Merger BUMN Karya Genjot Pemulihan Kinerja Emiten Konstruksi

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:11:31 WIB
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria. (Foto: NET)

JAKARTA — Proses konsolidasi perusahaan konstruksi pelat merah atau BUMN Karya terus menunjukkan progres. Saat ini, Danantara Indonesia bersama Badan Pengelola (BP) BUMN terus mempercepat agenda pemulihan kinerja sektor konstruksi pelat merah yang mulai menampakkan tren positif.

Baru-baru ini, Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menyampaikan bahwa persoalan di sektor BUMN Karya menjadi salah satu agenda prioritas yang segera dituntaskan. 

Penuntasan penyehatan di PT Pos Indonesia (Persero), Dana Pensiun (Dapen), serta BUMN Karya diperkirakan memiliki nilai koreksi pembukuan hingga pelepasan rugi mencapai Rp100 triliun. 

Melalui langkah tersebut, proses restrukturisasi mewajibkan penyesuaian laporan keuangan lewat mekanisme penurunan nilai aset (impairment) hingga pelepasan aset merugi atau cut loss. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari pembenahan tahap awal yang sebelumnya telah menata neraca senilai Rp135 triliun.

“Ke depannya mungkin akan ada lagi sekitar Rp100 triliun untuk menyelesaikan ini. Namun, harapannya tidak sampai segitu. Koreksi, impairment, cut loss dan lain sebagainya terpaksa harus dilakukan,” ujar Dony Oskaria.

Sebelumnya, Dony juga telah mengadakan pertemuan bersama jajaran direksi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) serta PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) guna memetakan kondisi riil finansial kedua emiten tersebut. 

Dalam arahannya kepada manajemen WIKA, Dony menegaskan pentingnya menyusun laporan keuangan secara objektif dan akurat yang mencerminkan kondisi fundamental perseroan tanpa rekayasa pembukuan.

“Kami yang realistis saja, tidak mau akal-akalan. Kami ingin tahu dulu riilnya berapa yang harus diperbaiki. Hal-hal yang khayalan kami coret,” ucapnya.

Selain itu, Dony menjelaskan bahwa upaya pembenahan WIKA turut difokuskan pada optimalisasi aset yang bisa didivestasi demi menurunkan beban utang serta memperbaiki struktur modal. Melalui strategi ini, restrukturisasi diharapkan mampu memperkuat ruang gerak fundamental perseroan ke depan.

Sementara itu, untuk PTPP, Danantara mendorong agar transformasi dan aksi korporasi dijalankan tuntas tanpa penundaan. 

Dony menekankan bahwa langkah merger akan didahulukan sebelum tahap restrukturisasi lanjutan dimulai. Proses penggabungan ini bakal diawali dengan pembenahan kondisi keuangan PTPP secara menyeluruh. 

Penyesuaian serta koreksi laporan keuangan diperlukan guna memastikan posisi perusahaan terlihat transparan. Setelah proses merger rampung, penataan dilanjutkan melalui restrukturisasi agar PTPP mempunyai struktur bisnis yang lebih fokus serta optimal pada lini utama.

“PTPP diharapkan dapat memiliki struktur perusahaan yang lebih efisien dan fokus, sehingga mampu mengoptimalkan potensi bisnis inti serta meningkatkan kinerja perusahaan ke depan,” pungkas Dony.

Berdasarkan laporan finansial per 30 Juni 2026, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) memimpin pertumbuhan kinerja di antara rekan sejenis setelah mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp193,47 miliar, melesat 196,51% secara year on year (YoY). 

Kinerja positif juga dibukukan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) dengan perolehan laba bersih senilai Rp8,49 miliar atau tumbuh 12,60% YoY pada semester I/2026. 

Di sisi lain, dua emiten karya yang fokus pada restrukturisasi finansial, yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), berhasil menekan angka kerugian.

WSKT membukukan rugi bersih Rp1,91 triliun pada semester I/2026, membaik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,30 triliun. Sementara itu, WIKA melakukan efisiensi operasional dengan menekan rugi bersih menjadi Rp1,48 triliun dari sebelumnya Rp1,66 triliun. 

Penurunan rugi WIKA didukung kenaikan pendapatan bersih sebesar 7,19% YoY menjadi Rp6,27 triliun serta lonjakan laba kotor 87,56% YoY menjadi Rp886,33 miliar. Di samping itu, manajemen WIKA melaporkan penurunan total utang sebesar Rp2,15 triliun dari kuartal II/2025 hingga kuartal II/2026.

Selepas restrukturisasi keuangan tahap pertama pada Februari 2024, WIKA telah melunasi kewajiban kepada kreditur perbankan serta pemegang surat utang senilai Rp4,17 triliun. 

Dari total tersebut, pelunasan sebesar Rp915,83 miliar terealisasi sepanjang kuartal II/2025 sampai kuartal II/2026. Pada saat bersamaan, perseroan juga memangkas utang kepada mitra kerja sebesar Rp5,02 triliun pascarestrukturisasi tahap awal. 

Dari jumlah itu, sebesar Rp1,23 triliun telah diselesaikan pada rentang kuartal II/2025 hingga kuartal II/2026, menyisakan utang usaha perseroan pada level Rp4,32 triliun.

Tags

Terkini