Transformasi ESG Mitratel: Perkuat Tata Kelola hingga Bisnis Hijau

Rabu, 12 Agustus 2026 | 00:33:01 WIB
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel konsisten mengakselerasi implementasi prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) sebagai penopang transformasi perseroan.

Langkah transformasi tersebut dieksekusi secara bertahap sejak Mitratel resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), mencakup penguatan tata kelola, pengelolaan lingkungan, aspek sosial, hingga pengintegrasian prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis utama.

Komitmen tersebut tecermin dari tren perbaikan skor ESG Risk Rating yang dirilis Morningstar Sustainalytics. Pada 2022, Mitratel tercatat berada pada kategori High Risk dengan skor 34,5.

 Setahun berselang, risiko ESG perusahaan melandai ke kategori Medium Risk dengan skor 22,4. Perusahaan kemudian menembus kategori Low Risk pada 2024 dengan skor 19,3, lalu membaik menjadi 18,8 pada 2025.

Pada 2026, ESG Risk Rating Mitratel kembali menunjukkan perbaikan ke angka 18,6 dan bertahan di kategori Low Risk. Capaian ini menempatkan Mitratel di peringkat ke-28 secara global untuk sektor telekomunikasi versi Morningstar Sustainalytics. 

Di lingkup domestik, perseroan menduduki posisi ke-12 dalam ESG Score for Listed Companies in Indonesia serta masuk dalam konstituen indeks IDX ESG Leaders.

Di samping itu, Mitratel memperkokoh standar keberlanjutan melalui adopsi ISO 26000. Hasil asesmen TÜV SÜD mengonfirmasi bahwa penerapan standar tersebut di internal perusahaan telah berada pada tingkatan tertinggi, yakni “Optimizing & Excellent”.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko menyampaikan bahwa deretan pencapaian ini merupakan buah dari kerja keras seluruh jajaran perusahaan.

“Kerja keras seluruh pihak di Mitratel untuk mencapai target risiko ESG rendah telah berbuah positif dengan adanya pengakuan secara global melalui ESG Risk Rating oleh Sustainalytics. Namun, perjalanan ESG kami tidak berhenti sampai di sini. Kami terus berkomitmen untuk semakin memprioritaskan dan mengintegrasikan prinsip prinsip keberlanjutan ke dalam operasi bisnis serta keputusan strategis kami," kata Theodorus dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8/2026).

"Dengan upaya tersebut, Mitratel diharapkan dapat lebih berdampak serta memberikan manfaat dan nilai tambah kepada lingkungan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Theodorus.

Berawal dari Penguatan Kepatuhan

Meski sukses mengamankan predikat Low Risk dalam beberapa tahun terakhir, tahapan transformasi ESG di tubuh Mitratel berlangsung secara bertahap. 

Pada fase awal, perseroan menitikberatkan pada penguatan kepatuhan melalui pemenuhan berbagai sertifikasi internasional, peningkatan efisiensi energi, penggunaan energi hijau, hingga penyusunan peta jalan keberlanjutan sebagai panduan jangka panjang.

Pondasi tata kelola lantas diperkuat lewat penerapan sistem manajemen keamanan informasi, pembaruan kode etik, penyediaan saluran pengaduan (whistleblowing), serta peningkatan kualitas transparansi informasi dan pengawasan dewan komisaris terhadap aspek ESG. 

Langkah penguatan ini berjalan seiring dengan penerapan standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) serta pemenuhan sertifikasi ISO untuk menjamin seluruh kegiatan operasional berjalan sesuai regulasi.

Di lingkungan internal, Mitratel menegaskan komitmennya dalam memberi kesempatan kerja yang setara serta mendorong terciptanya lingkungan kerja yang beragam dan inklusif.

Melangkah ke tahapan berikutnya, aspek ESG mulai diposisikan sebagai pilar strategi bisnis. Mitratel memperkuat sistem manajemen lingkungan, menjalankan praktik anti-penyuapan, meningkatkan keterbukaan tata kelola, hingga berhasil masuk dalam indeks SRI-KEHATI sebagai bentuk apresiasi atas komitmen bisnis berkelanjutan.

ESG Mulai Masuk ke Produk Bisnis

Penerapan ESG di Mitratel tidak lagi sekadar berfokus pada kepatuhan aturan. Pada tahun ini, perseroan mulai merilis jajaran solusi bisnis yang berorientasi pada agenda keberlanjutan.

Beberapa di antaranya yakni layanan Power as a Service (PaaS) dan Green Tower as a Service (GTaaS). 

Layanan PaaS dirancang guna membantu efisiensi penggunaan energi para pelanggan. Sementara itu, GTaaS merupakan terobosan pengembangan infrastruktur menara telekomunikasi berbasis energi hijau agar lebih ramah lingkungan.

Ke depan, perseroan membidik untuk mempertahankan predikat Low Risk sekaligus memperluas jangkauan dampak ESG terhadap operasional bisnis, selaras dengan arah strategis Danantara Indonesia maupun TelkomGroup.

Manajemen MTEL menjelaskan, penguatan ESG bakal dijalankan lewat penyusunan peta jalan menuju Net Zero 2060 melalui inisiatif Climate Transition Plan

Selain itu, perseroan akan memperbesar alokasi investasi berbasis keberlanjutan, mengoptimalkan teknologi digital berbasis Internet of Things (IoT), serta memperkuat program tanggung jawab sosial perusahaan.

Bisa Jadi Keunggulan Kompetitif

Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi menilai rekam jejak ESG Mitratel membuktikan bahwa aspek keberlanjutan kini telah bertransformasi dari kewajiban kepatuhan menjadi salah satu pendorong daya saing perseroan. 

Menurutnya, konsistensi perbaikan ESG Risk Rating selama tiga tahun berturut-turut mencerminkan komitmen yang nyata.

“Perbaikan ESG Risk Rating dalam kurun waktu tiga tahun merupakan pencapaian yang menunjukkan adanya konsistensi implementasi, bukan sekadar inisiatif jangka pendek. Hal ini berpotensi memperkuat persepsi investor terhadap kualitas tata kelola dan keberlanjutan bisnis MTEL,” tutur Yosua.

Ia menambahkan, kedudukan Mitratel sebagai emiten dengan ESG Risk Rating terbaik di industri menara telekomunikasi Indonesia memberikan nilai tambah tersendiri di tengah naiknya perhatian investor global terhadap faktor ESG.

“Investor kini semakin mempertimbangkan kualitas ESG sebagai bagian dari penilaian risiko jangka panjang. Emiten yang mampu menunjukkan perbaikan secara konsisten umumnya memiliki daya tarik lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada kinerja finansial,” katanya.

Di samping membentuk reputasi positif di mata investor, penerapan ESG juga diyakini memberikan dampak riil pada efisiensi operasional. 

Penghematan konsumsi energi, pemanfaatan sistem digital, dan penguatan tata kelola dinilai efektif membantu perseroan menjaga tingkat profitabilitas sekaligus meningkatkan ketahanan bisnis di tengah dinamika industri telekomunikasi.

Tags

Terkini