JAKARTA - Upaya peningkatan produksi minyak nasional terus dilakukan melalui kegiatan pengeboran sumur pengembangan di berbagai wilayah kerja migas.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi sekaligus memaksimalkan potensi cadangan yang masih tersedia di lapangan minyak dalam negeri.
Salah satu perkembangan terbaru datang dari wilayah kerja Rokan yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan. Aktivitas pengeboran sumur pengembangan di area tersebut menunjukkan hasil positif setelah sumur yang baru dibor mulai menghasilkan produksi minyak.
Sumur pengembangan yang dikenal dengan nama TOPI-002 kini mulai mengalirkan minyak dengan tingkat produksi awal yang cukup signifikan.
Pencapaian ini menjadi indikasi bahwa potensi reservoir di wilayah tersebut masih dapat dioptimalkan untuk mendukung produksi migas nasional.
Pengeboran sumur pengembangan di wilayah kerja Rokan
Kegiatan pengeboran sumur pengembangan di wilayah Asset 2 kerja Rokan kembali menunjukkan hasil yang optimal. Aktivitas ini dilakukan oleh PT Pertamina Hulu Rokan sebagai operator wilayah kerja Rokan yang berada di Provinsi Riau.
Pengeboran Sumur Pengembangan TOPI-002 PT Pertamina Hulu Rokan Asset 2 yang berada di wilayah kerja Rokan telah selesai dilaksanakan. Sumur tersebut mulai ditajak pada tanggal 2 Maret 2026 sebagai bagian dari program pengembangan lapangan minyak.
Setelah proses pengeboran rampung, sumur kemudian menjalani tahapan uji produksi untuk mengetahui potensi aliran minyak dari reservoir yang menjadi target eksplorasi.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto menjelaskan bahwa uji produksi telah dilakukan pada lapisan BK2800 Lower interval 937–939 mMD.
“Kemudian telah dilakukan uji produksi Sumur TOPI-002 pada lapisan BK2800_Lower interval 937–939 mMD, dengan initial produksi sebesar 795 barel per hari,” ujar Djoko.
Hasil uji produksi tersebut menunjukkan bahwa sumur TOPI-002 memiliki potensi produksi awal yang cukup signifikan untuk mendukung peningkatan produksi minyak di wilayah kerja Rokan.
Lokasi sumur dan target reservoir pengeboran
Secara geografis, struktur Karangan yang menjadi lokasi sumur TOPI-002 berada sekitar 20 kilometer dari Kota Duri.
Wilayah ini dikenal sebagai salah satu area penting dalam kegiatan produksi minyak di Provinsi Riau, khususnya pada wilayah kerja Rokan yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu lapangan minyak terbesar di Indonesia.
Target utama pengeboran sumur tersebut adalah lapisan Bekasap, terutama pada zona BK2800 Lower yang dinilai memiliki potensi reservoir minyak yang cukup baik.
Lapisan Bekasap sendiri telah lama menjadi salah satu formasi penting dalam produksi minyak di wilayah tersebut. Oleh karena itu, pengeboran sumur pengembangan di zona ini diharapkan dapat meningkatkan produksi minyak secara berkelanjutan.
Dengan keberhasilan uji produksi awal dari sumur TOPI-002, potensi pengembangan lapangan di wilayah tersebut semakin terbuka untuk terus dioptimalkan pada masa mendatang.
Proses pengeboran dan penggunaan teknologi rig
Dari sisi teknis operasional, proses pengeboran sumur dilakukan menggunakan metode directional drilling atau pengeboran terarah. Metode ini memungkinkan pengeboran dilakukan dengan arah tertentu guna mencapai target reservoir secara lebih presisi.
Djoko menjelaskan bahwa sumur dibor secara directional dengan pola J-Type menggunakan Rig ACS#23 yang memiliki kapasitas 750 horsepower.
Proses pengeboran dilakukan hingga mencapai kedalaman akhir sebesar 1.136 mMD dalam tiga trayek pengeboran.
Seluruh rangkaian kegiatan pengeboran hingga tahap uji produksi memerlukan waktu sekitar 25 hari. Durasi tersebut sedikit lebih lama dibandingkan rencana awal yang diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar 20 hari.
Meskipun mengalami sedikit keterlambatan, seluruh proses pengeboran berhasil diselesaikan pada akhir Maret 2026 dengan hasil produksi awal yang cukup menjanjikan.
Penggunaan teknologi pengeboran terarah dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasi sekaligus memastikan sumur dapat mencapai lapisan reservoir yang menjadi target utama.
Efisiensi biaya dan rencana optimalisasi produksi
Selain capaian produksi awal, proyek pengeboran sumur TOPI-002 juga menunjukkan efisiensi dari sisi biaya operasional.
Djoko menyebutkan bahwa realisasi biaya pengeboran masih berada di bawah estimasi yang telah direncanakan sebelumnya.
“Estimasi biaya (based on field estimate) yang sudah dikeluarkan adalah sebesar US$ 935.304 atau sekitar 76% dari biaya yang direncanakan,” kata Djoko.
Efisiensi ini menunjukkan bahwa kegiatan pengeboran dapat dilaksanakan secara optimal tanpa melebihi anggaran yang telah ditetapkan dalam perencanaan proyek.
Ke depan, kegiatan operasional pada sumur tersebut akan difokuskan pada upaya optimalisasi produksi minyak.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan produksi minyak dapat berlangsung secara berkelanjutan sekaligus menjaga kondisi reservoir agar tetap stabil.
“Operasional berikutnya adalah melanjutkan uji produksi dan kemudian dialirkan dengan rate yang optimum untuk menjaga kualitas reservoir dan mencegah terproduksinya air dengan cepat,” ujarnya.
Optimalisasi laju produksi menjadi langkah penting dalam pengelolaan sumur minyak, karena pengaturan produksi yang tepat dapat memperpanjang umur reservoir sekaligus menjaga stabilitas produksi dalam jangka panjang.
Dengan keberhasilan produksi awal dari sumur TOPI-002, kegiatan pengembangan lapangan minyak di wilayah kerja Rokan diharapkan dapat terus memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi migas nasional.