Laba dan Pendapatan Melesat, Timah Siapkan Revisi RKAP 2026

Kamis, 10 September 2026 | 02:24:02 WIB
PT Timah Tbk [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Timah Tbk (TINS) merancang revisi Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) pada 2026 menyusul melesatnya capaian kinerja keuangan sepanjang semester I/2026.

Perolehan pendapatan perseroan melambung hingga Rp10,4 triliun alias melesat 147% secara tahunan, sementara capaian laba bersih melonjak hingga 805% menyentuh Rp2,7 triliun.

Direktur Keuangan TINS Fina Eliani mengutarakan bahwa realisasi pendapatan hingga Juni 2026 itu telah mencakup kisaran 67% dari porsi target yang dicanangkan dalam RKAP 2026.

Menurut Fina, perolehan yang melampaui ekspektasi target tersebut mendorong jajaran manajemen untuk mematangkan perumusan RKAP perubahan.

“Saat ini perseroan sedang menyusun RKAP perubahan dikarenakan dari sisi variabel dan pencapaian kinerja sudah jauh lebih tinggi dibandingkan yang telah disetujui oleh pemegang saham sebelumnya,” ujarnya dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026).

Performa operasional yang solid turut tecermin dari pencapaian EBITDA yang menembus Rp3,9 triliun. Total tersebut melesat 363% ketimbang kurun waktu serupa pada tahun sebelumnya, bahkan telah melewati kuota target EBITDA dalam RKAP 2026 untuk periode satu tahun penuh.

Menilik dari sisi neraca, total aset Timah pada penutupan semester I/2026 mencapai Rp16,4 triliun, atau menguat 21% dibandingkan posisi akhir 2025.

Pertumbuhan aset dominan disokong oleh penebalan kas dan setara kas. Saldo kas merangkak naik dari posisi Rp1,7 triliun di akhir 2025 menjadi kisaran Rp4 triliun per Juni 2026.

Di sisi lain, liabilitas turut merangkak naik 13% menjadi Rp5,9 triliun.

Fina memaparkan bahwa lonjakan ini utamanya dipicu oleh pembukuan pos kewajiban dividen merujuk pada keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) per 12 Juni 2026. Tanggungan dividen tersebut lantas telah dituntaskan pembayarannya oleh perseroan pada Juli 2026.

Seirama dengan penguatan aset dan liabilitas, perolehan ekuitas Timah terangkat menjadi Rp10,5 triliun pada penutupan semester I/2026.

Sinyal positif performa kas juga terlihat dari arus kas operasional yang mencatatkan angka positif senilai Rp3,3 triliun, atau melaju 608% yoy.

Pada kurun waktu yang sama, perseroan sukses menekan portofolio utang berbunga sekitar Rp500 miliar menjadi Rp1,78 triliun dari estimasi posisi akhir 2025.

Kenaikan Biaya Operasional

Walau raihan kinerja keuangan terbilang kokoh, Timah memproyeksikan beban biaya tunai atau cash cost bakal merangkak naik hingga penghujung 2026.

Fina membeberkan bahwa cash cost pada semester I/2026 berada di kisaran US$22.435 per metrik ton. Menuju penutupan tahun, besaran tersebut diperkirakan tereskalasi menjadi rentang US$23.000-US$24.000 per metrik ton.

Eskalasi tersebut dominan dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang berimbas langsung pada alokasi biaya pengadaan bahan baku, material, serta suku cadang (spare parts).

“Namun meskipun dari sisi cash cost mengalami kenaikan, dari sisi margin dapat tetap terjaga karena dari sisi harga kenaikannya jauh lebih tinggi,” jelas Fina.

Mengenai belanja modal atau capital expenditure (capex), Timah mengalokasikan alokasi dana sekitar Rp446 miliar pada 2026. Sekitar 50% dari dana tersebut dialokasikan bagi operasional produksi dan eksplorasi, sedangkan sisanya ditujukan untuk ekspansi investasi non-rutin.

Tags

Terkini