Danantara Garap 26 Proyek Hilirisasi Rp225 T, Serap 37.833 Pekerja

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:40:01 WIB
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah mengeksekusi 26 proyek hilirisasi strategis nasional dengan total nilai investasi menembus Rp225 triliun. Rangkaian proyek yang terbentang dari Sumatra hingga Papua ini diproyeksikan sanggup menyerap 37.833 tenaga kerja langsung.

Danantara merealisasikan keseluruhan proyek tersebut secara bertahap sejak awal 2026 melalui dua tahapan groundbreaking, sebagai bagian dari agenda besar hilirisasi sumber daya alam nasional yang menjadi salah satu prioritas utama pemerintah.

Tahap pertama dimulai pada 6 Februari 2026 lewat peletakan batu pertama 6 proyek prioritas yang tersebar di 13 lokasi. 

Nilai investasi pada fase ini menyentuh Rp109 triliun dengan potensi penyerapan 11.456 tenaga kerja. Sejumlah proyek andalan pada tahap ini antara lain smelter alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, fasilitas bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah, serta bioetanol di Banyuwangi, Jawa Timur.

Tahap kedua menyusul pada 29 April 2026, yang mencakup 10 proyek prioritas di 13 lokasi berbeda. Nilai investasinya terbilang lebih besar, yakni mencapai Rp116 triliun, dengan potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 26.377 orang.

Dari sisi cakupan, ke-26 proyek hilirisasi ini melintasi pelbagai sektor. Di sektor pertambangan, Danantara membangun smelter aluminium, baja nirkarat, hingga tembaga. 

Di sektor energi dan bioenergi, proyek mencakup pengolahan bioavtur berbasis used cooking oil serta bioetanol berbahan baku tebu. 

Sementara pada sektor perkebunan dan komoditas unggulan daerah, proyek difokuskan pada pengolahan hasil bumi lokal agar memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi.

Sebaran lokasi proyek yang terbentang dari Sumatra hingga Papua menegaskan bahwa program hilirisasi tidak melulu terpusat di Pulau Jawa.

Dampak dari deretan proyek ini pun dinilai nyata bagi perekonomian daerah. Kehadiran smelter beserta fasilitas pengolahan di area penghasil bahan baku membuka lapangan kerja lokal secara langsung.

Di samping itu, aktivitas produksi turut menggerakkan roda ekonomi sekitar lewat efek berganda (multiplier effect), mulai dari jaringan rantai pasok bahan baku hingga sektor jasa penunjang.

Yang tidak kalah krusial, nilai tambah dari komoditas tersebut saat ini dinikmati di dalam negeri, tidak lagi diekspor dalam wujud bahan mentah sebagaimana pola lama.

COO Danantara yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menegaskan bahwa agenda hilirisasi tidak boleh berhenti sebatas pada hitungan angka investasi semata.

"Hilirisasi harus memberikan manfaat yang nyata bagi perekonomian nasional, tidak hanya dari sisi investasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat," ucapnya.

Di mata investor, deretan proyek ini menjadi sinyal kuat terkait konsistensi arah kebijakan hilirisasi yang diusung Presiden Prabowo Subianto. Pihak Danantara menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem investasi yang melibatkan BUMN dan sektor swasta secara berdampingan.

Pola ini turut membuka peluang bagi UMKM serta tenant lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok industri hilirisasi, bukannya sekadar menjadi penonton di tengah gelontoran investasi bernilai ratusan triliun rupiah.

Pada akhirnya, realisasi 26 proyek hilirisasi ini tidak sebatas dimaknai sebagai capaian investasi jangka pendek.

 Danantara memosisikannya sebagai bagian dari transformasi struktural ekonomi nasional, yang semula bertumpu pada pengiriman bahan mentah menuju tatanan ekonomi bernilai tambah tinggi.

Tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi proyek pun dijadikan indikator utama untuk mengukur keberhasilan program hilirisasi ini ke depan, sekaligus menjadi tolok ukur apakah kucuran investasi triliunan rupiah tersebut benar-benar memberikan dampak nyata.

Tags

Terkini