JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwasanya cuaca ekstrem El Nino turut memberikan dampak terhadap operasional di sektor energi.
Bahlil menerangkan, suhu panas yang melonjak menjadi salah satu pemicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini sempat mengancam operasional beberapa fasilitas kilang di kawasan Indonesia Timur.
Bahlil menyebutkan, potensi gangguan tersebut salah satunya hampir mengenai area tangki BP Tangguh LNG yang berlokasi di Teluk Bintuni, Papua Barat.
"Kemarin kami di beberapa fasilitas kilang kami yang ada di wilayah Timur itu Alhamdulillah bisa diatasi. Terutama di BP ya, di Tangguh, itu kebakaran dari hutan gambut itu hampir mendekati pusat-pusat tangki-tangki yang ada di sana," ungkap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026).
Meskipun demikian, Bahlil menegaskan bahwa kementeriannya bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) telah menjalankan langkah mitigasi, sehingga ancaman tersebut berhasil ditanggulangi.
"Tapi Alhamdulillah semuanya bisa teratasi dengan baik," ujar Bahlil.
Rentetan bencana alam dan cuaca ekstrem yang melanda wilayah Indonesia belakangan ini berdampak langsung pada sektor energi.
Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) meminta pemerintah memperkokoh ketahanan infrastruktur serta rantai pasok energi nasional demi mengantisipasi potensi hambatan akibat bencana, cuaca ekstrem, dan perubahan iklim.
Ketua Umum Aspebindo Anggawira menyatakan, pemerintah perlu memasukkan aspek ketahanan bencana dan perubahan iklim secara lebih mendalam ke dalam perencanaan infrastruktur energi nasional.
Menurutnya, potensi risiko pasokan energi tidak hanya bersumber dari gempa bumi, erupsi gunung api, atau karhutla, melainkan juga dari dinamika hidrologis, cuaca ekstrem, dan pergeseran pola musim.
"Kami tidak cukup hanya memastikan cadangan dan produksi tersedia, negara juga harus memastikan energi tersebut dapat bergerak dari sumbernya hingga ke konsumen dalam berbagai kondisi, termasuk ketika terjadi bencana dan cuaca ekstrem," terang Anggawira kepada Bisnis, Rabu (9/9/2026).
Anggawira menyoroti salah satu poin krusial, yakni ketergantungan rantai pasok pada infrastruktur tertentu. Ia mencontohkan penyusutan debit air sungai di Kalimantan Timur yang mulai menghambat pergerakan tongkang pengangkut batu bara.
Situasi tersebut membuktikan bahwa gangguan pada rantai logistik tetap bisa terjadi kendati aktivitas penambangan berjalan normal.
"Tambang mungkin tetap dapat berproduksi, tetapi ketika tongkang tidak dapat berlayar karena sungai surut, jalan hauling terganggu akibat banjir atau longsor, atau aktivitas pelabuhan mengalami pembatasan akibat cuaca ekstrem, maka batu bara atau komoditas energi tersebut tidak dapat sampai kepada konsumen sesuai jadwal," urainya.
Oleh karena itu, Anggawira menyarankan agar pemerintah melakukan pemetaan infrastruktur energi kritis (critical energy infrastructure) serta titik-titik rawan pada rantai pasok nasional.
Pemetaan ini penting untuk mengidentifikasi jalur distribusi yang terlalu bergantung pada satu jenis moda transportasi, sehingga pemerintah bisa merancang penguatan infrastruktur atau menyiapkan rute alternatif.
Selain analisis risiko, Aspebindo juga mendorong percepatan pembangunan dan diversifikasi infrastruktur logistik energi.
Anggawira menilai kasus surutnya air sungai di Kalimantan harus menjadi pelajaran bahwa ketergantungan pada transportasi sungai menyimpan risiko tinggi bagi kelangsungan pasokan energi.
"Alternatif jalur darat, fasilitas stockpile, terminal serta moda logistik lainnya perlu disiapkan secara bertahap," tegasnya.
Ia pun meminta pemerintah merumuskan mekanisme koordinasi beserta protokol kedaruratan yang lebih tegas saat ancaman alam mulai membahayakan pasokan energi nasional.