadapi tahun berikutnya. Terlebih lagi, BNPB memproyeksikan tantangan yang dihadapi bakal makin berat sewaktu El Nino berulang.
“Sekarang saatnya kami belajar untuk mitigasi kebencanaan, terutama karhutla. Pertarungannya ada di tahun 2027 saat El Nino tiba, jadi persiapannya harus dilakukan dari sekarang. Bagaimana mencegah dan memadamkan api, apalagi kami sudah mendapatkan komplain dari mancanegara,” katanya.
Ary menyebutkan terdapat enam provinsi yang menjadi fokus utama dalam pengendalian karhutla, yakni Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
Menurut Ary, taktik penanggulangan tidak boleh sekadar mengandalkan tindakan pemadaman sewaktu titik api sudah timbul. Langkah pencegahan, deteksi dini, tanggap darurat, hingga penanganan usai bencana mesti dijalankan secara terpadu.
“Alhamdulillah, di lapangan saya melihat komponen Pentahelix sudah ada. Perusahaan menunjukkan effort untuk ikut membantu melakukan pencegahan dan pemadaman,” ujarnya.
Hal tersebut diutarakan Ary seusai meninjau deretan daerah rawan karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pada 29 Agustus 2026.
Dalam agenda peninjauan itu, Ary menyaksikan langsung proses penanganan karhutla yang mengintegrasikan pemerintah daerah, TNI/Polri, Manggala Agni, elemen masyarakat, hingga sektor usaha. Sejumlah titik yang menjadi perhatian meliputi Cengal, Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, serta Air Sugihan.
Ary turut menyoroti krusialnya kontribusi perusahaan dalam mengantisipasi kebakaran di luar area konsesi yang berbatasan langsung dengan kawasan operasional mereka. Sebab, kebakaran di luar area konsesi tetap berisiko membahayakan tanaman industri apabila kobaran api menjalar.
“Di Kabupaten OKI, saya tidak melihat adanya upaya APP melakukan pembakaran hutan, namun sebaliknya saya menemukan adanya keseriusan APP Group dalam ikut menanggulangi permasalahan karhutla. Karena perusahaan tentunya akan menderita kerugian yang cukup besar jika terjadi kebakaran lahan di wilayah konsesinya. Dan juga ada kekhawatiran jika terjadi kebakaran di lahan luar yang berbatasan dengan wilayah konsesi, karena bisa menjadi asal api yang membakar tanaman industri yang ada di konsesi, seperti yang diduga selama ini," pungkasnya.