Bisnis Tol dan EV Dongkrak Pendapatan BNBR Semester I/2026

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:45:32 WIB
Direktur Utama & CEO BNBR, Anindya Bakrie, serta Direktur Keuangan BNBR, Roy Hendrajanto M. Sakti [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) mencatatkan lompatan kinerja operasional sepanjang semester I/2026 yang didukung oleh pertumbuhan pendapatan dari seluruh lini bisnis utama perseroan.

 Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, emiten grup Bakrie ini mengantongi pendapatan bersih sebesar Rp2,59 triliun. Capaian tersebut naik 45,84% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,77 triliun. 

Seiring kenaikan topline, laba usaha BNBR melesat 283,21% year on year (YoY) menjadi Rp301,53 miliar dari sebelumnya Rp78,68 miliar. Adapun EBITDA perseroan terkerek 230,93% YoY menjadi Rp423,04 miliar.

Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie menyatakan pertumbuhan kinerja operasional di tengah ketidakpastian ekonomi global tecermin dari eksekusi strategi dan adaptabilitas lini usaha perseroan.

“Hal ini menjadi bukti bahwa strategi, adaptabilitas, serta kerja keras seluruh tim mulai memperlihatkan hasil,” ujarnya dikutip Sabtu (29/8/2026).

Secara terperinci, pendapatan PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 256,1% YoY menjadi Rp626,78 miliar, didorong konsolidasi penuh PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

Selanjutnya, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) Group menyumbang pendapatan Rp646,61 miliar atau naik 56,2% YoY berkat peningkatan penjualan kendaraan listrik (EV) serta suku cadang.

 Sementara itu, PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group meraup pendapatan Rp1,3 triliun, tumbuh 10,2% YoY.

Wakil Direktur Utama & Co-CEO BNBR A. Ardiansyah Bakrie menambahkan bahwa perbaikan struktur permodalan perseroan juga diperkuat oleh penuntasan aksi korporasi di pasar modal.

“Perseroan telah menyelesaikan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu [rights issue] pada akhir Juli 2026 dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp4,76 triliun,” ungkap Ardi.

Di sisi lain, meski kinerja operasional melaju kencang, BNBR menghadapi tantangan pada pos laba bersih akibat faktor beban keuangan eksternal. 

Sampai dengan semester I/2026, perseroan tercatat membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp224,81 miliar.

“Penurunan laba bersih yang terutama disebabkan oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT, khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi,” pungkas Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti.

Tags

Terkini