Masih Ragu Beli Mobil Listrik? Ini Pertimbangan Sebelum Memutuskan

Sabtu, 19 September 2026 | 07:14:00 WIB

NARASIINDONESIA.ID — Keraguan konsumen Indonesia terhadap mobil listrik masih jadi tembok besar adopsi kendaraan ini. Harga baterai, jangkauan, dan infrastruktur charging jadi tiga faktor utama yang bikin calon pembeli menunda keputusan. Padahal secara hitungan jangka panjang, biaya operasional EV jauh lebih murah.

Kompas.com merangkum sejumlah alasan kenapa konsumen Indonesia belum juga berani pindah ke mobil listrik. Keraguan ini bukan tanpa dasar, mengingat harga jual EV masih jauh di atas mobil bensin sekelasnya.

Infrastruktur pengisian daya juga belum merata. Di Jabodetabek mungkin sudah lumayan, tapi begitu keluar kota, jumlah SPKLU masih terbatas.

    Harga Baterai Jadi Penghalang Utama

    Komponen baterai menyumbang porsi terbesar dari harga jual mobil listrik. Selama teknologi baterai belum turun drastis biayanya, harga EV akan tetap premium.

    Konsumen yang terbiasa beli mobil bensin Rp 200-300 juta harus merogoh kocek lebih dalam untuk EV dengan ukuran setara. Selisih harga itu sering jadi pertimbangan rasional.

    Meski begitu, biaya operasional EV jauh lebih murah. Mengisi daya di rumah hanya butuh sepertiga biaya bensin untuk jarak tempuh sama.

    Jangkauan dan Waktu Pengisian

    Klaim jangkauan pabrikan sering tidak sesuai kondisi nyata. Faktor suhu, gaya mengemudi, dan penggunaan AC memengaruhi konsumsi daya secara signifikan.

    Waktu pengisian juga jadi keluhan. Charger cepat memang bisa mengisi 80 persen dalam 30 menit, tapi jumlahnya belum banyak.

    Di rumah, pengisian semalaman pakai listrik 2.200 VA bisa memakan waktu 10-12 jam. Ini butuh perencanaan harian yang lebih disiplin dibanding mobil bensin.

    Faktor MotoGP Austria 2026

    Kompas.com juga menyoroti MotoGP Austria 2026 sebagai salah satu topik populer di kanal otomotif. Ajang balap ini jadi barometer teknologi kendaraan listrik dan hybrid yang nantinya turun ke produk massal.

    Pabrikan yang berlaga di MotoGP punya divisi riset besar untuk elektrifikasi. Teknologi baterai dan manajemen daya dari lintasan perlahan merembes ke motor dan mobil produksi.

    Bagi konsumen, ajang ini jadi indikator merek mana yang serius mengembangkan kendaraan listrik. Bukan sekadar iklan, tapi bukti investasi jangka panjang.

    Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Beli

    • Pastikan ada SPKLU di rute harian atau garasi rumah punya daya listrik memadai
    • Hitung ulang total biaya kepemilikan 5 tahun, bukan cuma harga beli
    • Cek ketersediaan jaringan servis resmi di kota Anda
    • Pertimbangkan nilai jual kembali yang masih belum stabil untuk EV

    Keputusan beli mobil listrik memang tidak bisa disamakan untuk semua orang. Yang tinggal di rumah dengan garasi dan daya listrik cukup akan merasakan manfaatnya.

    Sebaliknya, yang sering perjalanan jauh atau tinggal di apartemen tanpa charging station sebaiknya menunda dulu. Tunggu infrastruktur lebih matang.

Terkini