Listrik

Harga Token Listrik PLN Januari 2026 Beserta Simulasinya

Harga Token Listrik PLN Januari 2026 Beserta Simulasinya
Harga Token Listrik PLN Januari 2026 Beserta Simulasinya

JAKARTA - Bagi pelanggan listrik prabayar, mengetahui harga token listrik dan konversi ke kilowatt hour (kWh) menjadi hal penting agar aliran listrik rumah tetap berjalan lancar. 

PLN menetapkan harga token listrik untuk periode 27-31 Januari 2026 sesuai tarif Triwulan I 2026. Berbeda dengan pulsa ponsel, nominal token listrik dikonversi ke energi listrik, sehingga jumlah kWh yang diterima tergantung tarif dasar listrik, daya terpasang, dan pajak penerangan jalan (PPJ) di tiap daerah.

Selain itu, nominal token yang sama belum tentu menghasilkan kWh yang sama di semua wilayah karena perbedaan TDL dan PPJ. PPJ umumnya berada di kisaran 3–10 persen, tergantung pemerintah daerah. 

Mengetahui harga token dan simulasi kWh akan memudahkan pelanggan merencanakan pembelian listrik agar sesuai kebutuhan.

Harga Token Listrik dan Tarif Per KWh

Harga token listrik periode 27-31 Januari 2026 masih mengacu pada tarif listrik Triwulan I 2026. Pemerintah memastikan tarif listrik tidak mengalami perubahan pada Januari 2026, termasuk bagi pelanggan nonsubsidi. 

Penyesuaian tarif dilakukan setiap tiga bulan, mempertimbangkan nilai tukar rupiah, inflasi, Indonesian Crude Price (ICP), dan Harga Batubara Acuan (HBA).

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyatakan: “Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah memutuskan tarif tenaga listrik Triwulan I Tahun 2026 tetap atau tidak mengalami perubahan.” 

Dengan keputusan ini, pelanggan listrik prabayar tidak perlu khawatir akan kenaikan harga token pada periode 27-31 Januari 2026.

Berikut tarif dasar listrik per kWh untuk pelanggan rumah tangga nonsubsidi prabayar:

900 VA (R-1/TR): Rp 1.352 per kWh

1.300 VA (R-1/TR): Rp 1.444,70 per kWh

2.200 VA (R-1/TR): Rp 1.444,70 per kWh

3.500–5.500 VA (R-2/TR): Rp 1.699,53 per kWh

6.600 VA ke atas (R-3/TR): Rp 1.699,53 per kWh

Dengan mengetahui tarif ini, pelanggan bisa memperkirakan jumlah kWh yang diperoleh dari pembelian token sesuai daya listriknya.

Cara Menghitung kWh dari Token

Pelanggan dapat menghitung jumlah kWh yang diperoleh dari token menggunakan rumus:

(Harga token – PPJ) ÷ tarif dasar listrik

Contohnya, seorang pelanggan rumah tangga di Jakarta dengan daya 1.300 VA membeli token listrik Rp 100.000, dengan PPJ di Jakarta sebesar 3 persen:

Harga token: Rp 100.000

PPJ 3 persen: Rp 3.000

Tarif dasar listrik: Rp 1.444,70 per kWh

Perhitungannya:
(Rp 100.000 – Rp 3.000) ÷ Rp 1.444,70 = 67,14 kWh

Dengan demikian, pembelian token Rp 100.000 bagi pelanggan nonsubsidi daya 1.300 VA di Jakarta akan menghasilkan sekitar 67,14 kWh.

Faktor yang Mempengaruhi Jumlah kWh

Jumlah kWh yang diterima pelanggan bisa berbeda-beda tergantung beberapa faktor:

Daya listrik pelanggan – Semakin besar daya, tarif per kWh bisa berbeda sesuai golongan R-1, R-2, atau R-3.

Tarif dasar listrik (TDL) – Nilai TDL per kWh mengikuti ketentuan PLN dan dapat berbeda di tiap golongan daya.

Pajak penerangan jalan (PPJ) – Besaran PPJ berbeda di setiap daerah, biasanya antara 3–10 persen.

Dengan memperhatikan ketiga faktor ini, pelanggan dapat menyesuaikan nominal pembelian token agar kWh yang diterima sesuai kebutuhan.

Tips Efektif Mengatur Pembelian Token

Agar penggunaan listrik lebih hemat dan sesuai kebutuhan, pelanggan dapat menerapkan beberapa strategi:

Memperhitungkan PPJ sesuai daerah untuk mendapatkan estimasi kWh yang akurat.

Menyesuaikan pembelian token dengan konsumsi rata-rata bulanan agar tidak kehabisan listrik mendadak.

Menggunakan catatan atau aplikasi resmi PLN untuk mengecek tarif dan riwayat pembelian token.

Mempertimbangkan tarif per kWh berdasarkan golongan daya rumah agar pengeluaran listrik tetap efisien.

Dengan memahami harga token, tarif per kWh, dan simulasi kWh, pelanggan prabayar PLN dapat merencanakan pembelian listrik lebih efektif dan menghindari gangguan aliran listrik. Informasi ini membantu masyarakat memaksimalkan pemakaian listrik rumah tangga sesuai kebutuhan, sambil tetap menjaga anggaran bulanan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index