Komoditas

Alih Komoditas Tanaman di Daerah Rawan Longsor, Solusi Bijak

Alih Komoditas Tanaman di Daerah Rawan Longsor, Solusi Bijak
Alih Komoditas Tanaman di Daerah Rawan Longsor, Solusi Bijak

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya perubahan pola tanam di daerah rawan longsor, terutama di wilayah pegunungan dengan kemiringan yang tinggi. 

Pernyataan tersebut disampaikan Amran setelah melakukan tinjauan ke lokasi bencana tanah longsor di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. 

Menurutnya, banyaknya tanaman hortikultura yang ditanam di daerah dengan kemiringan tinggi menjadi faktor utama yang memperparah risiko longsor dan kerusakan tanah. 

Oleh karena itu, ia mengusulkan alih komoditas tanaman dengan memilih jenis tanaman yang lebih sesuai dengan kondisi tanah dan lingkungan di daerah tersebut.

“Ketika kami sampai ke lokasi, kami melihat banyaknya tanaman hortikultura yang tumbuh di daerah pegunungan dengan kemiringan tinggi. Hal ini harus diubah, kita perlu mengganti komoditasnya,” ujar Amran.

Amran menyatakan bahwa perubahan ini tidak hanya penting untuk mengurangi risiko bencana longsor, tetapi juga untuk mendukung keberlanjutan pertanian di kawasan-kawasan tersebut.

Pola Tanam yang Lebih Tepat untuk Kawasan Rawan Longsor

Dalam pandangan Amran, kawasan dengan ketinggian dan kemiringan ekstrem seharusnya ditanami tanaman keras atau perkebunan, seperti kopi, alpukat, kelapa, dan kakao. 

Tanaman keras memiliki akar yang lebih dalam dan kuat, sehingga dapat berfungsi menahan erosi tanah yang sering terjadi di daerah pegunungan. 

Sementara itu, untuk daerah di lembah atau dataran rendah, penanaman hortikultura masih dianggap cocok karena karakteristik tanahnya yang lebih stabil.

“Tanaman keras memiliki perakaran yang kuat, yang bisa menahan tanah dan mengurangi potensi longsor serta banjir ke depan,” jelas Amran. 

Ia menilai bahwa praktik penanaman hortikultura di lereng dengan kemiringan hingga 30 derajat, bahkan 45 derajat, sangat berisiko dan perlu segera diubah. 

Amran juga menyebutkan bahwa salah satu solusi permanen yang akan diterapkan adalah mengganti komoditas hortikultura dengan tanaman keras di wilayah-wilayah yang rawan longsor.

Solusi Jangka Panjang untuk Pengelolaan Sumber Daya Alam

Amran memastikan bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan anggaran serta tanaman tahunan untuk mendukung perubahan pola tanam tersebut. 

Dengan tujuan untuk menciptakan solusi jangka panjang yang dapat mengurangi dampak bencana alam, Kementan telah menurunkan tim lapangan untuk melakukan inventarisasi serta penanganan awal di kawasan-kawasan yang rawan longsor.

“Sekarang tim kami sudah di lapangan, mereka sedang bekerja untuk melakukan inventarisasi. Segera kita akan bertindak, karena ini adalah solusi permanen. Jika kita tidak bergerak cepat, bencana seperti ini akan terus terjadi,” tegasnya. 

Dalam program ini, selain mengganti tanaman hortikultura dengan tanaman keras, pemerintah juga akan mengedepankan pengelolaan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan.

Program Nasional dengan Anggaran yang Besar untuk Alih Komoditas

Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahwa alih komoditas tanaman bukan hanya dilakukan di lokasi bencana, melainkan menjadi bagian dari program nasional yang lebih besar. 

Program ini juga selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang mendorong penguatan sektor perkebunan dalam mendukung ketahanan pangan dan energi. 

Program ini direncanakan mencakup sekitar 870.000 hektar lahan di seluruh Indonesia, dengan total anggaran hampir mencapai Rp10 triliun.

“Program ini akan mencakup sekitar 870.000 hektar lahan di seluruh Indonesia, dengan anggaran mencapai Rp9,95 triliun. Ini adalah bagian dari langkah besar untuk mengubah pola tanam dan memperkuat sektor pertanian yang lebih ramah lingkungan,” ujar Amran. 

Program ini diharapkan tidak hanya dapat mengurangi dampak bencana alam, tetapi juga membantu masyarakat lokal dalam meningkatkan taraf hidup melalui pertanian yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan.

Pentingnya Peran Sektor Pertanian dalam Pembangunan Nasional

Dengan perubahan pola tanam ini, Amran berharap sektor pertanian Indonesia dapat berkembang lebih berkelanjutan dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian negara. 

Selain itu, program ini juga diharapkan mampu mengurangi potensi kerugian akibat bencana tanah longsor yang sering terjadi di kawasan pegunungan. 

Dengan menanam tanaman keras yang lebih cocok untuk kondisi tanah dan lingkungan, diharapkan bencana alam seperti longsor dan banjir dapat diminimalkan, sementara produktivitas pertanian tetap terjaga.

“Pola tanam yang lebih tepat untuk kawasan rawan longsor akan memberikan dampak positif, baik dari segi ekologi, ekonomi, maupun sosial. Kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk memastikan bahwa perubahan ini berjalan dengan baik,” tutup Amran.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index