Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Ibu Hamil dan Perkembangan Janin

Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Ibu Hamil dan Perkembangan Janin
asap membumbung saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) [FOTO: NET].

JAKARTA - Bencana kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang sudah berlangsung lama belum juga mereda. Luas lahan yang terbakar di Kalimantan Barat mencatatkan angka minimal 38.310 hektar dan menghasilkan kabut asap pekat yang memicu peningkatan tajam kasus penyakit pernapasan sampai ke wilayah Borneo Malaysia serta Brunei. 

Di tengah buruknya kualitas udara yang mencapai level membahayakan, kelompok ibu hamil menjadi salah satu pihak paling rentan terhadap ancaman racun udara.

Ancaman asap karhutla pada kehamilan

Picu kontraksi dini hingga risiko kelahiran prematur

Menghirup udara yang terkontaminasi asap polusi dalam durasi panjang memasukkan bermacam racun kimia ke tubuh. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Siloam Hospitals Agora serta RSIA Tambak, dr. Fita Maulina, Sp.OG., menjelaskan bahwa keadaan tersebut membahayakan asupan oksigen.

"Paparan asap berhari-hari memicu peradangan hebat dan mengganggu pernapasan, bahkan penumpukan radikal bebas tersebut dapat masuk ke dalam aliran darah pada plasenta," ungkap dr. Fita, Rabu (2/9/2026).

Rangkaian dampak dari paparan racun ini amat membahayakan kehamilan. Kondisi tubuh ibu yang mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen dapat mengirimkan sinyal darurat pada rahim.

"Hal ini meningkatkan risiko kontraksi dini yang menyebabkan bayi lahir prematur," imbuh dia.

Selain ancaman lahir prematur, proses penyaluran nutrisi penting bagi janin ikut terhambat, padahal zat gizi sangat dibutuhkan untuk pertumbuhannya. Tingginya kandungan karbon monoksida pada asap karhutla mengikat sel darah merah lebih kuat ketimbang oksigen.

"Karena pasokan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin terhambat oleh karbon monoksida, pertumbuhan bayi di dalam rahim menjadi tidak maksimal dan risiko janin cenderung kecil," papar dr. Fita.

Paparan zat beracun ganggu hormon janin

Bahaya akibat menghirup polusi asap tidak berhenti di situ. Kepulan asap karhutla membawa partikel mikroskopis serta senyawa berbahaya yang sanggup menembus pertahanan plasenta.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.O.G, Subsp.F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM menerangkan, sisa pembakaran amat berpotensi merusak keseimbangan tubuh ibu hamil serta memicu gangguan pada struktur sel bayi.

"Yang kami takutkan sebenarnya dari polutan itu adanya substansi-substansi yang bisa mengganggu kerjanya hormon. Itu yang kami sebut sebagai endocrine disrupting chemicals," terang Prof. Iko di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Deretan zat yang mengganggu stabilitas hormon tersebut sanggup merubah kondisi kesehatan bayi secara signifikan pada masa depannya.

"Bisa menyebabkan nanti, janinnya kalau dia perempuan, cenderung meningkatkan risiko terjadinya endometriosis, PMOS (Polycystic Metabolic Ovarian Syndrome), ya atau kelainan pada alat kelamin ya, DSD (disorder of sexual differentiation)," sambungnya.

Kenali perbedaan sesak napas kehamilan dan paparan asap

Secara alami, ibu hamil bernapas lebih cepat disebabkan oleh perubahan hormon. Seiring bertambahnya usia kandungan, ibu hamil pada umumnya juga merasakan sesak napas ringan tanpa pengaruh polusi dari luar.

"Keluhan napas cepat seperti sesak pada ibu hamil sering terjadi akibat besarnya rahim mendesak organ sekitarnya termasuk paru-paru, sehingga cakupan oksigen yang diambil paru-paru tidak bisa terlalu banyak," terang dr. Fita.

Meski terkesan mirip, sesak napas alami akibat pembesaran rahim tidak melumpuhkan aktivitas harian ibu. Sebaliknya, gangguan pernapasan akibat paparan asap karhutla memperlihatkan indikasi yang mengganggu kondisi medis secara nyata.

"Beda pada kasus paparan partikel kecil akibat menghirup asap kebakaran. Hal ini mengakibatkan ibu hamil terganggu aktivitasnya dan tidak jarang disertai keluhan lain seperti demam, flu, bunyi napas mengi, dan batuk terus-menerus," sebut dr. Fita.

Panduan evakuasi dan perlindungan kesehatan ibu hamil

Mempertimbangkan tingginya risiko komplikasi, pencegahan harus segera dilakukan sebelum timbul gejala infeksi saluran pernapasan pada ibu hamil. Menurut dr. Fita, menjauhi area terpolusi merupakan langkah utama yang direkomendasikan secara medis.

"Pastikan ibu hamil dikarantina atau dipindahkan ke area yang bebas paparan asap kebakaran agar terjaga oksigenasi untuk janin dalam kandungannya," tutur dia.

Langkah serupa diutarakan oleh Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K). Menurutnya, ibu hamil termasuk golongan rentan sehingga opsi mengungsi perlu dipertimbangkan.

"Kalau bisa ya jangan terpapar lagi, kalau perlu pindah daerah dulu sementara. Cari saudara yang lokasi rumahnya aman," kata Prof. Erlina kepada Kompas.com, Rabu.

Apabila evakuasi belum memungkinan, menekan paparan partikel debu halus menjadi perlindungan terakhir. Penggunaan masker wajib diterapkan secara disiplin, sekalipun ibu berada di dalam rumah.

"Ibu hamil disarankan disediakan masker minimal tiga lapis yang bisa menghalangi masuknya uap dan debu partikel kecil, agar janin dalam kandungan tetap mendapatkan aliran darah yang tinggi oksigen dan rendah karbon monoksida," pungkas dr. Fita.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index