Pemerintah Targetkan Nilai Tukar Nelayan Naik Jadi 120 pada 2027

Pemerintah Targetkan Nilai Tukar Nelayan Naik Jadi 120 pada 2027
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah mematok target Nilai Tukar Nelayan (NTN) melonjak menjadi 120 pada tahun mendatang. Penetapan sasaran tersebut merupakan salah satu ikhtiar pemerintah guna mengerek derajat kesejahteraan nelayan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengutarakan, rerata nelayan di Indonesia saat ini berada pada kelompok desil 1 dengan kisaran NTN di angka 103.

Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwasanya nelayan masih tergolong sebagai salah satu strata masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.

"Nelayan kita itu termasuk desil 1, nilai tukarnya 103. Jadi yang paling miskin itu nelayan. Kalau nelayan kita lemah, akhirnya nelayan kita tidak bisa menguasai lautan," kata Zulkifli Hasan di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Zulhas, sapaan karibnya, memaparkan bahwa pemerintah kini menempatkan sektor kelautan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

Ia membeberkan, kawasan lautan RI sebagian besar dikuasai oleh nelayan asing asal Thailand, Vietnam, dan China dengan estimasi kerugian akibat pencurian ikan mencapai lebih dari Rp 200 triliun setiap tahunnya.

"Lautan kita dikuasai oleh nelayan-nelayan kuat, nelayan-nelayan dari asing. Asing itu, ya, dari Thailand, Vietnam, dari Tiongkok. Menurut Menteri Kelautan, ikan kita itu rata-rata per tahun dicuri Rp 200 triliun lebih," ujarnya.

Ia menilai peningkatkan kesejahteraan nelayan teramat krusial supaya warga pesisir memiliki kapabilitas yang lebih tangguh dalam mengelola kekayaan laut Indonesia.

Demi mendongkrak kesejahteraan nelayan, pemerintah akan mengakselerasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih.

Zulhas menuturkan, pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 kampung nelayan hingga tahun 2029.

Menurutnya, salah satu kendala yang membikin nelayan kesulitan mengatrol penghasilan adalah minimnya sarana penunjang usai mereka memperoleh hasil tangkapan.

"Ya, kalau nelayan kita kenapa miskin? Karena dia tidak kurang dukungan. Kalau dia melaut, dapat ikan, ikannya kalau nggak dijual busuk. Ya, akhirnya murah-murah ikannya dijual," ucapnya.

Lantaran hal tersebut, Kampung Nelayan Merah Putih bakal disokong pelbagai sarana penunjang, mulai dari balai lelang, akses dermaga kapal, cold storage, bengkel, pabrik es, hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).

Pemerintah turut mendirikan koperasi nelayan guna memperluas akses penyerapan serta pemasaran hasil tangkapan.

"Dan dibangun Kampung Nelayan Merah Putih, koperasi Nelayan Merah Putih, agar nanti akses pasar terbuka luas dengan seluruh Indonesia," tegasnya.

Di samping program kampung nelayan, pemerintah juga akan mengembangkan budi daya ikan tematik pada 40.000 titik lokasi. Program tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah memacu produktivitas sektor perikanan sekaligus menciptakan opsi sumber pendapatan baru bagi warga.

Pemerintah pun mempercepat pemulihan tambak di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa yang saat ini mangkrak dan tidak lagi produktif.

Zulhas mengungkapkan, dari sasaran pemulihan tambak seluas 20.000 hektar, saat ini baru kisaran 6.000 hektar yang dinyatakan siap.

"Tambak-tambak yang sudah ada tidak produktif lagi, terbengkalai, ini akan direvitalisasi. Tadinya 20.000, tapi yang siap baru 6.000, ini masalah tanah yang sedang kita selesaikan," jelasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index