JAKARTA - kasus dugaan keracunan massal terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi perhatian publik. Data sepekan terakhir mencatat kejadian ini dialami ratusan anak sekolah di Tana Toraja, Rembang, Nganjuk, hingga Sidoarjo.
Salah satu insiden terbesar terjadi di pesantren Sidoarjo, tempat lebih dari 500 penerima manfaat mengalami gangguan pencernaan parah usai menyantap hidangan. Peristiwa ini memicu pertanyaan mengenai alasan perbedaan tingkat keparahan gejala antar anak, meski makanan berasal dari dapur yang sama.
Guna menjelaskan fenomena ini, wawancara dilakukan bersama sejumlah pakar pada Jumat (4/9/2026), Sabtu (5/9/2026), dan Senin (7/9/2026). Penjelasan ini berfungsi sebagai edukasi publik terkait respons tubuh, bukan bentuk diagnosis medis atau penilaian atas kasus MBG yang sedang diusut aparat.
Faktor Penentu Tingkat Keparahan Keracunan Makanan pada Anak
Masuknya kuman memicu reaksi perlawanan alami saluran cerna seperti mual dan diare. Namun, kondisi internal setiap individu bervariasi dalam merespons serangan patogen.
"Karena respons setiap anak berbeda. Dipengaruhi oleh jumlah kuman atau toksin yang tertelan, jenis mikroorganisme, usia, daya tahan tubuh, kondisi nutrisi, mikrobiota usus, dan kondisi kesehatan sebelumnya," sebut spesialis penyakit dalam, dr. Wirawan Hambali, SpPD, FINASIM, Jumat.
Sebaran Kontaminant dan Porsi Makanan yang Berbeda
Banyak orangtua menganggap satu wajan masakan tercemar membagi bakteri secara merata ke setiap piring. Padahal, distribusi patogen tidak pernah terbagi presisi ke seluruh porsi.
Menurut dr. Wirawan, ketidakmerataan penyebaran ini menjadi alasan dasar perbedaan reaksi tubuh anak dari sumber makanan yang sama.
"Bahkan makanan yang sama tidak selalu mengandung jumlah kontaminan yang sama pada setiap porsinya," papar dr. Wirawan.
Volume makanan yang dikonsumsi juga berbanding lurus dengan paparan penyakit. Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., M.Kes., CHt., FISQua menyoroti aspek dosis patogen tersebut.
"Ada anak yang makannya lebih banyak dibandingkan anak yang makannya lebih sedikit. Anak A ini makan lebih banyak dibandingkan yang anak B, sehingga paparan kontaminannya jadi lebih besar," terang dr. Arifin, Senin.
Pengaruh Status Gizi dan Riwayat Kesehatan Anak
Kondisi kesehatan sebelum mengonsumsi makanan terpapar kuman turut menjadi faktor penting. Anak bertubuh lebih kecil atau berstatus gizi buruk lebih kesulitan menangkal racun dibanding yang bernutrisi cukup.
"Anak kelas 6 gejalanya ringan, kelas 1 lebih berat, ya karena memang status gizinya. Atau lebih parah lagi misalkan anaknya kurang gizi, atau memang dia secara umum punya defisiensi dari bahan-bahan mineral tertentu, misalkan defisit zinc," ucap dr. Arifin.
Spesialis anak Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Rizqi Agung Wicaksana, Sp.A, menekankan pentingnya profil medis bawaan. Adanya gangguan medis terdahulu dapat merintangi tubuh meredam invasi bakteri secara cepat.
"Keparahan bergantung dari imunitas anak, kondisi anak sebelum mulai keracunan, status gizi sebelumnya, apakah ada underlying disease, dan penanganan awal dalam mencegah dehidrasi," tutur dr. Rizqi, Sabtu.
Peran Ketahanan Mikrobiota Usus dalam Melawan Bakteri
Saluran cerna memiliki pertahanan lokal bernama mikrobiota usus. Kumpulan bakteri baik ini menekan pertumbuhan kuman penyakit, di mana keberagaman populasinya dipengaruhi gaya hidup harian seperti konsumsi probiotik dan kebersihan lingkungan.
"Usus itu kan punya penghuni ya, dan penghuninya ini sangat beragam dari tiap anak tergantung apa yang dikonsumsi, kebiasaan hidupnya, bagaimana dia menjaga kebersihan," kata dr. Arifin.
Apabila populasi mikroorganisme baik menipis akibat pola makan minim serat, bakteri jahat dari makanan kotor lebih mudah menjajah saluran cerna.
"Dengan situasi yang memang ternyata bakteri usus baiknya itu sedikit, itu biasanya akan lebih rentan untuk terjadi gejala yang lebih berat," pungkas dr. Arifin.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT