5 Kebiasaan Saat BAB yang Sebaiknya Dihindari Menurut Pakar

5 Kebiasaan Saat BAB yang Sebaiknya Dihindari Menurut Pakar
Ilustrasi kamar mandi [FOTO: NET].

JAKARTA - Buang air besar (BAB) merupakan proses alami tubuh guna membuang sisa pencernaan makanan yang tak lagi dibutuhkan. Kendati terkesan sederhana, kebiasaan yang diterapkan sewaktu berada di kloset rupanya sanggup memengaruhi kenyamanan serta kesehatan saluran pencernaan.

Menyadur rincian Cleveland Clinic, dokter bedah kolorektal Arielle Kanters, MD, menyampaikan terdapat sejumlah kebiasaan yang sepatutnya dihindari supaya proses BAB berlangsung lebih nyaman. 

Beberapa di antaranya mencakup terlalu lama duduk di toilet, mengejan berlebihan, sampai mengabaikan sinyal alami tubuh untuk BAB. Selain itu, perilaku tertentu juga berisiko memicu gangguan seperti wasir maupun memperburuk sembelit.

Lantas, apa saja kebiasaan yang sebaiknya dihindari saat BAB?

Kebiasaan Saat BAB yang Sebaiknya Dihindari

1. Mengejan Terlalu Kuat 

Mengejan sedikit sewaktu BAB adalah hal wajar. Akan tetapi, mengejan terlalu kuat dan dilakukan berulang kali sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Menurut Kanters, dorongan berlebihan tatkala mengejan sanggup meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di area anus.

Bila dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat memicu masalah seperti wasir serta fisura ani atau robekan pada dinding anus. 

Apabila tinja sulit keluar secara konsisten, masalah tersebut sepatutnya tidak diselesaikan sekadar dengan mengejan lebih keras. Sembelit dapat berkaitan dengan beragam faktor, seperti kurang serat, minim asupan cairan, kurang beraktivitas fisik, hingga kondisi medis tertentu.

2. Duduk Terlalu Lama di Toilet 

Kebiasaan berlama-lama duduk di Kloset, terutamanya sembari menunggu BAB keluar, juga sepatutnya dihindari. Kanters mengimbau agar durasi di toilet dibuat sesingkat mungkin dan idealnya tak lebih dari lima menit.

Duduk terlalu lama sanggup meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di sekeliling anus dan memicu kemunculan wasir. Apabila BAB tak kunjung keluar, tak perlu terus duduk dan memaksakannya. Lebih baik beranjak dari toilet lalu kembali sewaktu tubuh benar-benar memberikan sinyal untuk BAB.

3. Membawa Ponsel dan Terlalu Lama Bermain di Toilet 

Bermain ponsel ketika di toilet boleh jadi telah menjadi rutinitas bagi sebagian orang. Namun, kebiasaan ini dapat menyita waktu duduk di toilet menjadi jauh lebih lama dari yang seharusnya.

Kanters menyarankan untuk menghentikan aktivitas multitasking seperti mencermati media sosial, membaca berita, atau membalas pesan sewaktu berada di toilet. 

Aktivitas demikian kerap membuat seseorang tak menyadari telah terlalu lama duduk di toilet. Jadi, hendaknya toilet difungsikan untuk keperluan BAB, bukan sebagai area menghabiskan waktu bersama ponsel.

4. Memaksakan BAB Saat Belum Ada Dorongan 

Tak setiap orang harus BAB pada jam yang sama setiap hari. Oleh sebab itu, memaksakan diri duduk di toilet hanya lantaran merasa sudah waktunya BAB tidak selalu dibutuhkan.

Kanters menerangkan, tubuh memiliki sinyal alami yang menginformasikan otak ketika usus telah siap membuang tinja. Jika belum hadir dorongan BAB, seseorang tidak perlu memaksakan proses tersebut. Frekuensi BAB pun dapat berbeda pada tiap orang. Hal yang lebih penting yakni memahami pola normal tubuh dan memperhatikan apakah tampak perubahan yang menetap atau gejala seperti sulit BAB.

5. Menahan BAB Ketika Sudah Terasa Ingin 

Sebaliknya, tatkala tubuh telah memberikan sinyal untuk BAB, hendaknya jangan terlalu sering diabaikan. Merujuk National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), mengabaikan dorongan BAB dapat menjadi salah satu faktor penentu yang memicu atau memperparah sembelit.

Apabila kebiasaan menahan ini diulang terus-menerus, seseorang dapat semakin sulit BAB dan tekstur tinja bisa menjadi lebih keras sehingga kian sukar dikeluarkan. Karena itu, penting memberi ruang bagi tubuh menjalankan proses BAB sewaktu dorongan itu muncul.

Perhatikan Jika Kebiasaan BAB Berubah

Rutinitas BAB tiap individu tak selalu seragam. Ada yang BAB beberapa kali dalam sehari, sementara yang lain mungkin hanya beberapa kali dalam seminggu. Meski demikian, perubahan pola BAB yang terjadi secara menetap sebaiknya tidak diacuhkan.

NIDDK menyebutkan sembelit dapat ditandai oleh frekuensi BAB kurang dari tiga kali seminggu, bentuk tinja keras atau kering, terasa sakit atau sulit saat BAB, serta sensasi tinja belum tuntas dikeluarkan.

Segera berkonsultasi dengan dokter apabila perubahan BAB disertai bercak darah pada tinja atau pendarahan dari anus, nyeri perut yang menetap, muntah, demam, sulit buang angin, atau penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas.

Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index