Menkeu AS Klaim Isolasi Ekonomi Iran Terbesar, Sanksi Baru Berlaku 23 September

Rabu, 16 September 2026 | 16:17:00 WIB

NARASIINDONESIA.ID — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan Washington menjalankan kampanye isolasi ekonomi terbesar yang pernah dilancarkan terhadap Iran dan pihak-pihak yang mendukungnya. Ia mengklaim gelombang penindakan baru terhadap entitas yang memfasilitasi perdagangan Iran akan mulai terasa pada 23 September. Pernyataan itu disampaikan Bessent dalam sidang tahunan Komite Jasa Keuangan DPR AS di Washington, Selasa.

Bessent menuturkan kekuatan ekonomi Amerika Serikat menjadi dasar bagi Washington untuk menekan Teheran dari posisi yang kuat. Ia menilai pemerintahan Presiden Donald Trump mengambil langkah terhadap Iran yang sebelumnya tertunda di era pemerintahan-pemerintahan terdahulu.

"Kekuatan ekonomi kita memungkinkan Amerika Serikat menjalankan kampanye isolasi ekonomi terbesar dalam sejarah terhadap Republik Islam Iran dan pihak-pihak yang mendukungnya," kata Bessent dalam pernyataan pembuka di hadapan komite tersebut.

Sidang tahunan itu digelar bersama Menteri Keuangan untuk membahas kondisi sistem keuangan internasional. Dalam forum yang sama, Bessent memaparkan sejumlah indikator yang ia klaim menunjukkan tekanan terhadap perekonomian Iran.

Klaim Kondisi Ekonomi Iran dan Antrean Bensin

Bessent menyebut ekonomi Iran berada dalam kondisi yang sangat buruk. Ia merujuk pada kejatuhan mata uang, inflasi yang melonjak, dan antrean panjang warga untuk mendapatkan bahan bakar.

"Kita telah melihat mata uang jatuh, inflasi melonjak tinggi," ujarnya. Menurut Bessent, warga Iran harus mengantre bensin selama tiga hingga empat jam karena negara itu mesti mengimpor bahan bakar.

Ia mengaitkan tekanan tersebut dengan kombinasi blokade AS terhadap Iran dan Operasi Economic Outcast, kampanye Departemen Keuangan AS yang diluncurkan pada Agustus. Operasi itu menyasar jaringan keuangan Iran dan entitas yang dituduh membantu Teheran menghindari sanksi AS.

Operasi Economic Outcast dan Pemetaan Jaringan Pembayaran

Departemen Keuangan AS meluncurkan Operasi Economic Outcast pada 24 Agustus. Tujuannya memutus saluran keuangan yang dipakai Iran untuk menjual minyak, menghindari sanksi, dan menghasilkan pendapatan.

"Operasi Economic Outcast dimungkinkan karena blokade tersebut," kata Bessent. Ia menambahkan Departemen Keuangan telah berbulan-bulan memetakan simpul-simpul dalam jaringan pembayaran yang digunakan Iran.

Washington, lanjut Bessent, akan memperketat penegakan terhadap entitas yang dituduh memfasilitasi perdagangan Iran dan membantu Teheran menghindari sanksi. Langkah-langkah terhadap pihak-pihak tersebut, menurut dia, akan mulai terasa dampaknya pada 23 September dan diberlakukan sepenuhnya setelahnya.

"Kami tahu, bagi kalian yang memungkinkan rezim tersebut beroperasi, kalian tahu siapa kalian, kami tahu siapa kalian," kata Bessent. Ia menegaskan Departemen Keuangan akan memakai kewenangan sanksinya dengan sangat tegas.

Sanksi ke Bank Mesir di Dubai dan Pembicaraan dengan China

Bessent mengatakan Uni Emirat Arab telah mengumumkan langkah untuk mengurangi transaksi keuangan dan perdagangan dengan Iran. Ia juga menyebut Departemen Keuangan telah menjatuhkan sanksi terhadap cabang sebuah bank Mesir di Dubai yang mentransfer lebih dari 1,8 miliar dolar AS ke Iran sejak 2025.

Soal China, Bessent mengaku telah melakukan sejumlah pembicaraan tertutup yang berjalan baik. Ia menambahkan pembicaraan tersebut diperkirakan berlanjut saat bertemu Wakil Menteri Keuangan China Liao Min akhir pekan ini dan selama rencana kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping pada musim semi.

Pernyataan Bessent menegaskan arah kebijakan tekanan Washington terhadap Teheran yang tidak hanya menyasar Iran secara langsung, tetapi juga pihak ketiga yang dinilai memfasilitasi perdagangan dan transaksi keuangannya. Tenggat 23 September menjadi penanda fase penegakan yang lebih ketat bagi entitas yang masih bertransaksi dengan Iran.

Terkini