Bluecore Energy Kumpulkan USD 50 Juta untuk PLTN Apung di Atas Tongkang

Bluecore Energy Kumpulkan USD 50 Juta untuk PLTN Apung di Atas Tongkang

NARASIINDONESIA.ID — Bluecore Energy mengantongi pendanaan awal USD 50 juta untuk membangun reaktor nuklir modular yang beroperasi di atas tongkang apung. Pendekatan ini menawarkan jalan pintas dari pembangunan pembangkit listrik darat yang memakan waktu bertahun-tahun. Perusahaan asal Long Beach, California, itu menargetkan Pelabuhan Long Beach sebagai lokasi pertama, dengan pusat data AI sebagai calon pelanggan berikutnya.

Bluecore Energy menutup putaran pendanaan awal atau seed senilai USD 50 juta yang disebutnya kelebihan permintaan. Silverton Partners memimpin putaran tersebut, hanya dua bulan setelah perusahaan keluar dari mode stealth dengan modal pra-seed USD 10 juta.

Daftar investor dalam putaran itu cukup panjang. Ada Slauson & Co., Harlem Capital, Black Angel Group, dan HartBeat Ventures. Sejumlah nama lain turut serta.

Reaktor Air Dingin yang Dirancang untuk Mengapung

Bluecore mengembangkan reaktor modular kecil berpendingin air yang dirancang beroperasi di atas tongkang apung. Alih-alih menghabiskan bertahun-tahun membangun pembangkit dan infrastruktur pendukung di darat, perusahaan memilih memproduksi sistemnya lebih dulu lalu mengapungkannya ke lokasi yang membutuhkan listrik.

Pendiri sekaligus CEO Bluecore, Kofi Asante, menegaskan fokus perusahaannya. "Fokus kami sederhana. Menciptakan dan menyalurkan energi nol emisi seaman dan secepat mungkin," tulisnya dalam unggahan di media sosial.

Asante menyoroti potensi pasar yang luas. "Lebih dari 3 miliar orang hidup dalam jarak satu jam dari air. Kami ingin menyalakan listrik untuk mereka semua," ujarnya.

Pelabuhan dan Pusat Data AI Jadi Sasaran Pertama

Pelabuhan Long Beach menjadi target perdana Bluecore. Pelabuhan lain serta pusat data AI yang rakus listrik masuk dalam daftar calon pelanggan.

Perusahaan menyatakan sedang berkoordinasi dengan Komisi Regulasi Nuklir AS dan Penjaga Pantai AS selama proses sertifikasi. Langkah itu krusial karena reaktor yang beroperasi di perairan publik menuntut standar keselamatan berlapis.

Langkah Bluecore sejalan dengan gelombang pendanaan nuklir yang lebih besar. Startup fisi nuklir saja menarik sekitar USD 2 miliar modal ventura sepanjang 2025, menurut data Crunchbase.

Investor juga masih menulis cek besar tahun ini. Startup di bidang teknologi bersih, kendaraan listrik, dan keberlanjutan mengumpulkan sekitar USD 15 miliar pada paruh pertama 2026. Pendanaan kuartal kedua mencapai level tertinggi sejak 2024.

BRKZ Pasang Mesin Harga AI di Bisnis Material Bangunan

BRKZ, startup asal Riyadh, Arab Saudi, mengamankan modal baru USD 31 juta. Rinciannya, USD 13 juta ekuitas Seri B yang dipimpin bersama Wa'ed Ventures, lengan ventura Aramco, dan 500 Global. Sisanya, USD 18 juta komitmen utang pertumbuhan dari Stride Ventures.

Total dana yang dihimpun BRKZ kini melewati USD 83 juta. Perusahaan mengoperasikan lokapasar yang menghubungkan kontraktor dengan pemasok material bangunan, sekaligus menangani pengadaan, logistik, dan pembiayaan.

Yang menarik, BRKZ mengklaim telah mengumpulkan sekitar 38 juta titik data terstruktur. Data itu menggerakkan mesin penetapan harga AI yang dilatih dari sekitar 40.000 permintaan penawaran.

Perusahaan menyebut 84% hingga 89% harga prediksinya menyimpang tidak lebih dari 5% dari harga transaksi akhir. Agen AI lain membaca foto surat jalan semen yang dikirim lewat WhatsApp, mencocokkannya dengan pesanan, dan memverifikasi pengiriman. Sekitar tiga perempatnya diproses tanpa campur tangan manusia.

Viabot Sewakan Robot untuk Rawat Properti Komersial

Viabot, startup robotika otonom dari Santa Clara, California, meraih pendanaan Seri A USD 24 juta yang dipimpin Walden International. Dana itu dipakai memperbesar armada robot untuk perawatan properti luar ruang milik pemilik dan pengelola real estat komersial.

Mesin Viabot menggabungkan navigasi otonom dengan beragam lampiran. Robotnya bisa menyapu, membersihkan puing, dan merawat lanskap di kampus atau properti komersial luas. Semua itu dilakukan sambil menjalankan fungsi "keamanan lunak".

Viabot tidak mengejar robot humanoid serbaguna. Perusahaan memilih menerapkan otonomi pada pekerjaan berulang yang sudah biasa dibayar pemilik properti ke manusia atau kontraktor. Model bisnisnya berbasis "robot sebagai layanan".

Pendanaan ke aplikasi AI di dunia nyata memang sedang deras. Modal ventura global ke perusahaan physical AI mencapai USD 47,4 miliar lewat 521 transaksi pada paruh pertama 2026. Angka itu hampir empat kali lipat dari USD 12 miliar pada paruh kedua 2025.

Robocurve Beri Rapor Independen untuk Robot AI

Robocurve, startup berusia tiga bulan asal San Francisco, mengumumkan pendanaan seed USD 10 juta yang dipimpin Initialized Capital. Y Combinator, Notable Capital, Halcyon Futures, dan Decasonic ikut berpartisipasi.

Robocurve ingin menjadi auditor pihak ketiga independen untuk physical AI. Perusahaan menguji seberapa baik model frontier mengendalikan robot sungguhan, lalu melaporkan hasilnya ke publik.

Riset internal mereka sudah menemukan bahwa model bahasa besar serbaguna bisa mengalahkan model visi-bahasa-aksi robotika khusus pada sejumlah tugas sederhana. Perusahaan berbadan Public Benefit Corporation dengan kewajiban hukum mengevaluasi kemampuan robotika sistem AI frontier secara independen.

Alih-alih membangun semua tolok ukur sendiri, Robocurve mendanai tim akademik dan memasok perangkat keras robot. Lebih dari 200 institusi, termasuk peneliti dari 19 dari 20 universitas top dunia, mendaftar ke program tolok ukurnya. Total USD 500.000 plus lengan robot gratis disiapkan untuk kelompok akademik peserta.

Tellia Bikin Petani Bicara, Bukan Mengetik

Tellia mengumpulkan pendanaan pra-seed USD 5 juta yang dipimpin Revent. Perusahaan mengembangkan platform AI berbasis suara yang dirancang khusus untuk petani, ahli agronomi, dan pekerja pertanian lain.

Masalah dasarnya sederhana: petani tidak menghabiskan hari di balik meja. Tellia memungkinkan mereka meninggalkan catatan suara, mengirim pesan WhatsApp, atau menyetor foto untuk mencatat data, membuat laporan, dan menyiapkan pengingat.

AI Tellia mengubah informasi tak terstruktur itu menjadi catatan yang terhubung dengan lahan, tanaman, dan kru yang tepat. Seorang peternak bisa berkata, "Tellia, dokter hewan baru memeriksa Kelompok 3. Semua aman, pemeriksaan berikutnya enam minggu lagi, catat itu."

Tellia berbasis di San Francisco dan Paris, didirikan tahun lalu. Teknologinya diklaim sudah dipakai di 1 juta acre, termasuk di Campos Brothers Farms dan kilang anggur Duckhorn di Amerika Serikat, serta sejumlah organisasi pertanian Eropa.

Pendanaan ini muncul di tengah iklim yang lebih sulit bagi startup agtech. Investasi ventura di sektor pertanian masih dalam koreksi dari puncak 2021, ketika startup di bidang itu mengumpulkan USD 10,5 miliar lewat lebih dari 1.400 transaksi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index