Paris Hilton Sebut ADHD Bukan Beban tapi Sumber Kreativitas

Paris Hilton Sebut ADHD Bukan Beban tapi Sumber Kreativitas
Paris Hilton [FOTO: NET].

JAKARTA - Sejak masa kanak-kanak, Paris Hilton merasa kesulitan mengikuti pembelajaran di sekolah serta kerap dicap malas. Usai terdiagnosis Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) ketika menginjak usia dewasa, segala hal akhirnya masuk akal baginya.

"Waktu sekolah itu benar-benar sulit, terutama karena sekeras apa pun saya berusaha atau belajar, sekolah selalu terasa berat buat saya. Hanya soal bisa fokus saja, susah," katanya, melansir Healthline.

"Saya merasa terus-menerus dihukum di sekolah, hanya karena cara kerja otak saya berbeda, dan itu berat sekali menyandang label-label yang sebenarnya tidak benar. Orang-orang cuma menganggap saya tidak berusaha keras atau malas, padahal saya kesulitan mengejar teman-teman sekelas," lanjutnya.

Diagnosis di usia dewasa jadi titik balik

 Paris mengakui bahwa diagnosis ADHD yang baru ia terima sewaktu dewasa justru memberikan rasa lega.

"Itu benar-benar melegakan (setelah didiagnosis ADHD). Saya dulu merasa tidak ada yang memahami perasaan saya. Setelah tahu (mengidap ADHD) membuat saya merasa jauh lebih tidak sendirian, dan banyak hal jadi masuk akal. Seperti masa tumbuh dewasa, perasaan saya waktu itu, dan cara saya menjalani hidup, setelah tahu semuanya, semua itu akhirnya klik buat saya," tambahnya.

Pengobatan malam hari yang mengubah rutinitas pagi 

Bagian tersulit dalam aktivitas harian Paris selama ini terletak pada pagi hari.

Semua berbalik semenjak ia mulai menempuh pengobatan menggunakan JORNAY PM, yaitu obat jenis stimulan sistem saraf pusat.

"Ini obat yang saya minum di malam hari, dan mulai bekerja 10 jam setelah saya minum, jadi begitu saya bangun pagi, saya sudah siap memulai hari, dan benar-benar bisa menata semuanya dan jadi lebih terorganisir," kata Paris.

Ia pun menyebut, terapi obat ini sangat membantunya dalam menyelaraskan peran sebagai ibu sekaligus pengusaha.

"Jadi ibu dan pebisnis sekaligus, menyeimbangkan semuanya jelas berat, tapi sekarang saya merasa sudah bisa menerapkan sistem dan alat bantu ini sehingga saya bisa benar-benar hadir sepenuhnya, karena semuanya sudah tertata dengan baik," ujarnya.

Paris menambahkan, ini menjadi kali pertama sepanjang hidupnya ia merasa gejala ADHD-nya benar-benar tertangani dengan baik. Penanganan sebelumnya, menurutnya, tidak membuahkan hasil, tetapi JORNAY PM menghadirkan perubahan besar dalam hidupnya dan menjadikannya merasa jauh lebih bahagia.

Penjelasan ahli soal pengobatan stimulan untuk ADHD 

Justin A. Barterian, PhD, seorang psikolog sekaligus profesor di Ohio State University–Wexner Medical Center, menerangkan bahwa obat kategori stimulan memang terbukti efektif mengatasi ADHD, membantu meningkatkan daya fokus, serta meredakan hiperaktivitas maupun impulsivitas.

"Orang-orang sering kali menunjukkan performa yang jauh lebih baik di sekolah atau tempat kerja ketika gejala ADHD mereka tertangani dengan baik lewat obat stimulan," kata Barterian kepada Healthline.

Berdasarkan penuturan Barterian, inovasi obat stimulan pun telah berkembang dari yang sifatnya pelepasan cepat menjadi pelepasan lambat, sehingga zat obat terlepas ke dalam aliran darah secara bertahap sepanjang hari.

"Ini memungkinkan pengelolaan gejala yang lebih konsisten sepanjang hari," ujarnya.

Kendati demikian, Barterian menegaskan bahwa obat stimulan bukanlah satu-satunya jalan keluar. Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy) serta pelatihan keterampilan fungsi eksekutif juga sanggup menghadirkan perbaikan yang berarti.

"Sementara obat stimulan meningkatkan kapasitas fokus, pelatihan keterampilan fungsi eksekutif bisa membantu pasien mempelajari strategi berbasis bukti untuk urusan organisasi, perencanaan, dan manajemen waktu," jelasnya.

"Terapi juga bisa menangani masalah yang sering muncul bersamaan dengan ADHD, seperti kecemasan dan depresi."

Melawan stigma lewat cerita personal 

Bagi Paris, mengutarakan hal seputar ADHD merupakan wujud kebanggaan tersendiri.

"ADHD memang datang bersama tantangan stigma dan keraguan diri," katanya.

"Saya benar-benar ingin menyampaikan bahwa ADHD itulah yang memberi saya kilau kreatif, dan itu sangat memengaruhi cara saya berpikir dan berinovasi dalam bisnis, cara saya membuat musik, hingga cara saya memandang dunia."

Ia berharap individu dengan kondisi ADHD yang merasa kurang dipahami atau minim dukungan bisa merasakan uluran dukungannya.

"Dan juga, jadilah terinspirasi (dan sadarilah) bahwa ibu-ibu dan orang-orang dengan ADHD bisa sukses, dan mereka termasuk beberapa pemikir paling brilian di dunia," kata Paris.

"Saya benar-benar ingin orang-orang merangkul itu, alih-alih merasa ada yang salah dengan diri mereka."

Barterian menambahkan, salah satu kekeliruan pandangan yang lazim terjadi soal ADHD adalah anggapan bahwa pengidapnya malas.

"Ini adalah gangguan yang memengaruhi motivasi dan menyebabkan hambatan yang signifikan," katanya.

"Dengan penanganan yang tepat, hambatan yang terkait ADHD bisa banyak berkurang."

Paris mengungkapkan saat masih kecil dulu ia tak memiliki panutan yang dapat dijadikan contoh untuk membahas ADHD secara terbuka.

"Jadi, bisa menjadi sosok itu untuk orang lain membuat saya merasa sangat baik di dalam hati," ujarnya.

Pesan Paris untuk yang sedang berjuang dengan ADHD

 Untuk orang-orang yang masih berjuang mengatasi gejala ADHD, pesan Paris sangat sederhana.

"Tidak ada yang salah dengan dirimu, (itu) cuma cara otakmu bekerja. (Jangan) terlalu keras pada diri sendiri dan terhubunglah dengan orang lain di komunitas ADHD, dan sekarang ada begitu banyak informasi yang tersedia."

Ia memungkas dengan harapan agar sikap terbukanya sanggup menginspirasi sesama.

"Saya berharap dengan saya membicarakan ini, itu bisa menginspirasi orang lain untuk merangkul kilau batin mereka, dan melihat bahwa itulah yang memberi mereka kreativitas dan menjadi seseorang yang berani mengambil risiko," katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index