IHSG Dibuka Anjlok 1,03 Persen, 420 Saham Terjerat di Zona Merah

IHSG Dibuka Anjlok 1,03 Persen, 420 Saham Terjerat di Zona Merah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung merosot pada pembukaan transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (11/9/2026). Merujuk data BEI via RTI Business, laju IHSG terkikis 1,03 persen menuju area 6.521,49 pada pukul 09.02 WIB. 

Penurunan IHSG hari ini memperpanjang tren tekanan dari sesi sebelumnya saat indeks berada di posisi 6.589,34.

Tekanan jual terjadi secara merata di pasar modal domestik. Pada awal sesi, sebanyak 420 saham melemah, 103 saham menguat, serta 149 saham lainnya bergerak stagnan.

Seluruh indeks sektoral turut terjerat di zona merah. Koreksi paling dalam melanda sektor transportasi, disusul sektor barang baku, barang konsumer non-primer, infrastruktur, perindustrian, barang konsumer primer, properti dan real estate, hingga sektor kesehatan.

Pada menit-menit awal perdagangan, volume transaksi saham di BEI membukukan 2,53 miliar saham dengan akumulasi nilai transaksi sebesar Rp 1,13 triliun.

Indeks saham kompak melemah

Gelombang tekanan tidak cuma menguji IHSG. Deretan indeks acuan utama di BEI ikut bergerak melandai pada transaksi Jumat pagi. Indeks LQ45 melemah 1,57 persen menuju 645,69. Di saat bersamaan, indeks Jakarta Islamic Index (JII) merosot 1,60 persen ke posisi 394,31. 

Indeks KOMPAS100 tergerus 1,66 persen menjadi 851,99. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencatatkan penurunan paling tajam di jajaran tersebut, yakni meluncur 2,05 persen ke level 225,49.

Berikutnya, IDX30 menyusut 1,50 persen ke area 359,32 dan JII70 melemah 1,71 persen menuju level 153,75.

Pada jajaran emiten LQ45, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi salah satu aset yang jatuh paling dalam, yaitu merosot 3,02 persen ke Rp 2.250 per saham. 

Penurunan berikutnya melanda saham PT ESSA Industries Tbk (ESSA) sebesar 2,94 persen ke Rp 660 per saham dan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terkikis 1,89 persen menuju Rp 520 per saham.

Kendati demikian, beberapa saham terpantau masih sanggup bergerak positif. Saham PT Medco Energi Indonesia Tbk (MEDC) melaju 3,82 persen ke harga Rp 1.630 per saham. 

Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) terangkat 1,44 persen ke Rp 26.475 per saham, sementara saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menguat 0,68 persen menjadi Rp 7.375 per saham.

Bursa Asia ikut tertekan

Koreksi IHSG berlangsung searah dengan gelombang tekanan yang membayangi mayoritas bursa saham Asia. Pada perdagangan pagi, indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 2,72 persen. KOSPI Korea Selatan melorot 2,34 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong tergerus 1,18 persen.

 Indeks Shanghai Composite China melandai 1,69 persen dan S&P/ASX 200 Australia merosot 1,30 persen. The Asia Dow turut menghijaukan zona merah lewat penurunan 1,04 persen.

Dinamika global ikut menyita perhatian pemodal seiring lonjakan harga minyak mentah yang kembali menembus posisi di atas 100 dollar AS per barrel. Pergerakan harga minyak tersebut memicu kekhawatiran inflasi imbas eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

 Situasi ini turut mendongkrak yield obligasi pemerintah AS sekaligus menekan harga aset berisiko, termasuk pasar saham Asia.

Para investor juga mengamati data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) beserta arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Ketidakpastian tersebut mempertebal sikap hati-hati para pelaku bursa dan membebani pergerakan saham domestik.

Rupiah ikut melemah

Terkikisnya bursa saham terjadi sejalan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Berdasarkan data Stockbit, rupiah mengawali transaksi di level Rp 17.584,10 per dollar AS, terdepresiasi dari penutupan sebelumnya pada Rp 17.530 per dollar AS. Dengan demikian, nilai tukar rupiah melemah 54,10 poin atau 0,31 persen pada awal perdagangan.

Arah pergerakan rupiah dan bursa saham nasional selanjutnya bakal dipengaruhi oleh dinamika sentimen global, terutama tren harga minyak dunia, lonjakan yield obligasi AS, hingga rilis data ekonomi AS yang menjadi perhatian utama investor.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index