Eksplorasi Busana AI: Stella Rissa Hidupkan Karakter Starlet

Jumat, 04 September 2026 | 02:02:33 WIB
Stella Rissa menjelaskan karakter Stelar dalam Press Briefing Mind [FOTO: NET].

JAKARTA - Stella Rissa merupakan penata busana di balik label STELLARISSA yang dikenal luas lewat karya busana bernilai estetika tinggi serta sentuhan kerajinan tangan yang mendalam. Kini, ia mulai memperluas ranah eksplorasi kreatifnya memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

“Sebagai fashion house yang biasanya bikin bridal, itu semuanya biasanya hampir 90 persen menggunakan tangan,” ujar Stella.

Hal itu diungkapkan oleh Stella pada sesi Press Briefing “Mind, Thread, Vision With Gemini, In Craft” di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Meski bergelut di industri mode, Stella memandang bahwa kreativitas tidak melulu harus dituangkan dalam wujud pakaian. Pemanfaatan Gemini AI justru menuntunnya kembali pada sosok Starlet, sebuah karakter yang pernah ia rancang saat masa pandemi.

“Walaupun memang aku fashion designer, sisi kreatif itu kan bisa berkembang ke banyak arah. Dengan teknologi ini, yang biasanya aku bikin baju, justru aku tidak mendesain baju menggunakan Gemini ini,” jelasnya.

Menjajal Medium Baru Bersama Tim Kreatif

Eksplorasi ini menjadi sebuah tantangan baru bagi Stella beserta tim kreatifnya. Ia merangkul seluruh anggota tim untuk sama-sama mendalami teknologi tersebut demi menemukan potensi baru dalam proses berkarya.

“Ini adalah tools baru yang memang di studio aku ajak semua creative team-ku untuk juga belajar bersama,” kata Stella.

Menurut pemikiran Stella, keterbukaan dalam mempelajari teknologi terbilang penting mengingat perkembangannya akan terus melaju. Ia menempatkan AI sebagai perangkat pendukung yang mampu membantunya melahirkan karya yang sebelumnya jarang dibuat.

“Karena mau bagaimana pun juga teknologi adalah masa depan dan kalau kami tidak membuka diri untuk belajar sesuatu hal yang baru, itu kami akan ketinggalan atau kami tidak bisa memanfaatkan teknologi yang ada,” ujar Stella.

Menghidupkan Kembali Starlet lewat AI

Satu di antara bentuk eksplorasi Stella bersama AI berangkat dari konsep karakter yang sempat dirancang di studionya sewaktu pandemi Covid-19 merebak. Karakter tersebut dinamai Starlet, yang memiliki makna 'perempuan yang bercahaya.' Kala itu, Stella dan tim memiliki kelonggaran waktu untuk merancang karakter yang digambar menggunakan cat air.

“Back in 2021 during Covid time, memang kita bukan membuat baju aja ya, kita membuat baju yang nyaman, seperti kaus. Dan di situ karena waktunya banyak, di studio kita mengembangkan sebuah karakter yang memang digambarkan menggunakan watercolor,” paparnya.

Proses pengembangan karakter Starlet sempat terhenti pascapandemi lantaran Stella dan tim kembali disibukkan oleh pelbagai aktivitas lain. Peluang untuk melanjutkannya muncul saat Google mengajak Stella berkolaborasi dalam proyek eksperimen busana dan AI.

Stella merasa tertarik untuk membangkitkan kembali tokoh tersebut ke dalam format yang lebih luas. Karakter tersebut lantas dibayangkan hadir dalam rupa-rupa versi lewat variasi tata rambut, pakaian, hingga rentang usia, tetapi tetap mempertahankan bentuk kartun.

“Kita mau bikin umurnya berbeda-beda, tapi berbentuk kartun. Aku jadi mau challenge juga myself dan ini adalah tools baru,” tutur.

Eksplorasi ini juga terhubung langsung dengan karya busana rancangan Stella. Ia membayangkan karakter kartun tersebut mengenakan koleksi pakaian yang sebelumnya pernah diperagakan di panggung runway.

“Kita mencoba untuk bagaimana kalau misalnya semua Starlet ini bisa menggunakan baju-baju yang memang kita ada di runway. Kalau this cartoon can dress up di semua baju yang kita desain,” ujar Stella.

Pengembangan figur ini tidak berhenti pada aspek visual saja. Stella mengidekan kehadiran tokoh-tokoh perempuan lain sebagai bagian dari Starlet and friends, yang salah satu hasil akhirnya diproyeksikan menjadi sebuah program siniar (podcast). 

Di dalamnya, Stella berniat menyuarakan pesan yang senantiasa diusung oleh lini busananya, yakni pemberdayaan perempuan.

Pemilihan karakter berbentuk kartun ditujukan agar para perempuan dapat menyampaikan aspirasi tanpa harus selalu menampilkan sosok fisik secara langsung.

“Dengan karakter yang berupa kartun ini mereka bisa merepresentasikan suara tanpa kita juga tampil,” kata Stella.

“Kalau ketika kita mau bahas sesuatu yang serius, dengan paket kartun itu akan lebih ringan rasanya,” tambahnya.

Tetap Membutuhkan Kreativitas Manusia

Menurut pandangan Stella, penggunaan AI melatih dirinya dan tim untuk mempraktekkan cara baru dalam menerjemahkan gagasan. Salah satunya yakni mengasah keahlian merumuskan petunjuk (prompting) secara detail dan terperinci.

“Yang perlu dipelajari kita sebagai manusia adalah cara kita melakukan prompting. Dan prompting itu adalah pembelajaran baru buat tim kreatif saya,” tuturnya.

Ia menilai proses tersebut menuntut kecermatan mendalam, mulai dari latar belakang cerita, karakter tokoh, alur percakapan, nuansa suara, hingga rona warna kulit. Maka dari itu, AI baginya bukan sebatas pembuat gambar otomatis, melainkan sarana untuk memperluas cara merealisasikan imajinasi.

“Dari situ saya juga belajar bahwa teknologi itu bisa membuat kita di industri kreatif sangat tidak terbatas. Imajinasi kita sangat tidak terbatas kalau kita punya intensi,” jelas Stella.

Tags

Terkini