JAKARTA — PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) mengintensifkan pengembangan armada kapal ramah lingkungan melalui modernisasi, digitalisasi, serta inovasi teknologi untuk menggenjot daya saing sekaligus menopang industri maritim nasional yang berkelanjutan.
"Ke depan, kami akan perkuat modernisasi, digitalisasi serta green supporting vessel. Ini adalah masa depan PTK,” ujar Direktur Utama PTK Harris Abdi Sembiring Meliala dalam keterangan tekonfirmasi di Jakarta, Minggu (13/9/2026).
Harris menekankan poin tersebut saat gelaran syukuran HUT ke-57 PTK di Kantor PTK Jakarta. Harris menyampaikan bahwa sepanjang 57 tahun berkiprah, pihak perusahaan telah tumbuh menjadi penyedia jasa kemaritiman yang terintegrasi.
"Semakin melangkah, kami akan perkuat operational excellence dengan modernisasi, digitalisasi dan kapal penunjang ramah lingkungan (green supporting vessel)," ujarnya.
Dipaparkan bahwa PTK didirikan pada tahun 1969 sebagai Anak Usaha PT Pertamina (Persero) menggunakan nama PT Pertamina Tongkang yang bergerak di bidang jasa kapal pandu tunda.
Hingga memasuki tahun 1991, perseroan membangun beberapa anak usaha untuk memperluas dukungan layanan maritim.
"Pada tahun 2011, nama PT Pertamina Tongkang berubah menjadi PT Pertamina Trans Kontinental," ujarnya.
Hingga saat ini, sambung Harris, ekspansi bisnis perusahaan telah terintegrasi pada layanan penunjang kemaritiman, mencakup penyediaan serta operasional armada kapal penunjang (support vessel), operasional pelabuhan (port operation), layanan maritim (marine service), dan pangkalan logistik pesisir (shorebase) di bermacam wilayah strategis tanah air.
Harris menuturkan era armada kapal ramah lingkungan di PTK diawali pada tahun 2019, melalui pengoperasian Transko Rajawali yang menjadi kapal tunda (harbour tug) berbahan bakar ganda (dual-fuel) perdana di Indonesia.
"Berukuran panjang 34 meter, kapal ini menggunakan bahan bakar solar dan liquefaction natural gas (LNG), sehingga lebih ramah lingkungan dan rendah emisi," bebernya.
PTK turut memperluas pemanfaatan bahan bakar hijau pada armada penunjang lainnya, seperti utility boat dan crew boat. Salah satu wujudnya, pada 11 Juni 2026, PTK sukses merealisasikan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada Kapal Oil Barge (OB) Patra 2303.
Terobosan hijau tersebut diklaim sanggup menekan emisi hingga 79,2 ton CO2 per tahun, sekaligus memangkas ketergantungan armada logistik laut terhadap konsumsi bahan bakar diesel (solar).
Selain memperbanyak penggunaan panel surya, PTK juga menyiapkan agenda uji coba Battery Management System (BMS) pada kapal mulai tahun 2027 sebagai bagian dari pengembangan teknologi pendukung green shipping.
Harris menambahkan, saat ini pihak perseroan mengoperasikan 370 kapal milik serta menyewa sekitar 82 unit kapal lain. PTK berencana menambah armada kapal baru sebagai langkah peremajaan dan modernisasi, termasuk bagi kapal eksisting demi terus mendongkrak kapasitas operasional, sekaligus menghadirkan layanan excellence bagi para pelanggan.
Harris menegaskan pula bahwasanya pihak perusahaan terus menjaga mutu pelayanan melalui peremajaan serta modernisasi aset-asetnya.
Langkah tersebut diselaraskan dengan digitalisasi operasional, di mana saat ini PTK telah mengintegrasikan 21 digitalisasi pada seluruh fungsi kerja.
"Ke depan, aplikasi ini akan meningkat menjadi Artificial Intelligence (AI) sehingga dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan,” jelas Harris.
Harris berharap, serangkaian rencana tersebut memperoleh dukungan dari seluruh pihak—mencakup pemegang saham, manajemen, perwira pekerja PTK, hingga pemangku kepentingan terkait—guna menyokong agenda tersebut.
"Tidak hanya untuk memajukan PTK untuk terus berkembang, maju dan unggul, namun mendorong industri maritim Indonesia yang berkelanjutan," kata Harris.