Didepak dari MSCI, GoTo Sebut Alasan Teknis Bukan Faktor Kinerja

Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:13:32 WIB
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memberikan tanggapan atas keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengeluarkan perseroan dari MSCI Global Standard Indexes, merujuk pada hasil peninjauan MSCI Equity Indexes August 2026 Index Review, Kamis (13/8/2026).

Head of Corporate Affairs GOTO, Audrey Petriny, menyampaikan bahwa keputusan MSCI sepenuhnya berlandaskan alasan teknis, menyusul pergerakan harga saham GOTO yang menyentuh level terendah yakni Rp50. 

Kondisi ini turut diiringi oleh rendahnya volume transaksi perdagangan. Meski demikian, terdepaknya GOTO dari indeks acuan provider global tersebut bukan dipicu oleh perburukan kinerja keuangan perseroan.

“Keputusan ini murni bersifat teknis, menyusul harga saham GoTo yang berada di level terendah Rp 50 dan diikuti dengan volume perdagangan yang rendah dan tidak disebabkan oleh kinerja perseroan,” ujar Audrey lewat keterangan pers, Kamis.

GOTO meraup laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp607,48 miliar pada semester I-2026. Capaian ini berbalik dari kondisi rugi bersih sebesar Rp580,01 miliar pada rentang waktu yang sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/7/2026), pemulihan kinerja ini disokong oleh pertumbuhan pendapatan pada seluruh lini bisnis perseroan. 

Throughout Januari hingga Juni 2026, GOTO mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp10,99 triliun. Angka ini melonjak 28,4 persen jika disandingkan dengan perolehan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,56 triliun.

Penyumbang terbesar tetap bersumber dari segmen jasa pengiriman. Pendapatan dari lini bisnis ini menyentuh Rp3,2 triliun atau naik 16,5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Penerimaan dari imbalan jasa tercatat mencapai Rp3,15 triliun, tumbuh 14,9 persen (yoy).

Penerimaan dari e-commerce service fee PT Tokopedia juga memperlihatkan kenaikan. Sepanjang semester I-2026, pos ini memberikan kontribusi Rp551 miliar, menanjak 32,3 persen dibanding masa yang sama tahun lalu.

Penerimaan dari sektor iklan menyentuh Rp254 miliar atau tumbuh 8 persen. Sementara pos pendapatan lainnya tercatat senilai Rp1,13 triliun. Angka tersebut melesat 46,5 persen dibanding semester I-2025.

Pertumbuhan pendapatan tersebut berimbas positif pada perbaikan profitabilitas perseroan. GOTO mencetak laba usaha senilai Rp781,88 miliar. Realisasi ini berbalik dari posisi rugi usaha sebesar Rp171,60 miliar pada semester I-2025.

Dari aspek neraca keuangan, akumulasi aset GOTO mencapai Rp47,48 triliun per 30 Juni 2026, meningkat dibanding posisi pada akhir 2025. Pada kurun waktu setara, total liabilitas dan ekuitas masing-masing berada pada angka Rp47,48 triliun, sejalan dengan total aset perseroan.

“Kinerja kami di kuartal II-2026 justru mencatatkan laba bersih dua kuartal berturut-turut, dengan laba bersih mencapai Rp 252 miliar dan pendapatan bersih sebesar Rp 5,7 triliun,” papar Audrey.

“EBITDA Grup yang disesuaikan juga meningkat hingga menembus angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya dan tetap on-track untuk mencapai pedoman kinerja tahunan kami dengan EBITDA Grup yang disesuaikan Rp 3,2-3,4 triliun,” lanjut dia.

Keputusan peninjauan indeks ini dilakukan secara berkala dan pihak GOTO akan terus menjaga komunikasi aktif dengan MSCI. Perseroan juga tetap berfokus menggerakkan bisnis demi menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham.

“Kami memperhatikan keputusan MSCI terkait eksklusi GoTo dari indeks sahamnya, dan kami menyadari bahwa ini merupakan kabar yang kurang menyenangkan bagi banyak pemegang saham kami,” pungkasnya.

Tags

Terkini