Saham

Gejolak Pasar Saham dan Optimisme Menkeu Purbaya di 2026

Gejolak Pasar Saham dan Optimisme Menkeu Purbaya di 2026
Gejolak Pasar Saham dan Optimisme Menkeu Purbaya di 2026

JAKARTA - Gejolak pasar modal yang melanda Indonesia dalam beberapa hari terakhir telah menarik perhatian banyak pihak, menguji kekuatan fundamental ekonomi nasional. 

Dalam dua hari berturut-turut, Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk melakukan trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam, sementara nilai tukar rupiah juga kembali melemah. 

Walau tekanan pasar cukup besar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis dan menilai bahwa kondisi ini hanya bersifat sementara, tidak mencerminkan keadaan ekonomi yang sebenarnya.

Gejolak Pasar yang Dipicu Evaluasi MSCI

Tekanan yang terjadi di pasar saham Indonesia sebagian besar dipicu oleh evaluasi yang dilakukan oleh indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Penilaian ini membuka potensi Indonesia dipandang sebagai pasar frontier, sebuah kondisi yang mempengaruhi persepsi investor. 

Hasil dari evaluasi tersebut menambah kekhawatiran pelaku pasar mengenai kestabilan pasar saham Indonesia. Seiring dengan itu, rupiah juga melemah, yang menjadi indikator adanya ketidakpastian di pasar keuangan.

Meski demikian, Purbaya menilai reaksi pasar terhadap evaluasi MSCI ini sebagai berlebihan dan tidak menggambarkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sesungguhnya. 

“Fundamental ekonomi tidak bermasalah. Ini hanya shock. Biasanya dua atau tiga hari juga selesai,” ujar Purbaya.

Dengan keyakinan tersebut, Purbaya menunjukkan bahwa pergerakan pasar ini tidak mencerminkan situasi riil ekonomi Indonesia yang masih kokoh.

Reaksi Pasar yang Cukup Mendalam

Pada Kamis pagi, IHSG sempat mengalami penurunan signifikan hingga 8% ke level 7.654,66, yang memaksa BEI untuk menghentikan sementara perdagangan saham pada pukul 09.26 WIB. 

Ini adalah trading halt kedua sepanjang Januari, setelah sehari sebelumnya bursa juga menghentikan perdagangan karena adanya tekanan jual yang tajam. 

Penurunan yang begitu dalam ini menunjukkan betapa besar dampak dari ketidakpastian pasar yang ditimbulkan oleh evaluasi MSCI terhadap Indonesia.

Meski Purbaya mengakui bahwa kekhawatiran pasar sebagian besar berakar dari evaluasi MSCI, ia tetap yakin bahwa Indonesia tidak akan turun kelas, meskipun hal itu dapat berpotensi mempengaruhi arus dana asing yang masuk. Ia menyebutkan bahwa faktor yang dinilai oleh MSCI lebih bersifat teknis, terkait dengan transparansi dan kualitas saham tertentu yang diperdagangkan.

 Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa gejolak pasar saat ini dipicu oleh saham-saham spekulatif yang rawan mengalami volatilitas tinggi.

Pandangan Ekonom tentang Dampak Gejolak Pasar

Sementara itu, pandangan berbeda datang dari Maybank Indonesia, melalui Global Markets Economist mereka, Myrdal Gunarto. Myrdal menilai bahwa evaluasi MSCI berpotensi memicu arus keluar dana asing dari Indonesia, meskipun ia memperkirakan bahwa dampak tersebut tidak akan terlalu besar. 

“Potensi dana keluar tidak lebih dari US$ 4 miliar. Dampaknya ke rupiah masih bisa dikelola, meski pasar saham bisa bergejolak dalam jangka pendek,” kata Myrdal.

Menurut Myrdal, meskipun arus keluar dana asing dapat terjadi, namun hal ini tidak akan berlanjut lama dan masih dapat dikelola oleh otoritas moneter Indonesia. 

Kendati demikian, ia tetap menekankan bahwa gejolak ini seharusnya menjadi perhatian bagi otoritas pasar modal Indonesia, terutama terkait dengan saham-saham berkapitalisasi kecil yang seringkali menjadi pemicu volatilitas di pasar saham.

Ketidakpastian Pasar dan Dampaknya pada Rupiah

Gejolak pasar sudah cukup tercermin dalam pergerakan rupiah. Pada Kamis (29/1), rupiah ditutup melemah sebesar 0,2% ke level Rp 16.755 per dolar AS. 

Sementara itu, IHSG juga ditutup turun 1,06% ke level 8.232,20 setelah mengalami volatilitas tinggi sepanjang hari. Ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang mengarah pada penurunan nilai tukar rupiah dan fluktuasi yang tajam di pasar saham.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, juga menyampaikan pandangannya terkait dampak jangka panjang dari evaluasi MSCI. Menurut Josua, ketidakpastian pasar akan tetap membayangi hingga peninjauan ulang MSCI pada Mei 2026. 

Dalam skenario ekstrem, di mana Indonesia benar-benar mengalami penurunan kelas, arus keluar modal asing bisa mencapai lebih dari US$ 13 miliar.

Namun, Josua juga mencatat bahwa pasar obligasi relatif lebih tahan terhadap gejolak ini karena masih didukung oleh investor domestik. Meski begitu, jika sentimen pasar saham memicu aksi risk-off, investor asing berpotensi mengurangi eksposurnya pada surat utang. Dalam hal ini, pergerakan pasar obligasi dan investasi langsung asing (FDI) akan sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian yang muncul.

Dampak Jangka Pendek terhadap Rupiah dan Sentimen Investor

Josua menekankan bahwa dalam jangka pendek, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh arus modal portofolio. Jika kekhawatiran terhadap penurunan kelas Indonesia semakin besar dan aksi jual asing berlanjut, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan berlanjut. 

Di sisi lain, sentimen investor akan sangat bergantung pada perkembangan situasi ini, apakah akan membaik dalam beberapa hari ke depan atau justru semakin memburuk.

Meski terdapat ketidakpastian yang membayangi pasar modal Indonesia, optimisme Purbaya mengenai kekuatan ekonomi Indonesia tetap menjadi titik fokus. Menteri Keuangan ini percaya bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan akan dapat bertahan dari gejolak pasar ini dalam waktu dekat. 

Dengan sikap optimistis tersebut, Purbaya berharap pasar dapat pulih dengan cepat, dan ekonomi Indonesia dapat terus tumbuh, meskipun menghadapi tantangan global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index