JAKARTA - Perusahaan energi nasional terus mempersiapkan langkah strategis untuk menjaga ketersediaan energi di tengah dinamika industri yang semakin kompleks.
Salah satu fokus utama yang kini diperkuat adalah pengembangan infrastruktur gas bumi sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional.
Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, investasi pada sektor ini dipandang menjadi langkah penting untuk memastikan distribusi energi yang lebih andal dan efisien.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Sub Holding Gas Pertamina menegaskan komitmennya untuk memperkuat infrastruktur gas bumi melalui peningkatan investasi pada tahun mendatang.
Langkah ini tidak hanya bertujuan memperluas jaringan distribusi gas, tetapi juga mendukung peran gas bumi sebagai energi transisi menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan.
Perusahaan menilai bahwa pengembangan jaringan gas yang terintegrasi akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat maupun sektor industri. Dengan jaringan yang lebih luas dan sistem distribusi yang semakin kuat, akses terhadap energi diharapkan menjadi lebih mudah serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Sub Holding Gas Pertamina, mengalokasikan belanja modal atawa capital expenditure (capex) sebesar US$ 353 juta pada tahun 2026.
Jumlah tersebut setara dengan Rp 5,98 triliun dengan asumsi kurs US$ 1 = Rp16.936, atau meningkat sekitar 14% dibandingkan dengan capex sepanjang tahun 2025.
Alokasi ini ditujukan untuk memperkuat pengembangan infrastruktur gas bumi yang terintegrasi serta mendukung ketahanan energi nasional, sekaligus mengoptimalkan peran gas bumi sebagai energi transisi.
Fokus Strategi Pertumbuhan Bisnis PGN
Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto menyampaikan bahwa strategi perusahaan pada 2026 akan berfokus pada pertumbuhan yang terintegrasi, kredibel, dan berkelanjutan.
“Arah strategis PGN pada tahun 2026 difokuskan pada penguatan operasional, konsolidasi portofolio bisnis, serta ekspansi bisnis bernilai tambah secara selektif. Seluruhnya diimbangi dengan strategi keuangan yang disiplin serta komitmen penuh terhadap penerapan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) di setiap lini,” ujar Arief, dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).
Melalui strategi tersebut, PGN berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengelolaan risiko operasional. Perusahaan juga menekankan pentingnya penerapan standar keselamatan dan lingkungan dalam setiap aktivitas bisnis.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memastikan bahwa pengembangan infrastruktur energi dapat berjalan secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Pengembangan Infrastruktur Gas Bumi Nasional
Sebagai upaya menghadirkan energi yang lebih dekat dan andal bagi masyarakat serta pelanggan industri, PGN mengalokasikan capex sebesar US$ 219 juta untuk pengembangan infrastruktur transmisi dan distribusi, baik pipeline maupun beyond pipeline seperti Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Natural Gas (LNG).
Beberapa proyek prioritas meliputi customer attachment, perluasan jaringan gas rumah tangga (jargas) di wilayah Sumatera dan Jawa, pembangunan Pipa Tegal–Cilacap dan perpanjangan Pipa Sei Mangkei, serta pengembangan terminal regasifikasi di Jawa Timur.
Pengembangan proyek tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan distribusi gas bumi sehingga lebih banyak masyarakat dan industri yang dapat memanfaatkannya sebagai sumber energi utama.
Selain itu, penguatan infrastruktur juga menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi distribusi energi di berbagai daerah.
Dengan jaringan gas yang semakin luas dan terintegrasi, PGN berupaya memastikan pasokan energi tetap stabil serta mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Penguatan Bisnis Rendah Karbon Dan Energi Transisi
Di sisi lain, PGN juga melanjutkan pengembangan low carbon business sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang, termasuk inisiatif biomethane.
Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung upaya pengurangan emisi sekaligus mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan.
Pengembangan energi rendah karbon dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sektor energi di masa depan. Dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi baru, perusahaan berupaya menghadirkan solusi energi yang lebih bersih dan efisien.
Inisiatif biomethane juga membuka peluang baru dalam pengembangan energi alternatif yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh berbagai sektor.
Investasi Hulu Dan Komitmen Keberlanjutan
Sementara itu, di sisi hulu (upstream), PGN mengalokasikan capex sebesar US$ 134 juta untuk mengoptimalkan kinerja eksplorasi dan peningkatan oil and gas lifting.
Program utama mencakup kegiatan pengeboran (drilling) di Wilayah Kerja (WK) Pangkah, Ketapang, dan Fasken, perpanjangan kontrak kerja sama (KKKS) di WK Pangkah, serta pelaksanaan survei dan pemrosesan seismik 3D.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan produksi energi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di sektor hulu.
"Untuk memastikan pencapaian target kinerja operasional, kami memperkuat aspek HSSE dengan target Zero Accident. Sementara untuk komitmen keberlanjutan, kami menargetkan pengurangan emisi sebesar 35.000 ton CO2 ekuivalen," tegas Arief.
Kolaborasi dengan para pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menghadapi dinamika dan fluktuasi pasar energi. PGN terus mempererat sinergi dengan seluruh key stakeholders guna menjaga transparansi, keselarasan pemahaman terhadap ekspektasi pasar, serta prospek bisnis perusahaan ke depan.
"Dengan fondasi sinergi yang kuat, PGN optimistis dapat terus adaptif dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan industri energi yang semakin dinamis," tutupnya.
Melalui strategi investasi dan penguatan infrastruktur tersebut, PGN berharap dapat memperkuat posisinya sebagai perusahaan gas nasional yang mampu mendukung kebutuhan energi Indonesia sekaligus berkontribusi pada agenda transisi energi berkelanjutan.