JAKARTA - Istilah narsistik kerap dipakai untuk menggambarkan seseorang yang dinilai terlalu mementingkan diri sendiri. Padahal, gangguan kepribadian narsistik (NPD) merupakan kondisi klinis yang tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu atau dua tingkah laku.
Meski demikian, studi mengindikasikan bahwa pola penggunaan bahasa mampu memberikan petunjuk terkait karakteristik atau kecenderungan gangguan kepribadian tertentu.
Hal tersebut dapat dicermati dari cara seseorang berkomunikasi, baik saat berbincang secara langsung maupun lewat email, pesan teks, hingga unggahan di jejaring sosial.
Riset yang digelar oleh peneliti dari University of Liverpool, Inggris, mengkaji ragam studi mengenai keterkaitan antara penggunaan bahasa dan gangguan kepribadian.
Peneliti utama Charlotte Entwistle bersama timnya mendapati beberapa pola bahasa yang berulang pada individu dengan gangguan kepribadian.
Kendati demikian, hasil temuan tersebut tidak lantas mengartikan seseorang yang memakai pola bahasa tertentu secara otomatis mengidap gangguan kepribadian.
Kepribadian manusia berada dalam sebuah spektrum dan setiap individu dapat memperlihatkan tingkat sifat tertentu dalam porsi berbeda.
Dengan kata lain, pola bahasa ini lebih pas dinilai sebagai petunjuk atas kecenderungan atau karakteristik tertentu, bukan menjadi sarana untuk mendiagnosis seseorang.
Lantas, seperti apa pola bahasa yang patut diperhatikan?
3 gaya bicara yang bisa menunjukkan sifat narsistik
Dilansir dari Your Tango (17/1/2026), berikut adalah tiga gaya bicara yang bisa menunjukkan sifat narsistik:
1. Bahasa yang sangat berpusat pada diri sendiri
Salah satu pola yang ditemukan peneliti adalah kecenderungan memakai bahasa yang sangat berfokus pada diri sendiri. Orang dengan karakteristik tersebut lebih sering memilih kata seperti “saya” ketika berbicara dan lebih jarang memakai kata kolektif seperti “kami” atau “kami”.
Fokus pada diri sendiri tersebut juga dapat timbul bersamaan dengan bahasa yang memperlihatkan rasa urgensi, seperti “saya perlu” atau “saya harus”. Ungkapan seperti ini dapat mencerminkan kebutuhan atau tuntutan yang dirasakan amat mendesak.
Dalam kondisi tertentu, pola tersebut juga bisa dibarengi dengan bahasa emosional yang kuat, umpama saat seseorang menggambarkan dirinya sedang sangat emosi atau tertekan.
2. Menggunakan bahasa yang negatif dan absolut
Pola kedua adalah pemakaian bahasa yang cenderung negatif dan absolut. Dalam bermacam bentuk komunikasi, mulai dari tulisan hingga unggahan di media sosial, peneliti mendapati penggunaan kata-kata seperti “selalu”, “tidak pernah”, atau “sepenuhnya”.
Kata-kata tersebut memberi kesan bahwa seseorang memandang suatu kondisi secara hitam-putih dan cuma memberi sedikit ruang untuk nuansa atau sudut pandang lain. Bahasa negatif juga dapat muncul lewat ungkapan seperti “saya tidak bisa” atau “saya tidak mau”.
Dalam konteks tertentu, penggunaan bahasa semacam ini dapat memperlihatkan perasaan kewalahan, ketidakberdayaan, atau pandangan yang amat kaku atas suatu situasi.
3. Menggambarkan diri dengan keyakinan yang negatif dan ekstrem
Pola lainnya berkaitan dengan cara seseorang menggambarkan dirinya sendiri. Dalam penelitian yang ditelaah Entwistle dan rekan-rekannya, kelompok dengan gangguan kepribadian tidak cuma lebih sering mengaplikasikan kata-kata yang berpusat pada diri sendiri, tetapi juga cenderung menyatakan pandangan yang kuat dan negatif mengenai dirinya.
Dalam sejumlah unggahan daring, misalnya, seseorang dapat menggambarkan dirinya sebagai tidak stabil, mengalami gangguan mental, atau berada dalam situasi yang amat buruk.
Pola serupa juga dapat muncul saat seseorang mengisahkan hubungan atau pengalaman masa lalu.
Mereka dapat menggambarkan orang lain secara sangat negatif, termasuk dengan menyebut pihak tertentu sebagai “pelaku kekerasan”, terutama sewaktu membahas pengalaman masa kecil atau hubungan yang dianggap penting.
Namun, pola tersebut tetap harus dicermati dalam konteks yang lebih luas. Seseorang yang memilih kata “saya” lebih sering, berbicara secara emosional, atau menceritakan pengalaman buruk tidak berarti orang tersebut memiliki NPD atau gangguan kepribadian lainnya.
Oleh sebab itu, diagnosis gangguan kepribadian hanya dapat diputuskan oleh profesional kesehatan mental lewat pemeriksaan serta penilaian klinis yang menyeluruh.