Trump Serang Iran, Rusia Justru Raup Untung dari Lonjakan Harga Minyak

Trump Serang Iran, Rusia Justru Raup Untung dari Lonjakan Harga Minyak

NARASIINDONESIA.IDSerangan Amerika Serikat ke Iran membawa berkah ekonomi tak terduga bagi Rusia. Lonjakan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz mengubah proyeksi defisit anggaran Moskow menjadi surplus, sementara Washington justru menanggung beban militer dan diplomatik yang membebani sekutunya.

Serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran yang dilancarkan Presiden Donald Trump membawa konsekuensi berlapis. Bagi Rusia, perang itu justru menghadirkan keuntungan ekonomi dan militer yang signifikan, menurut analisis yang beredar di kalangan pengamat kebijakan luar negeri.

Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia. Bagi ekonomi Rusia yang selama ini tertekan akibat perang berkepanjangan di Ukraina, kenaikan itu menjadi relief yang datang tepat waktu.

Dari Defisit ke Surplus: Perubahan Proyeksi Anggaran Rusia

Pada awal 2026, para ekonom memperkirakan tekanan ekonomi akan memaksa Presiden Vladimir Putin mengurangi intensitas perang di Ukraina atau serius masuk ke meja perundingan. Proyeksi itu berbalik arah setelah harga minyak melesat.

Pada Maret, tambahan pendapatan dari sektor minyak diprediksi mengubah defisit anggaran Rusia menjadi surplus. Permintaan pupuk Rusia juga melonjak setelah ekspor dari kawasan Teluk nyaris terhenti.

Washington mengambil langkah yang memperkuat posisi Moskow. Pemerintah AS memutuskan menangguhkan sanksi terhadap ekspor minyak Rusia, keputusan yang memicu kekecewaan di kalangan sekutu-sekutu Amerika di Eropa.

Arsenal Barat Terkuras di Iran, Ukraina Kehilangan Pasokan

Dampak militer dari perang AS-Iran terhadap Ukraina tak kalah besar. Dalam tiga hari pertempuran melawan Iran, lebih dari 800 pencegat anti-rudal Patriot digunakan, jumlah yang melampaui total pasokan ke Ukraina selama empat tahun perang melawan Rusia.

Konsumsi amunisi yang masif itu menguras persediaan pertahanan yang semestinya disiapkan untuk menghadapi China. Pendukung Ukraina menilai pengeluaran ini membantah klaim AS sebelumnya bahwa amunisi tidak bisa dikirim ke Kyiv karena harus dipertahankan untuk konfrontasi dengan Beijing.

Keputusan lain memperburuk situasi Ukraina. Pentagon memberitahu Kongres bahwa pihaknya berniat mengalihkan sekitar 750 juta dolar AS dana yang disediakan negara-negara NATO untuk Ukraina, dan menggunakannya mengisi kembali stok militer AS sendiri.

Menurut pandangan Washington, pengalihan itu tidak memerlukan persetujuan negara-negara Eropa yang menyediakan dana tersebut.

Moskow Beri Intelijen ke Teheran, Gedung Putih Pilih Bungkam

Rusia memiliki insentif jelas untuk menjaga Iran tetap bertempur. Moskow memperluas kerja sama intelijen dan militer untuk membantu Iran membalas aset-aset AS dan mitranya di Teluk.

Menurut laporan yang beredar, bantuan itu mencakup pemberian lokasi aset militer AS kepada pasukan Iran, termasuk kapal perang dan pesawat.

Administrasi Trump menanggapi laporan intelijennya sendiri dengan sikap acuh. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa hal itu "tidak terlalu penting" — respons yang konsisten dengan sikap Trump pada masa jabatan pertamanya, ketika ia menolak menanggapi laporan soal Rusia yang membayar Taliban untuk membunuh tentara AS di Afghanistan.

Sementara Rusia membantu Iran dengan intelijen dan informasi penargetan, Amerika Serikat justru tampak meniru cara Rusia berperang. Presiden-presiden AS yang berada dalam situasi perang, bersama bawahan mereka, secara umum memiliki kecenderungan serupa dalam mengelola konflik.

Perang yang semula ditujukan untuk melemahkan Iran justru memperkuat posisi Rusia secara ekonomi, menguras arsenal Barat, dan merenggangkan hubungan Washington dengan sekutunya. Perkembangan selanjutnya bergantung pada apakah gencatan senjata di Teluk dapat terwujud dan seberapa lama Moskow mampu memanfaatkan situasi ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index