JAKARTA - Tingginya intensitas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kalimantan memaksa beberapa daerah mengambil tindakan darurat demi mengamankan anak-anak. Langkah penangguhan pembelajaran tatap muka telah diinstruksikan oleh Kementerian Agama di Kalimantan Utara untuk siswa madrasah, sejalan dengan tindakan serupa yang diberlakukan sampai ke Quezon City, Filipina.
Kebakaran lahan seluas 38.310 hektar di Kalimantan Barat menghasilkan kabut asap beracun. Kondisi buruk tersebut tidak cuma membawa ancaman mendesak pada organ pernapasan bayi maupun anak, tetapi juga menyimpan bahaya jangka panjang bagi proses tumbuh kembang mereka.
Dampak Polusi Asap Karhutla pada Kesehatan Anak
Paparan polusi udara karhutla memberikan dampak merusak yang jauh lebih masif pada kelompok usia dini lantaran saluran napas serta sistem imun tubuh mereka masih berada dalam fase tumbuh.
Kerentanan Saluran Napas Bayi terhadap Infeksi
Polusi pekat yang menyelimuti wilayah Kalimantan saat ini bukanlah sekadar asap biasa.
Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K)., selaku Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, menyoroti tingginya bahaya dari kandungan gas di dalam asap tersebut.
"Asapnya itu kan bukan hanya sekedar asap, tapi kan juga mengandung PM 2.5 partikulat udara. Dan juga kadang-kadang ada gas seperti karbon monoksida, karbon dioksida," terang Prof. Erlina kepada Kompas.com, Rabu (2/9/2026).
"Exposure yang terus-menerus itu tidak bagus buat kesehatan respirasi. Ya terutama untuk yang rentan ya seperti bayi, anak di bawah lima tahun," tambah dia.
Kandungan partikel beracun tersebut secara langsung memicu reaksi iritasi. Apabila anak terus menghirup udara yang tercemar, peradangan akan berubah menjadi kondisi kronis.
"Pasti lama-lama jadi inflamasi, jadi radang. Kemudian kalau terjadi radang, orang batuk-batuk, bisa terjadi infeksi virus atau kuman juga, jadi bronkitis," ucap Prof. Erlina.
Risiko Gangguan Saraf dan Ancaman Stunting
Dampak buruk paparan asap karhutla pada anak nyatanya tidak berhenti pada gangguan organ paru-paru semata. dr. Fita Maulina, Sp.OG., Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi yang berpraktik di Siloam Hospitals Agora dan RSIA Tambak, menyampaikan adanya ancaman bersifat sistemik.
"Dampak jangka panjang menunjukkan paparan polusi partikel halus (PM2.5) dari asap kebakaran berisiko memengaruhi perkembangan saraf anak dan gangguan tumbuh kembang," kata dr. Fita kepada Kompas.com, Rabu.
Anak yang terpapar kabut asap pekat berisiko mengalami kondisi kelelahan kronis lantaran terus menerus merasa sesak dan rentan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berulang. Kondisi tersebut akan menguras energi tubuh yang mestinya dialokasikan untuk proses pertumbuhan.
"Energi tubuhnya habis untuk melawan infeksi, sehingga pertumbuhan fisiknya terhambat (stunting)," ungkap dr. Fita.
Desakan Mengembalikan Sistem Belajar dari Rumah
Menimbang bahaya jangka pendek dan panjang yang membayangi, membatasi durasi anak beraktivitas di luar ruangan menjadi langkah mutlak. Prof. Erlina mendorong terbitnya regulasi tegas mengenai pelaksanaan aktivitas belajar mengajar tatap muka di lokasi terdampak.
"Menurut saya sih pemerintah harus tegas ya, misalkan sekolah itu belajar jarak jauh ya (seperti) dulu yang waktu kami Covid," tutur dia.
Arahan untuk memeliburkan atau mengalihkan metode belajar dianggap amat krusial guna mencegah anak-anak terpaksa menghirup udara penuh racun, baik dalam perjalanan maupun saat berada di area sekolah.
"Harusnya diberlakukan itu loh, kalau enggak kasihan tuh anak-anak," tegas Prof. Erlina.
Langkah Perlindungan di Dalam Rumah
Meski anak sudah diisolasi di dalam rumah, pengawasan sirkulasi udara harus tetap dilaksanakan secara disiplin. Menutup rapat seluruh jalur ventilasi menjadi tindakan darurat sewaktu tingkat pencemaran udara sedang dalam kondisi terburuk.
"Jangan ke luar rumah, lalu kalau sangat pekat itu kabutnya ya terpaksa jendela rumah, pintu rumah, ditutup semua jangan masuk ke dalam rumah," papar Prof. Erlina.
Demi menjamin anak dan bayi tetap memperoleh kualitas udara yang aman saat jendela ditutup, penggunaan alat penyaring udara sangat disarankan bagi keluarga yang memiliki kemampuan.
"Kalau (asap) masih enggak pekat, masih oke, bolehlah jendela dibuka, karena kan kami juga perlu sirkulasi udara. Tapi saya kira sih di rumah bagusnya ada filter udara atau air purifier," pesan dia.
Di samping proteksi lingkungan, orang tua wajib cermat memantau indikasi fisik anak. Mengingat kondisi kesehatan bayi dapat memburuk secara cepat, membawa mereka ke fasilitas medis sejak gejala awal muncul amat disarankan.
"Jadi kami atasi dari dini, jangan tunggu ada komplikasi, malah nanti kan susah sembuhnya," pungkas Prof. Erlina.