Kilang Cilacap Sumbang 31 Persen Kapasitas Nasional, Pasok BBM-Avtur

Kilang Cilacap Sumbang 31 Persen Kapasitas Nasional, Pasok BBM-Avtur
Pertamina Uji Coba Green Diesel di Kilang Cilacap [FOTO: NET].

JAKARTA - Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, menyumbang sekitar 31 persen dari total kapasitas kilang minyak di Indonesia. Besarnya kapasitas tersebut menjadikan Kilang Cilacap sebagai salah satu fasilitas strategis Pertamina untuk menopang kebutuhan energi nasional.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro menyampaikan, kapasitas Kilang Cilacap mencapai sekitar 31 persen dari total kapasitas kilang nasional.

"Sebagian besar dari kami sedang mengetahui bahwa RU IV Cilacap itu memenuhi stok nasional yang kapasitas sekitarnya 31 persen dari seluruh total kilang yang ada di Indonesia," ujarnya di sela Temu Media Nasional Pertamina Media Xpose Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).

Kilang Cilacap telah beroperasi sejak 1976. Fasilitas tersebut terus dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dan memperluas jenis produk yang dihasilkan.

Salah satu pengembangan dilakukan melalui debottlenecking pada Kilang 1 dan Kilang 2 pada 1997. Kapasitas FOC 1 meningkat dari 100 MBSD menjadi 118 MBSD, sedangkan FOC 2 naik dari 200 MBSD menjadi 230 MBSD.

Kilang Cilacap juga mengembangkan fasilitas LPG dan Sulfur Recovery Unit (SRU) pada 2003. Pengembangan berlanjut dengan pembangunan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) pada 2015.

Pada 2019, Kilang Cilacap mengembangkan PLBC untuk unit NHT, LPG Treat, PL1, dan CCU. Sementara pada 2021, dibangun Reforming DHT T1 untuk mendukung pengembangan green refinery.

Saat ini, produk Kilang Cilacap didominasi bahan bakar minyak (BBM) dengan porsi 41 persen dari total produksi. Produk lainnya terdiri atas bahan bakar khusus (BBK) sebesar 19,6 persen dan produk aviasi sebesar 13,7 persen.

Sekitar 9 hingga 9,4 persen produksi berupa LPG dan produk petrokimia, 13 persen black product, 2,5 persen lube base oil, serta 0,8 persen produk lainnya. Produk tersebut antara lain Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, solar, avtur, paraxylene, benzene, LPG, propylene, lube oil, dan aspal.

Untuk bahan baku, Kilang 1 mayoritas menggunakan Arabian Light Crude. Sementara Kilang 2 menggunakan campuran minyak mentah lokal dan impor.

"Jadi berbagai macam crude lokal yang dicampur sesuai dengan hasil dari Linear Programming ini untuk menghasilkan produk-produk yang menguntungkan buat kilang, tetapi juga dibutuhkan oleh masyarakat," ujar Hermawan.

Ke depan, pengembangan Kilang Cilacap diarahkan untuk mendukung kemandirian energi nasional. Salah satunya dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor produk energi.

"Kami diharapkan bisa mandiri ke depannya, mengurangi kebutuhan impor dari luar, sehingga kami betul-betul mandiri dan bisa menghemat devisa," kata dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index