Telkom Kebut Proyek Data Center di Cikarang dan Batam

Senin, 07 September 2026 | 02:52:02 WIB
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) terus mempercepat ekspansi bisnis data center lewat penambahan kapasitas di beberapa titik, termasuk Cikarang, Jawa Barat dan Batam. Langkah tersebut diambil guna merespons lonjakan permintaan infrastruktur digital.

Di Cikarang, Telkom mematok target kapasitas data center tahap pertama mencapai 21,5 megawatt (MW). Sementara itu, kapasitas tahap pertama di Batam ditargetkan menyentuh 18 MW pada 2027.

Direktur Enterprise & Business Service Telkom, Veranita Yosephine, menyampaikan bahwa bisnis data center merupakan salah satu area pertumbuhan strategis bagi Telkom Group.

“Bisnis data center merupakan salah satu area pertumbuhan strategis Telkom Group, dengan posisi yang kuat di Indonesia dan peluang untuk berkembang secara regional,” ujar Veranita saat public Expose 2026 digelar secara daring, Senin (7/9/2026).

Veranita mengungkapkan permintaan terhadap fasilitas hyperscale Telkom masih tergolong kuat. Pusat data Telkom di Cikarang saat ini memiliki kapasitas efektif 15,5 MW dengan tingkat okupansi mencapai 96 persen. Kapasitas data center Cikarang bahkan telah fully leased, termasuk untuk ruang yang masih dalam tahap pengembangan.

“Cikarang data center memiliki kapasitas efektif 15,5 MW dengan okupansi 96 persen. Dan secara keseluruhan telah fully leased termasuk kapasitas yang masih dalam pengembangan,” paparnya.

Demi memenuhi tingginya permintaan, Telkom akan konsisten menambah kapasitas data center Cikarang. Tahap pertama ditargetkan mencapai 21,5 MW, sedangkan pembangunan tahap kedua direncanakan mulai bergulir pada 2027.

“Kedepannya kami terus menambah kapasitas secara disiplin, Cikarang tahap satu akan mencapai 21,5 MW, sementara tahap dua direncanakan mulai pada 2027,” pungkas dia.

Selain Cikarang, emiten BUMN ini turut menyiapkan pengembangan data center di Batam. Batam Data Center memiliki kapasitas awal 6 MW dan diproyeksikan beroperasi pada semester II-2026.

 Selanjutnya, kapasitas tahap pertama Batam ditargetkan mencapai 18 MW pada 2027. Perseroan juga mencatat Singapore Data Center memiliki tingkat okupansi sebesar 90 persen.

Veranita memastikan Telkom tak hanya bergantung pada pertumbuhan organik untuk memperluas bisnis data center. Perseroan terus mengkaji peluang kemitraan strategis (strategic partnership) demi mengakselerasi pertumbuhan bisnis sekaligus mengoptimalkan nilai dari platform data center Telkom Group.

“Selain pertumbuhan organik, kami juga terus mengevaluasi peluang strategic partnership untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus membuka nilai dari platform data center Telkom Group,” kata Veranita.

Pada semester I-2026, pendapatan Telkom Data Ecosystem mencapai Rp 867 miliar, atau tumbuh 11 persen secara tahunan (year on year/yoy) serta naik 17 persen dibanding kuartal sebelumnya. 

Dari aspek kapasitas, total kapasitas efektif data center Telkom Group saat ini berada di angka 49,9 MW. Pelanggan Telkom Data Ecosystem mencakup global cloud providers, lembaga keuangan, perusahaan teknologi, hingga konsumen enterprise.

Lebih lanjut, TLKM mencatatkan kenaikan kinerja keuangan pada semester I-2026. Pendapatan konsolidasi Telkom Group tumbuh 3,9 persen secara tahunan menjadi Rp 75,9 triliun.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra, menjelaskan pertumbuhan pendapatan terutama didorong oleh optimalisasi monetisasi bisnis selular serta peningkatan di sejumlah sektor infrastruktur.

 Telkomsel masih memegang peranan sebagai kontributor utama pendapatan perseroan. Pada semester I-2026, pendapatan Telkomsel tumbuh 3,3 persen menjadi Rp 55,6 triliun.

“Pendapatan konsolidasi tumbuh 3,9 persen secara tahunan menjadi Rp 75,9 triliun. Hal ini didukung terutama oleh perbaikan monetisasi bisnis selular serta pertumbuhan pada sejumlah bisnis infrastruktur. Telkomsel tetap menjadi kontributor utama dengan pendapatan tumbuh 3,3 persen menjadi Rp 55,6 triliun,” ucap Arthur.

Peningkatan monetisasi dan peneraparan disiplin biaya turut memperkuat kinerja Telkomsel. EBITDA Telkomsel tumbuh 8,6 persen, sementara margin EBITDA terangkat 230 basis poin menjadi 46,9 persen.

Di segmen B2B infrastruktur, gross revenue tumbuh 19 persen menjadi Rp 33,1 triliun. Pertumbuhan tersebut disokong oleh bisnis menara telekomunikasi dan data center. 

Dari sisi utilisasi aset, tenancy ratio pada bisnis tower meningkat menjadi 1,57 kali. Sementara itu, tingkat okupansi data center menyentuh 88 persen, memperlihatkan utilisasi aset infrastruktur Telkom yang makin optimal.

“Tenancy ratio di business tower meningkat menjadi 1,57 kali, sementara okupansi data center mencapai 88 persen yang mencerminkan utilisasi aset yang semakin baik,” pungkas dia.

Di sisi lain, kinerja segmen B2B ICT masih berada dalam tekanan. Pendapatan segmen ini tercatat sebesar Rp 8,8 triliun, atau turun 5,4 persen secara tahunan. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh proses streamlining sejumlah anak perusahaan serta penurunan belanja pemerintah.

Meski demikian, beberapa area prioritas tetap mampu mencatatkan pertumbuhan. Pendapatan SMI tumbuh 11,5 persen, sementara jumlah pelanggan IndiBiz naik 11,7 persen menjadi 756.000 pelanggan.

Selanjutnya, bisnis internasional Telkom membukukan pendapatan Rp 6,3 triliun, di mana sekitar 91 persen dari angka tersebut berasal dari pelanggan eksternal.

Arthur memastikan Telkom terus memperbesar porsi pada bisnis konektivitas bernilai lebih tinggi, termasuk kabel laut internasional, sembari mengurangi porsi bisnis international voice secara bertahap.

Langkah strategis tersebut mulai menampakkan hasil. Pendapatan external connectivity tumbuh 18 persen, sedangkan kapasitas jaringan internasional yang terpakai naik 25 persen. Pendapatan layanan International Private Leased Circuit (IPLC) juga tumbuh melebihi 41 persen.

Sejalan dengan arah strategi tersebut, Telkom menaikkan alokasi belanja modal atau capital expenditure (CAPEX) untuk sektor bisnis internasional.

“Fokus kami adalah mengoptimalkan infrastruktur, meningkatkan kualitas portfolio enterprise, dan memperbesar kontribusi konektivitas internasional yang bernilai tinggi,” lanjut Arthur.

Mengacu pada pencapaian semester I-2026, Telkom mempertahankan panduan kinerja atau guidance perseroan untuk sepanjang 2026. Pada semester I-2026, pertumbuhan pendapatan tercatat 3,9 persen. 

Hasil tersebut dinilai sebagai landasan awal yang baik guna meraih target pertumbuhan normalized revenue sebesar 1 persen hingga 3 persen hingga akhir tahun.

Margin EBITDA pada semester I-2026 berada di angka 49,4 persen, sedikit di bawah target perseroan di atas 50 persen. Namun, Telkom mencatat tren positif pada kuartal II-2026, di mana margin EBITDA pada kuartal tersebut merambat naik hingga melampaui 50 persen.

“Kami akan terus menjaga disiplin biaya dan kualitas pertumbuhan untuk mendukung pencapaian target sepanjang tahun 2026,” ungkap dia.

Dari sudut pandang investasi, rasio CAPEX terhadap pendapatan tercatat sebesar 14,2 persen pada semester I-2026. Mempertimbangkan rencana investasi semester II-2026, termasuk untuk spektrum, Telkom tetap mempertahankan target rasio CAPEX terhadap pendapatan sepanjang tahun di rentang 17 persen hingga 19 persen.

Telkom menyatakan bakal tetap disiplin memproses eksekusi investasi sekaligus cermat memantau berbagai risiko eksternal, termasuk dinamika geopolitik yang berpeluang memengaruhi biaya input.

Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Tags

Terkini