JAKARTA - Proses melatih kemandirian anak untuk buang air di kamar mandi atau toilet training selalu menghadirkan tantangan klinis maupun psikologis. Salah satu kendala yang paling banyak dikeluhkan oleh orangtua pada fase ini adalah kebiasaan anak menahan buang air besar (BAB) secara sengaja.
Hal ini perlu diwaspadai, mengingat kebiasaan menahan kotoran di dalam usus berdampak langsung pada kelancaran fungsi saluran pencernaan anak.
"Kalau ditahan terus, sembelit ya," kata spesialis anak konsultan gastrohepatologi, Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), dalam peluncuran Gut and Immunity Council (GIC) di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Kebiasaan anak menahan BAB saat toilet training
Struktur organ pencernaan memungkinkan kotoran ditahan
Tubuh manusia memiliki mekanisme kerja yang sangat berbeda ketika merespons tumpukan volume pada saluran kemih dan saluran pencernaan.
Secara biologis, anak tidak memiliki kemampuan untuk menahan buang air kecil dalam hitungan hari karena struktur kandung kemih tergolong sangat terbatas dan kaku.
"Enggak ada orang nahan pipis lalu dia enggak bisa pipis seminggu. Kenapa? Karena kandung kemih kan terbatas," jelas dr. Andy.
Kondisi anatomi tersebut berbanding terbalik dengan bagian pembuangan akhir pada organ pencernaan manusia. Dinding usus memiliki kelenturan yang memungkinkannya untuk membesar, melebar, dan memanjang guna mengakomodasi penambahan volume kotoran yang terus terjadi setiap hari.
"Bisa membesar, bisa melebar, bisa memanjang. Jadi bisa saja anak itu menahan (buang air besar)," sebut dr. Andy.
Siklus sembelit, BAB keras bikin anak trauma dan kembali menahan
Ketika anak menolak ke kamar mandi, sinyal saraf berupa rasa mulas perlahan akan mereda dan hilang sepenuhnya. Kotoran yang ditahan akan menetap di dalam usus besar dan mengalami proses penyerapan cairan secara berulang oleh organ pencernaan.
"Semakin lama (kotoran) semakin kering, dan semakin keras," papar dr. Andy.
Kondisi feses yang berubah keras dan kering akan melukai dinding mukosa dan memicu rasa nyeri akut saat anak akhirnya terpaksa buang air. Pengalaman nyeri yang membekas di memori ini otomatis mendorong anak untuk kembali menahan kotorannya pada keesokan harinya.
"BAB keras menyebabkan nyeri. Nyeri menyebabkan menahan. Menahan menyebabkan bertambah keras. Jadi muter saja," ujar dr. Andy.
Masalah kepercayaan di balik keengganan anak ke toilet
Keengganan anak untuk ke toilet meskipun sudah diresepkan obat pelunak feses berakar dari masalah krisis kepercayaan orangtua. Sikap trust issue secara psikologis bermula dari kebohongan-kebohongan skala kecil yang pernah diucapkan ayah atau ibu terkait tindakan medis pada sang anak di masa lampau.
Orangtua tanpa sadar sering mengklaim suatu obat tidak berasa pahit, atau prosedur suntikan tidak menimbulkan rasa nyeri, demi menenangkan anaknya.
"Kadang-kadang anak itu jadi trust issue. Jadi, salah satu cara untuk toilet training adalah kami harus menghilangkan trust issue," ungkap dr. Andy.
Anak yang kehilangan rasa percaya menganggap instruksi orangtua untuk masuk ke toilet sebagai klaim palsu yang akan berujung pada rasa nyeri hebat.
"Pada saat kami lembekkan (menggunakan obat), kami sudah yakin bahwa sebetulnya tuh (buang air besar) enggak sakit. Tapi dia masih nahan kadang-kadang (karena trust issue)," ucap dr. Andy.
Komunikasi transparan: Kunci memutus siklus sembelit
Perbaikan pola BAB pascakonsultasi dokter harus diiringi dengan komunikasi transparan antara orangtua dan anak. Ayah dan ibu bertugas untuk memvalidasi rasa aman pada anak saat efek obat pencahar mulai bekerja.
Orangtua wajib memastikan kelancaran prosedur dengan bertanya langsung saat buang air selesai, sehingga anak menyadari proses tersebut bebas nyeri. Menurut dr. Andy, afirmasi verbal yang jujur sangat penting dalam mengakhiri masalah sembelit, sekaligus mengatasi kebiasaan anak menahan BAB.
"Tugas kami afirmasi. 'Tadi sakit enggak?', 'Enggak', 'Berarti besok jangan ditahan ya'. Begitu-itu," terang dr. Andy.