JAKARTA - Ginjal merupakan organ vital yang berfungsi menyaring sisa metabolisme dan cairan, sekaligus menjaga keseimbangan elektrolit di dalam tubuh.
Berdasarkan laporan publikasi Eating Well pada Senin (17/8/2026), mencukupi asupan cairan merupakan salah satu langkah untuk memelihara kesehatan ginjal.
Upaya ini ditujukan demi mencegah kerusakan ginjal yang berpotensi memicu penyakit ginjal kronis (CKD), yakni penurunan fungsi ginjal secara bertahap yang kelak memerlukan penanganan seperti dialisis untuk menggantikan peran organ tersebut.
Walakin, pemilihan jenis cairan yang dikonsumsi tetap perlu dicermati. Salah satu opsi minuman yang kini marak dikonsumsi masyarakat adalah kopi.
Asosiasi Jantung Amerika (AHA) mengungkapkan bahwa individu dewasa yang sehat diperbolehkan mengonsumsi hingga 400 miligram kafein atau setara 4 cangkir kopi saban harinya.
Merespons hal tersebut, Ahli Gizi dialisis Sara Prato, M.S., RDN, CSR mengutarakan bahwa rujukan penelitian menunjukkan konsumsi kopi secara moderat, sekitar 2 hingga 3 cangkir standar ukuran 8 ons sehari, tergolong aman bagi mayoritas penderita penyakit ginjal kronis serta mampu menopang kesehatan ginjal.
“Jumlah yang tepat untuk setiap individu dapat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti tekanan darah, sensitivitas kafein, dan kesehatan secara keseluruhan," katanya.
Prato menguraikan lebih lanjut bahwa kopi menyimpan lebih dari 1.000 senyawa alami, termasuk asam klorogenik, polifenol, dan melanoidin, yang memiliki khasiat antioksidan serta anti-inflamasi.
“Banyak dari potensi manfaat ini berasal dari senyawa alami kopi, bukan kafein itu sendiri, itulah sebabnya kopi tanpa kafein dapat memberikan banyak manfaat yang sama dengan kafein yang jauh lebih sedikit," kata Prato.
Temuan riset lainnya mengindikasikan bahwa kebiasaan minum kopi sanggup menekan risiko terpapar CKD. Ahli gizi terdaftar spesialis pencegahan batu ginjal Melanie Betz, M.S., RD, CSR, FNKF, FAND menyampaikan sebuah meta-analisis mengutarakan bahwa individu yang meminum 2 cangkir kopi atau lebih per hari memiliki risiko 14 persen lebih rendah menderita penyakit ginjal.
Betz menyebutkan kondisi tersebut lantaran ditopang senyawa bermanfaat dalam kopi yang sanggup membantu meminimalkan peradangan dan stres oksidatif.
Bagi penderita penyakit ginjal misalnya, dirinya memaparkan bahwa kopi memberi dampak positif karena dikaitkan dengan penurunan risiko pembentukan stadium akhir penyakit ginjal, kemunculan protein pada urin, hingga risiko kematian.
Nalar senada diutarakan Prato yang menyebut bahwa kebiasaan meminum kopi secara rutin berpotensi menurunkan risiko pembentukan batu ginjal.
“Kopi dapat membantu dengan meningkatkan volume urin, yang dapat mengencerkan dan membersihkan mineral pembentuk batu sebelum mineral tersebut memiliki kesempatan untuk membentuk kristal. Kafein juga dapat meningkatkan produksi urin, yang dapat berkontribusi pada efek perlindungan ini," katanya.
Secara umum, Betz maupun Prato menyarankan untuk senantiasa menjaga kecukupan hidrasi demi mengantisipasi batu ginjal. Minuman kopi menyuplai asupan cairan yang membantu mengencerkan urin sekaligus menekan risiko terbentuknya segala varian batu ginjal.
Di sisi lain, keduanya mengingatkan perlunya kewaspadaan saat meminum kopi mengingat kandungan kafein di dalamnya mampu memicu lonjakan tekanan darah.
Kondisi hipertensi pada akhirnya dapat merusak ginjal akibat penyempitan pembuluh darah yang menuju ke organ tersebut, sehingga tercipta siklus yang mengganggu kemampuan penyaringan limbah dan berujung pada peningkatan tekanan darah akibat penumpukan cairan.
Kopi berkafein dapat memengaruhi tekanan darah, tetapi keterkaitan antara asupan kafein dan hipertensi masih memicu perdebatan. Sebagian studi mendapati bahwa kebiasaan minum kopi sanggup menurunkan risiko hipertensi, tetapi riset lainnya menunjukkan hasil sebaliknya.
Oleh karena itu, bagi masyarakat yang telah mengidap hipertensi dianjurkan untuk lebih berhati-hati saat menyertakan kafein dalam menu harian mereka.
“Lebih banyak kafein dapat meningkatkan tekanan darah, yang dapat langsung merusak ginjal,” kata Betz.
Kala tekanan darah sudah tinggi atau mendekati ambang batas atas, peningkatan dalam skala terkecil sekalipun patut diwaspadai.
“Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, sebaiknya batasi konsumsi kopi berkafein menjadi 1 hingga 2 cangkir per hari dan pantau tekanan darah anda, karena jumlah kafein yang lebih besar yang dikonsumsi sekaligus dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu,” tambah Prato.