JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun sepanjang tahun 2025. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 4,9 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat Rp 54,8 triliun.
Menurut Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, pertumbuhan laba bersih ini didorong oleh efisiensi biaya dan peningkatan pendapatan operasional yang signifikan. Secara keseluruhan, pendapatan operasional BCA mengalami kenaikan sebesar 5,4 persen, menjadi Rp 111,1 triliun.
Pertumbuhan Pendapatan Operasional yang Kuat
Sepanjang 2025, BCA berhasil mencatatkan pendapatan bunga bersih (net interest income) yang tumbuh 4,1 persen menjadi Rp 65,4 triliun.
Selain itu, pendapatan non-bunga (non-interest income) juga menunjukkan kinerja impresif dengan kenaikan 16 persen menjadi Rp 25,6 triliun.
Angka-angka ini mencerminkan kinerja positif yang diperoleh BCA dari berbagai lini usaha. Peningkatan pendapatan bunga bersih dan non-bunga tersebut menjadi salah satu pilar utama bagi pertumbuhan laba bersih yang tercatat pada 2025.
Hendra Lembong menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ini adalah rasio cost to income (CIR) yang terus membaik.
CIR yang lebih efisien berperan dalam meningkatkan margin laba, sehingga perusahaan mampu mencatatkan pertumbuhan laba yang lebih stabil meski dalam kondisi pasar yang penuh tantangan.
Penyaluran Kredit dan Dukungan kepada Ekonomi Indonesia
Salah satu kontribusi terbesar terhadap laba bersih BCA adalah pertumbuhan penyaluran kredit yang tercatat 7,7 persen, mencapai Rp 993 triliun pada 2025.
Penyaluran kredit ini meliputi berbagai sektor ekonomi, seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, hingga sektor rumah tangga.
Hendra menekankan bahwa BCA tetap berkomitmen untuk mendukung perekonomian Indonesia dengan memastikan keberlanjutan pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi ke berbagai sektor yang berpotensi.
Sebagai bagian dari strategi pengembangan kredit, BCA juga mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam penyaluran kredit usaha yang mencapai 9,9 persen atau Rp 756,5 triliun pada Desember 2025.
Sementara itu, sektor pembiayaan konsumer tetap solid, tercatat sebesar Rp 224,1 triliun. Kinerja pembiayaan konsumer yang terjaga ini didukung oleh penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp 142,3 triliun dan kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp 56,6 triliun.
Kinerja Pembiayaan Berkelanjutan dan Inovasi Digital
Sebagai respons terhadap kebutuhan pembiayaan yang lebih berkelanjutan, BCA juga menunjukkan komitmen dalam mendukung sektor-sektor yang ramah lingkungan. Pembiayaan untuk sektor berkelanjutan tercatat tumbuh 11,7 persen menjadi Rp 255 triliun pada Desember 2025, yang setara dengan 25,8 persen dari total portofolio pembiayaan BCA.
Salah satu sektor yang menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah Energi Baru Terbarukan, yang pembiayaannya meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi Rp 6,2 triliun. Selain itu, BCA juga mencatatkan pertumbuhan kredit kendaraan bermotor listrik sebesar 53 persen, mencapai Rp 3,6 triliun.
Di sisi lain, pendanaan BCA menunjukkan angka yang sangat positif dengan total dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 10,2 persen menjadi Rp 1.249 triliun.
Salah satu faktor pendukung utama adalah kenaikan dana giro dan tabungan (CASA) yang tercatat 13,1 persen, mencapai Rp 1.045 triliun. Pencapaian ini menjadi indikator penting yang menggambarkan kepercayaan nasabah terhadap BCA dalam mengelola dana mereka.
Selain itu, digitalisasi menjadi salah satu pilar penting dalam strategi BCA. Frekuensi transaksi di seluruh platform BCA meningkat sebesar 17 persen, mencapai 42 miliar transaksi pada 2025.
Bahkan, pada puncaknya, BCA berhasil memproses hampir 300 juta transaksi dalam satu hari. Kinerja luar biasa ini didukung oleh pertumbuhan transaksi melalui mobile banking dan internet banking yang meningkat 19 persen.
Digitalisasi yang terus berkembang memperkuat posisi BCA sebagai bank terdepan dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan layanan kepada nasabah.
Kualitas Kredit dan Risiko yang Terkendali
Di tengah pertumbuhan pesat, BCA juga menjaga kualitas kredit dengan sangat baik. Rasio loan at risk (LAR) berhasil membaik menjadi 4,8 persen pada 2025, dibandingkan 5,3 persen pada tahun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun volume kredit meningkat, perusahaan mampu mengelola risiko dengan hati-hati dan efisien. Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) BCA tetap terjaga rendah, hanya 1,7 persen, yang menunjukkan kualitas pembiayaan yang tetap solid.
Selain itu, pencadangan NPL dan LAR BCA juga berada pada level yang memadai, masing-masing sebesar 183,8 persen dan 71,6 persen. Hal ini menunjukkan bahwa BCA memiliki kesiapan yang baik dalam menghadapi potensi risiko yang mungkin timbul di masa mendatang.
Dengan pengelolaan risiko yang hati-hati, BCA berhasil mencatatkan kinerja yang mengesankan di tengah tantangan ekonomi global.
Dengan pencapaian yang sangat baik ini, BCA terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan layanan terbaik bagi nasabah dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Melalui keberhasilan ini, BCA menunjukkan peran pentingnya dalam menciptakan nilai tambah bagi nasabah dan masyarakat, sembari terus mengedepankan inovasi dan efisiensi dalam setiap aspek operasional.