AWS Minta Klien Pindahkan Data dari Pusat Data Timur Tengah Usai Serangan Drone

Kamis, 17 September 2026 | 17:00:00 WIB

NARASIINDONESIA.ID — Amazon Web Services meminta pelanggannya memindahkan data dari pusat data di Abu Dhabi dan Bahrain ke wilayah lain, lebih dari enam bulan setelah fasilitas tersebut diserang drone. Langkah ini memukul ambisi Uni Emirat Arab yang selama bertahun-tahun berupaya menjadi pusat pemrosesan data dunia. AWS belum memberikan tenggat kapan kedua lokasi itu kembali beroperasi normal.

Permintaan itu disampaikan AWS melalui pembaruan di dasbor layanannya. Perusahaan menyatakan sebagian besar pelanggan telah berhasil memulihkan operasi di wilayah lain dengan memulihkan cadangan data atau menyalin data yang masih bisa diakses.

Dukungan AWS tetap tersedia bagi pelanggan yang butuh bantuan memindahkan aplikasi mereka ke wilayah alternatif. Sementara itu, perbaikan di kedua pusat data yang rusak masih berlangsung tanpa jadwal penyelesaian yang jelas.

Perbaikan Berjalan Tanpa Tenggat Jelas

AWS menyatakan tetap berkomitmen mendukung pelanggannya di Bahrain. Namun perusahaan hanya menjanjikan pembaruan lanjutan pada awal tahun depan, tanpa memberi kerangka waktu pemulihan layanan yang spesifik.

Untuk Uni Emirat Arab, AWS mengaku sedang mengganti infrastruktur yang terdampak. Perusahaan kembali hanya menyebut akan memberi pembaruan soal pemulihan layanan dalam beberapa bulan mendatang.

Kedua pusat data itu menjadi sasaran Iran setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke negara tersebut pada Februari tahun ini. Beberapa bulan kemudian, pusat data di Bahrain dihantam rudal jelajah, dan media negara Iran mengklaim fasilitas itu telah "dihancurkan".

Pukulan bagi Ambisi Digital Uni Emirat Arab

Perkembangan ini merugikan Uni Emirat Arab. Negara itu sudah bertahun-tahun berupaya menjadi pemimpin dunia dalam pemrosesan data, sebuah ambisi yang membuatnya melobi pejabat Amerika Serikat agar diizinkan membeli cip AI untuk pusat data mereka.

Uni Emirat Arab sempat ramai membanggakan keputusan OpenAI mengambil tempat di kompleks pusat data berkapasitas 5 gigawatt pada Mei 2025. Rencana itu kini macet. Belum ada kontrak sewa yang diteken lebih dari setahun kemudian.

OpenAI diperkirakan akan mengambil 20 persen dari total kapasitas pusat data tersebut. Kehilangan sebesar itu jelas menyakitkan bagi para pejabat jika rencana tak kembali ke jalur semula.

Opsi Pusat Data Bawah Tanah hingga Sistem Pertahanan Drone

Uni Emirat Arab menyadari betul ancaman ketidakstabilan kawasan terhadap ambisinya. Mereka mencari cara meredam kekhawatiran calon mitra.

Pejabat setempat sudah memberi sinyal kemungkinan membangun pusat data bawah tanah. Langkah itu akan membuat biaya yang sudah mahal semakin membengkak, tetapi bisa membantu melindungi fasilitas baru dari serangan drone.

Membangun sistem pertahanan drone di dekat pusat data menjadi opsi lain. Serangan drone bisa berakibat fatal bagi bangunan mana pun, termasuk pusat data.

Pusat data yang dioperasikan AWS mengalami kebakaran dan kerusakan infrastruktur akibat serangan tersebut. Dalam upaya memadamkan api, petugas darurat menggunakan air yang justru menambah kerusakan.

Tekanan pada Sektor Perbankan dan Keuangan

Pusat data di Abu Dhabi dan Bahrain menjadi tumpuan berbagai bisnis di sektor perbankan dan keuangan. Bisnis semacam itu tidak bisa menoleransi waktu henti, apalagi yang berkepanjangan.

Belum ada tanda pusat data akan lepas dari bidikan operator drone dalam waktu dekat. AWS juga bukan satu-satunya perusahaan yang fasilitasnya diserang.

Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim pada April telah menghantam pusat data yang terkait Oracle di Dubai. Unit itu juga mengancam perusahaan teknologi Amerika, termasuk Microsoft, Oracle, Alphabet, dan Nvidia, pada musim semi tahun ini.

IRGC menuduh perusahaan-perusahaan tersebut berkontribusi terhadap serangan ke Iran. Dengan ketegangan di Timur Tengah yang tampaknya sulit mereda, permintaan AWS agar pelanggan memindahkan data ke pusat data yang lebih aman di berbagai belahan dunia menjadi hal yang bisa dimaklumi.

Terkini