JAKARTA - Terdapat kebiasaan sederhana yang kerap diabaikan saat seseorang sedang tergesa-gesa, yaitu memilih opsi tangga ketimbang lift.
Riset terbaru yang diselenggarakan oleh peneliti University of East Anglia bersama Norfolk and Norwich University Hospital terhadap data lebih dari 480 ribu individu dewasa, mengungkap bahwa mereka yang terbiasa naik tangga mempunyai risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 39 persen lebih rendah.
Selain itu, potensi kematian akibat bermacam penyebab tercatat 24 persen lebih rendah ketimbang mereka yang jarang melakukannya.
Naik Tangga Dikaitkan dengan Risiko Penyakit Jantung yang Lebih Rendah
Riset yang dipublikasikan dalam American Journal of Cardiovascular Drugs pada Agustus 2026 ini berbentuk tinjauan sistematis dan meta-analisis atas sembilan studi berkualitas tinggi.
Para partisipan berada di rentang usia 35-84 tahun, dengan 53% di antaranya perempuan, serta mencakup individu sehat maupun yang memiliki riwayat gangguan jantung.
Dalam analisis tersebut, para peserta diamati selama durasi median 14 tahun. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa kebiasaan menaiki tangga juga berkorelasi dengan menurunnya risiko berbagai masalah kardiovaskular, seperti serangan jantung, stroke, hingga gagal jantung.
Sebagaimana dilansir dari Science Daily, Prof. Vassilios Vassiliou menegaskan bahwa kendati penyakit kardiovaskular menjadi pemicu utama kematian di tingkat global, kondisi ini sebetulnya bisa dicegah lewat kombinasi gaya hidup sehat. Salah satu langkahnya yakni menaiki tangga.
"Naik tangga merupakan cara yang praktis dan sering kali diabaikan untuk menambahkan aktivitas fisik ke dalam kehidupan sehari-hari," jelas Vassilios.
Mengapa Naik Tangga Bisa Memberi Manfaat?
Terdapat perbedaan dengan berjalan di permukaan datar, di mana aktivitas menaiki tangga menuntut tubuh bekerja melawan daya gravitasi. Dampaknya, denyut jantung meningkat dan tubuh memerlukan pasokan energi lebih besar dalam tempo relatif singkat.
Dikutip dari Healthline, spesialis jantung Paul Drury menerangkan bahwa pola kerja mekanis tersebut pada hakikatnya serupa dengan jenis latihan fisik lainnya.
"Mekanisme di balik penurunan risiko ini adalah olahraga membantu menurunkan tekanan darah, memperbaiki kadar kolesterol, dan mendorong penurunan berat badan," tuturnya.
Kebiasaan rutin naik tangga pun mampu mendongkrak kebugaran kardiovaskular sekaligus menguatkan massa otot.
Berapa Lama Aktivitas Ini Harus Dilakukan?
Hal menarik dari penemuan ini yaitu manfaat aktivitas fisik tidak melulu menuntut durasi olahraga yang panjang.
Sejumlah riset terdahulu yang terangkum dalam kajian mengindikasikan bahwa aktivitas menaiki tangga walau cuma hitungan menit sanggup menggenjot kebugaran kardiorespirasi dan menekan kadar kolesterol.
Bahkan, salah satu kajian menemukan bahwa manfaat optimal berupa penekanan risiko penyakit kardiovaskular tampak pada individu yang menaiki kisaran enam lantai atau 60 anak tangga per hari.
Kendati demikian, para ahli belum mematok angka pasti jumlah tangga yang ideal bagi setiap orang.
"Beberapa penelitian yang kami tinjau menunjukkan bahwa semakin banyak tangga yang dinaiki, semakin besar pula manfaatnya bagi kesehatan. Namun, perubahan kecil sekalipun memberikan dampak yang dapat diukur," ungkap Sophie Paddock dikutip dari Science Daily.
Bagaimana Cara Memulai Membangun Kebiasaan Ini?
Untuk mereka yang belum biasa berolahraga, para praktisi menyarankan agar kegiatan naik tangga diawali secara bertahap.
Tak perlu langsung membidik target puluhan lantai, melainkan cukup memanfaatkan kesempatan mengganti lift atau eskalator dengan tangga sewaktu kondisi fisik memungkinkan.
Dabhadkar, pakar jantung preventif yang dikutip Healthline, menyebutkan pendekatan tersebut sebagai bentuk progresivitas ketimbang mengejar kesempurnaan.
"Bahkan aktivitas intens dalam waktu singkat dapat membantu selama aktivitas tersebut dilakukan secara rutin," ujarnya.
Patut diingat bahwasanya aktivitas naik tangga tidak cocok diperuntukkan bagi semua orang, terkhusus mereka dengan keterbatasan mobilitas atau kendala persendian. Para pakar berpesan agar tidak memaksakan kondisi fisik.
Jika akses tangga tidak memungkinkan, aktivitas lain yang memicu jantung bekerja lebih aktif selama hitungan menit tetap bisa dipilah demi merawat kebugaran kardiovaskular.
"Jika tangga tidak mudah diakses, aktivitas apa pun yang meningkatkan detak jantung, bahkan hanya selama beberapa menit, seharusnya tetap memberikan manfaat," seru Paul.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT