Jaga Runstreak, Pria 63 Tahun Tetap Lari 42 Hari Saat Ibadah Haji

Jaga Runstreak, Pria 63 Tahun Tetap Lari 42 Hari Saat Ibadah Haji
Restu Didik tetap berlari demi menjaga runstreak [FOTO: NET].

JAKARTA – Merawat kebiasaan berolahraga di tengah rutinitas perjalanan panjang bukanlah perkara gampang. Jadwal harian dapat berubah, alokasi waktu terbatas, hingga daya tahan tubuh yang fluktuatif. Kendati demikian, kendala tersebut tidak menyurutkan langkah Restu Metriardi untuk menyetop kebiasaan berlarinya. 

Pria yang kini genap berusia 63 tahun ini konsisten melakoni runstreak selama 42 hari berturut-turut ketika menunaikan ibadah haji pada 2025.

Bagi Restu, mempertahankan rutinitas lari bukan semata-mata mengejar jarak tempuh. Ia tergerak untuk merawat konsistensi yang telah dipupuknya selama bertahun-tahun.

“Alhamdulillah selama 42 hari perjalanan haji saya di tahun 2025 runstreak bisa jalan terus dengan variasi suka dukanya,” ujar Restu, Senin (10/8/2026).

Hingga kini, catatan runstreak milik Restu masih terus bergulir. Sampai Jumat (14/8/2026), torehan larinya telah menginjak hari ke-1.953.

Berawal dari tantangan 30 hari 

Kebiasaan berlari saban hari yang dilakoni Restu diawali pada April 2021. Kala itu, ia mematok tantangan pribadi untuk rutin berlari selama 30 hari penuh di bulan Ramadhan. Komitmen tersebut sukses dituntaskannya. Restu lantas memperpanjang targetnya menjadi tiga bulan dan kembali berhasil menyelesaikannya.

Ia kemudian menetapkan sasaran 360 hari. Setelah target itu terlampaui, timbul rasa enggan untuk menghentikan rutinitas yang telah terbentuk. Pada akhirnya, ia mantap melanjutkan runstreak hingga saat ini.

Menurut pandangan Restu, godaan untuk berhenti paling kerap menguji pada tahun pertama. Namun, begitu mampu melewati fase krusial tersebut, ia merasa makin tak rela membiarkan rekor berlarinya terputus. 

Ia pun mengenal standar runstreak internasional yang mematok batas minimal berlari sejauh 1 mil atau sekitar 1,6 kilometer setiap harinya. Bagi Restu, tolok ukur tersebut membuktikan bahwa konsistensi tak selalu menuntut jarak tempuh yang jauh saban hari.

Tetap lari di tengah perjalanan haji Menjalankan runstreak sepanjang masa ibadah haji menyajikan tantangan tersendiri bagi Restu. Selama kurun 42 hari, ia mesti menyelaraskan aktivitas lari dengan agenda perjalanan beserta rangkaian ibadah. Walau begitu, ia gigih mencari celah agar rutinitasnya tidak terhenti.

Pengalaman itu bukan satu-satunya situasi tak biasa yang pernah dijalani Restu demi menjaga komitmen runstreak

Ia sempat tetap berlari pada hari pernikahan putri keduanya. Sewaktu melakoni perjalanan dari Jakarta menuju Istanbul, Restu bahkan rela berlari bolak-balik di dalam kamar hotel guna memenuhi kuota jarak minimal.

Ia juga pernah memanfaatkan area Bandara Internasional Dubai untuk berlari. Sepulang dari tanah suci, tantangan kembali menyapa. 

Restu baru menginjakkan kaki di rumah sekitar pukul 23.00, tetapi ia tetap menyempatkan diri berlari indoor. Baginya, situasi sempit bukanlah alasan untuk memaksakan latihan berat; yang terpenting, ia tetap bergerak menyelaraskan kondisi fisik.

Tidak memaksakan diri saat berlari 

Di usianya yang menginjak 63 tahun, Restu menyadari kapasitas fisiknya tak lagi sama seperti kala muda. Oleh sebab itu, ia menjadikan denyut jantung (heart rate) sebagai pedoman utama saat berlari. Di samping itu, Restu selalu sigap membaca sinyal-sinyal dari tubuhnya.

Kedua aspek tersebut menjadi acuannya dalam menentukan pace, jarak tempuh, hingga opsi untuk berjalan kaki atau menyelesaikannya. Menurut Restu, menyimak kondisi tubuh sangat krusial guna menghindari bahaya cedera.

“Dengan dua acuan tersebut maka saya akan menentukan di pace dan jarak berapa saya berlari, atau jalan, berhenti. Hal ini sangat penting untuk menghindari risiko cedera,” ujarnya.

Sebagian besar kegiatan larinya ia jalani seorang diri. Bukannya merasa kesepian, Restu justru menikmati momen solitude tersebut untuk berefleksi dan mengintrospeksi diri.

Lari sebagai bagian dari menjaga kebugaran 

Bagi Restu, kebiasaan berlari tak sebatas mempertahankan angka runstreak. Sebelum rutin berlari, ia mengaku gampang terserang penyakit dan memiliki daya tahan tubuh yang ringkih.

Ia sempat mengalami gangguan pencernaan hingga tiga kali harus menjalani perawatan di rumah sakit. Ia juga menderita saraf kejepit yang mulai dirasakan sejak umur 35 tahun.

Pasca-rawat inap pada akhir 2016, Restu bertekad mengubah gaya hidupnya. Ia mengawali langkah baru dengan jalan cepat sehabis shalat Subuh sebelum akhirnya belajar berlari pada September 2017.

Seiring berjalannya waktu, kebugaran fisiknya berangsur membaik. Namun, Restu tidak menepuk dada bahwa lari adalah faktor tunggal. Menurutnya, rutinitas berlari beriringan dengan pembenahan gaya hidup lain, seperti menjaga pola makan dan waktu tidur.

Konsisten bukan berarti memaksakan diri 

Pengalaman bertahun-tahun melakoni runstreak memahamkan Restu bahwa konsistensi tidak berarti terus menggenjot latihan dengan intensitas tinggi. 

Ketika situasi kurang memungkinkan, ia memilih menyesuaikan ritme. Prinsip itu pula yang dipegangnya selama menjalankan ibadah haji. Baginya, menjaga kontinuitas tidak harus selalu diukur dari jarak jauh atau kecepatan tinggi.

“Selama Allah masih memberi saya usia, kesehatan, dan motivasi untuk berlari,” ujar Restu tatkala ditanya mengenai batas waktu ia akan terus berlari.

Restu pun berharap rekam jejaknya dapat memantik motivasi bagi masyarakat yang merasa terlambat untuk memulai hidup sehat. Menurutnya, olahraga wajib disesuaikan dengan kondisi tubuh tiap individu. Faktor usia bukan hambatan tunggal, namun derajat kesehatan tetap harus diperhitungkan.

Di usianya yang ke-63, Restu terus melangkah. Bukan sekadar mengejar angka dalam catatan runstreak, melainkan sebagai wujud ikhtiarnya menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index