Ilustrator Varsam Kurnia: Esensi Manusia Tak Bisa Digantikan AI

Jumat, 11 September 2026 | 02:48:31 WIB
Hedgren x Varsam Kurnia [FOTO: NET].

JAKARTA - Proses pembuatan karya visual kini menjadi jauh lebih praktis dan cepat berkat kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para kreator dalam mempertahankan karakter khas pada karya mereka.

Pandangan mengenai hal tersebut disampaikan oleh Varsam Kurnia, seorang seniman, ilustrator, sekaligus pemilik Something's to Keep. 

Ia juga membagikan caranya dalam mengatasi kebuntuan proses kreatif saat ditemui dalam Exclusive Preview Hedgren AW26 Collection dan kolaborasi Travel Essentials Collection Hedgren x Varsam Kurnia di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Menjaga Karya Tetap Autentik 

Varsam menilai karakter personal memegang peranan krusial dalam sebuah karya. Kreator tak sekadar menciptakan bentuk visual, melainkan juga menyampaikan pesan yang bersumber dari dalam dirinya.

“Dari aku sih aku merasa kalau itu semua tentang personal voice, suara pribadi kami sebagai manusia, sebagai seorang pribadi. Dan apa yang kami mau sampaikan lewat gambar itu sendiri sih,” terang Varsam.

Ia menganggap hal tersebut tetap relevan walau kreator menghadapi persaingan ketat, termasuk makin masifnya penggunaan AI dalam proses kreatif.

“Jadi walaupun banyak kompetisi, walaupun banyak AI sekarang, tapi suatu esensi manusia itu gak akan bisa bohong,” ujarnya.

Esensi yang Tidak Bisa Direplikasi 

Varsam menyebutkan bahwa keautentikan seorang kreator membuat karyanya lebih gampang terhubung dengan audiens. Menurutnya, tiap individu mengantongi karakter serta pengalaman yang berbeda, sehingga memberi nilai personal pada karya.

“Something yang authentic dari diri kami, dan orang juga akan resonate dengan hal itu,” katanya.

“Karena masing-masing itu dua pribadi, dan pasti ada hal yang esensi dari itu yang pasti resonate ke orang,” ujar Varsam.

Sifat personal ini dinilainya sulit digantikan oleh karya yang cuma hasil meniru atau diproses memakai teknologi.

“Yang gak bisa direplika dari yang niru, atau dari AI itu sendiri sih,” lanjutnya.

Tetap Berkarya Saat Art Block 

Art block merupakan situasi ketika seseorang mengalami pampat kreatif, sehingga sulit mengeksplorasi ide maupun berkarya seperti biasa. Kondisi ini kerap menyulitkan kreator untuk melanjutkan proses kreatifnya.

Varsam menyarankan agar seseorang tidak memaksakan diri terus berkarya pada medium yang sama saat dilanda art block. Ia justru merekomendasikan eksplorasi kreativitas melalui medium lain.

“Tips untuk teman yang lagi art block itu, buatku sih tetap berkreasi, tapi dalam medium lain,” terang Varsam.

Sebagai contoh, jika sedang enggan menggambar, ia beralih ke aktivitas kreatif lain seperti mengolah keramik atau clay.

“Misalnya aku lagi enggak mood gambar, aku bisa aja bikin keramik, atau bikin clay, atau menghias hal lain,” ujarnya.

Lewat alih medium ini, energi kreatif tetap tersalurkan tanpa ada paksaan untuk membuat gambar di tengah pampatnya ide.

“Jadi tetap mengarahkan that creative energy, but through a different medium untuk nge-unblock that creative block itu sendiri sih,” pungkas Varsam.

Tags

Terkini